Headlines
Loading...

Oleh: Rina Herlina
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com — Situasi di Sudan kian genting. Setelah sebelumnya bergema “All Eyes on Rafah”, kini media sosial dipenuhi hastag “All Eyes on Sudan”. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa genosida tidak hanya terjadi di Gaza, tetapi juga di Sudan. Dunia internasional harus mengecam aksi keji tersebut karena ia bukan sekadar konflik lokal, melainkan krisis kemanusiaan global. Dengan perebutan wilayah strategis dan jatuhnya kota-kota penting ke tangan milisi, risiko pembantaian massal dan penderitaan warga sipil semakin meningkat.

Menurut data terbaru yang dirilis Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), kurang lebih 2.000 warga sipil tewas akibat serangan Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Sudan Doctors Network memperkirakan korban mencapai 1.500 orang. Bukti video yang disiarkan media internasional seperti Al Jazeera dan citra satelit Humanitarian Research Lab Yale menunjukkan adanya eksekusi massal dan pemakaman massal yang menimbulkan keprihatinan luas (antaranews.com, 31-10-2025).

Konflik antara SAF dan RSF sejak April 2023 telah menyebabkan jumlah korban jiwa yang besar serta gelombang pengungsi. Kelaparan akut juga melanda sebagian besar penduduk. Diperkirakan lebih dari 24 juta orang terdampak situasi kelaparan, menjadikannya salah satu bencana kemanusiaan terbesar di dunia saat ini.

Konflik Sudan diduga melibatkan banyak negara, di antaranya Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Rusia, dan Amerika Serikat. Uni Emirat Arab kuat diduga menjadi penyuplai senjata bagi RSF, sementara Arab Saudi diyakini mendukung Abdel Fattah Al Burhan dari SAF. Campur tangan Amerika Serikat terlihat jelas melalui upaya mempercepat rencana memisahkan wilayah Darfur dari Sudan, sebagaimana sebelumnya dilakukan saat memisahkan Sudan Selatan.

Partisipasi Amerika dalam konflik ini dikhawatirkan akan memperburuk keadaan, sebagaimana terjadi pada Palestina. Bahkan penasihat Presiden Amerika Serikat, Mas’ad Paulos, menyebut situasi kemanusiaan di Sudan sebagai bencana kemanusiaan terbesar di dunia, khususnya di Al-Fasyir, meskipun pernyataan tersebut tidak disertai tindakan nyata untuk menghentikannya.

Penduduk Sudan adalah saudara seiman. Rasulullah Saw. bersabda, “Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dalam kesulitan” (HR Bukhari dan Muslim).

 Umat Islam wajib menunjukkan solidaritas dan persatuan di bawah satu kepemimpinan yang dapat melindungi dan membela kehormatan umat. Tanpa persatuan, umat akan terus terpecah dan lemah. Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS Ali Imran: 103).

 Rasulullah Saw. juga bersabda, “Umat Islam itu bagaikan satu tubuh; jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu dan meninggalkan perbedaan serta kepentingan pribadi. Dengan persatuan, akan hadir kekuatan untuk menolong saudara-saudara kita di Sudan. Semoga Allah Swt. memberikan kekuatan dan kesabaran kepada mereka, serta membukakan jalan terbaik bagi pertolongan dan kemenangan. Wallahualam.

Tasikmalaya, 20 November 2025

[Rn]

Baca juga:

0 Comments: