Headlines
Loading...

Oleh: Naila Dhofarina Noor
(Guru dan Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Bulan November terasa begitu dingin. Mendung, hujan, petir, bahkan banjir terjadi di beberapa titik di wilayah negeri ini. Ternyata, cuaca ini juga dirasakan oleh saudara kita di Gaza, Palestina. Badai banjir telah menerjang tenda-tenda pengungsian mereka.

Kedinginan dan kelaparan yang saudara kita rasakan semakin mencekam di bawah hunian yang sobek-sobek dan tak jarang roboh. United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA), yang merupakan badan PBB untuk pengungsi Palestina, telah memberitakan terkait kondisi ini (antaranews.com, 15/11/2015).

Saat ini, Gaza berada di bawah tekanan rendah yang disertai massa udara dingin dan hujan lebat, sehingga memperparah penderitaan 1,5 juta warga sipil yang mengungsi. Banyak warga sekeluarga di Jalur Gaza yang terpaksa mencari tenda-tenda darurat, khususnya di Al-Mawasi, Kota Khan Younis, Gaza Selatan.

Dalam kondisi seperti ini, pihak Israel masih tega melakukan pemblokiran masuknya material perlindungan untuk pembuatan tenda dan hunian yang dibuat di mobil. Sungguh, Israel telah mengingkari kesepakatan dalam perjanjian gencatan senjata yang dimulai pada 10 Oktober 2025. Sejak masa gencatan senjata itu, Israel telah menewaskan 260 warga dan lebih dari 630 warga mengalami luka-luka.

Teringat ayat tentang sifat ingkar janjinya dalam Surah Al-Baqarah ayat 83.

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ

Artinya: (Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat. Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.

Selain memblokir, Israel juga meletakkan balok-balok beton bercat kuning yang dinamai yellow line. Balok itu sebagai tanda garis penempatan ulang militer Israel dengan menempatkan drone dan tank.

Menurut peta militer Israel, garis ini membentang 1,5 hingga 6,5 kilometer ke dalam wilayah Gaza mencakup sekitar 47 persen dari wilayah itu. Dari garis itu, area timur berada di bawah pengawasan militer Israel dan area barat, yang lebih sedikit, adalah area warga Palestina. Tentara Israel hanya berjarak beberapa ratus meter dari area barat itu. Buldoser Israel yang merobohkan rumah dan meratakan ladang sering terdengar.

Gencatan Senjata Bukan Solusi

Gencatan senjata adalah ilusi perdamaian yang membuat warga dunia menilai usainya genosida di Gaza. Nyatanya, krisis di sana dari hari ke hari semakin memburuk. Gaza masih tidak baik-baik saja. Zionis Israel dengan karakter ingkar janjinya telah menorehkan prestasi kekejaman yang tidak bisa diterima oleh hati yang masih memiliki rasa kemanusiaan.

AS sebagai ibu bagi Zionis Israel mengendalikan Gaza dengan begitu ambisius. Dilansir dari laman bbc.com, 30/09/2025, salah satu dari 20 butir proposal perdamaian yang diajukan Trump adalah tentang pembangunan yang dikoordinasi langsung oleh AS. Trump bersiap membentuk dewan perdamaian yang terdiri dari dirinya dan tokoh lain, di dalamnya adalah mantan Perdana Menteri Tony Blair. Badan tersebut akan mengatur kerangka kerja dan pendanaan pembangunan Gaza. Lalu akan dibentuk pemerintahan transisi di sana yang berisi warga Palestina yang tentu sejalan dengan ambisi AS karena berada di bawah pengawasan dewan perdamaian itu sendiri.

Jelas sekali, solusi dari Barat tidak akan pernah memberikan celah sedikit pun bagi Gaza untuk bebas dari penjajahan. Tidak ada perdamaian yang sejatinya mereka kibarkan. Adanya justru gempuran yang terus dilancarkan hingga benar-benar wilayah Gaza dan Palestina jatuh ke tangan penjajah.

Solusi Islam untuk Gaza

Pemimpin negeri muslim adalah pihak yang harusnya merasa paling terpanggil untuk menyelesaikan permasalahan Gaza ini. Islam harus menjadi pegangan mereka dalam mengambil setiap keputusan karena dampaknya luar biasa besar dan mengena ke banyak aspek. Jika pemimpin negeri muslim memiliki akidah yang lurus dan komitmen memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara sempurna, selamatlah seluruh rakyatnya bahkan umat dunia.

Pemimpin negeri muslim harus mengingat terus hadis ini agar setiap sikapnya selalu berada pada jalan Islam dan selamat dari pihak-pihak yang hendak menjauhkannya dari apa yang diridai Allah.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumā, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
"Ketahuilah, setiap dari kalian adalah seorang pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin orang banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari Muslim)

Pemimpin negeri muslim dalam kondisi Gaza yang begitu kritis saat ini perlu untuk bersatu padu merembukkan kembali penyatuan wilayah negeri muslim. Sebagaimana dahulu 1.400 tahun lalu telah terjadi penyatuan itu dalam bentuk negara Khilafah, maka urgensi saat ini adalah menegakkan kembali Khilafah yang menjadi perisai (junnah) untuk mengakhiri setiap bentuk penjajahan.

Dengan Khilafah, umat Islam akan menjadi kuat dan ditakuti oleh para musuhnya, yaitu para penjajah yang begitu keji telah merenggut kehidupan manusia. Inilah yang tidak ada saat ini. Oleh karenanya, solusi hakiki Palestina adalah dengan menegakkan Khilafah, yang harus terus diserukan dan digencarkan lewat dakwah Islam yang ideologis.

Khilafah adalah bagian dari syariat Islam yang terus diperbincangkan di dunia. Sayangnya, di negeri muslim timur seperti Asia Tenggara seakan dijauhkan dari gaung syariat Islam ini. Banyak dari kaum muslim di sini yang masih tidak mengetahui secara detail dan bahkan sama sekali tidak mendengar karena disibukkan oleh konten-konten media sosial yang melenakan serta kesibukan duniawi yang terus dimainkan para kapitalis.

Umat Islam harus bangkit. Umat Islam butuh terus menghidupkan pemikirannya agar tidak terus-terusan dalam tipu daya negara penjajah. Pemahaman umat tentang duduk perkara Palestina dan solusi hakiki Khilafah hanya bisa disampaikan dengan dakwah yang berkarakter ideologis. Dakwah ideologis menjadikan umat memiliki gambaran Islam yang utuh dalam menyelesaikan seluruh permasalahan baik individu, masyarakat, maupun negara. Islam memiliki solusi untuk semuanya, termasuk solusi hakiki bagi permasalahan di Gaza, Palestina.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS Ali Imran: 104) 

[My]


Baca juga:

0 Comments: