Headlines
Loading...

Oleh. Desi Ummu Idris
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Guru adalah sebutan bagi sosok yang seharusnya patut digugu dan ditiru. Namun, kondisi guru di Indonesia saat ini berada dalam dilema antara bersikap tegas atau takut. Bagaimana tidak takut? Jika sesekali mencoba menegur murid yang melanggar kedisiplinan dengan cara tegas, justru bisa dilaporkan sebagai bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM. Jika dibiarkan pun akan salah juga, sebab guru dianggap tidak mampu memberikan ketegasan kepada muridnya.

Serba salah! Begitulah dilema guru di Indonesia. Dengan berbagai tantangan perubahan kurikulum, rendahnya gaji, dan kurangnya penghormatan, guru masih juga harus menanggung beban ketakutan akan ancaman pelanggaran hukum.

Fenomena ini makin terasa setelah beberapa waktu lalu terjadi kasus di Banten, ketika seorang kepala sekolah sempat dilaporkan ke pihak berwajib karena menegur siswanya yang melanggar aturan kedisiplinan (Kompas.com, 20/10/2025). 

Wibawa guru runtuh dalam sistem kapitalis saat ini. Sudahlah lelah mendidik anak-anak di dalam kelas, mereka masih harus beradaptasi dengan kurikulum yang kerap berubah. Nominal gaji pun tak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi ketakutan berujung di kepolisian jika salah bersikap tegas di sekolah.

Betapa malangnya nasib sebagian guru di Indonesia. Imbalan yang diterima tak seimbang dengan risiko besar yang harus dihadapi. Apabila uang telah menjadi ukuran, maka sulit berbicara tentang adab antara murid dan gurunya.

Hal ini berbeda jauh dengan masa tegaknya Daulah Islam beberapa abad lalu. Gaji guru saat itu bahkan sangat tinggi sehingga kesejahteraannya terjamin. Mereka tidak perlu pusing memikirkan pekerjaan sampingan yang justru mengganggu fokus dalam mendidik murid secara maksimal. Selain itu, peran guru juga sangat dihargai karena keilmuannya. Kedudukannya begitu mulia di mata umat manusia. Tidak ada dilema antara bersikap tegas atau membiarkan ketidakdisiplinan, baik di sekolah maupun di luar tempat belajar. Sebab, para murid pun memahami bahwa adab kepada guru sangat utama demi keberkahan ilmu yang diperoleh.

Siapa yang tak rindu dengan sistem yang menyejahterakan guru? Kerinduan ini tampaknya telah membuncah, terlebih ketika menyaksikan fenomena menyayat hati tentang nasib para guru saat ini.

Semoga peristiwa di Banten menjadi yang terakhir, sekaligus menjadi alarm atas hilangnya moral pelajar dan urgensi penerapan peraturan yang mampu melindungi serta memuliakan guru. Sejauh ini hanya ada satu sistem yang mampu mengubah paradigma masyarakat terhadap guru, yaitu penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah. [Hz]


Baca juga:

0 Comments: