Headlines
Loading...
Sistem Pendidikan Kapitalisme Gagal Mencetak Generasi Islami

Sistem Pendidikan Kapitalisme Gagal Mencetak Generasi Islami

Oleh: Imas Sunengsih, S.E., M.E.

(Aktivis dan Intelektual Muslim)

SSCQMedia.Com — Dunia pendidikan kembali disorot. Pasalnya, Kepala Sekolah SMA Negeri di Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, akan dinonaktifkan karena menampar siswa yang merokok di lingkungan sekolah. Kasus ini menyeret dunia pendidikan pada potret buram yang kian mengkhawatirkan. Kini, pendidik atau guru kerap kali disalahkan oleh pihak orang tua maupun murid yang tidak terima ketika ditegur.

Sebagaimana dilansir dari DetikNews.com, telah viral berita mengenai Kepala Sekolah SMA Negeri di Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, yang menampar muridnya saat ketahuan merokok di lingkungan sekolah. Kejadian tersebut berbuntut panjang karena memicu protes keras dari para siswa hingga kepala sekolah itu terancam dinonaktifkan (15/10/2025).

Pelarangan merokok di lingkungan sekolah sebenarnya telah diatur secara tegas dalam Permendikbud Nomor 64 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah. Dalam aturan tersebut dinyatakan bahwa sekolah merupakan kawasan tanpa rokok. Artinya, tidak boleh ada aktivitas merokok, menjual, memproduksi, ataupun mempromosikan rokok di lingkungan sekolah. Sekolah wajib melarangnya, dan seluruh warga sekolah—baik siswa, guru, maupun staf—harus mematuhi peraturan tersebut.

Dalam dunia kesehatan, merokok terbukti dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Salah satu bahan dalam rokok, yaitu nikotin, dapat menimbulkan kecanduan dan berisiko menyebabkan kemandulan. Walaupun peringatan bahaya merokok sudah banyak disebarluaskan, produksi rokok tetap meningkat. Konsumsinya pun menyasar berbagai kalangan, termasuk generasi muda dan para pelajar.

Pendidikan kita hari ini tampak belum mampu mencetak generasi yang unggul, bahkan cenderung amburadul. Akhlak dan adab kepada guru seakan hilang. Sikap hormat terhadap guru menjadi hal yang langka di kalangan pelajar masa kini. Guru sering dijadikan bahan olok-olokan dan kerap disalahkan, padahal merekalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Kondisi ini tidak terlepas dari asas sekularisme dalam sistem pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, generasi yang dihasilkan menjadi generasi tanpa akhlak dan tanpa kepribadian Islam. Kapitalisasi pendidikan turut memperparah keadaan. Dunia pendidikan dikomersialisasikan, sehingga yang mampu membayar mahal akan mendapat fasilitas terbaik, sementara yang tidak mampu harus puas dengan pendidikan seadanya. Potret buram pendidikan ala sistem kapitalisme ini sungguh gagal menciptakan manusia yang beradab.

Pendidikan Islam

Pendidikan Islam yang berlandaskan akidah Islam akan membentuk kurikulum yang bertujuan mencetak generasi unggul dan islami. Kepribadian Islam tercermin dari pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan Islam.

Menilik sejarah, ketika sistem Islam kaffah diterapkan, lahirlah generasi unggul yang melahirkan banyak karya agung. Di antaranya, Al-Khawarizmi dengan penemuan aljabar, angka nol, dan algoritma; Ibnu Sina dengan The Canon of Medicine yang menjadi rujukan medis dunia; Ibnu al-Haitham sebagai pelopor optik dan penemu prinsip kamera obscura melalui karyanya Kitab Al-Manadhir; serta Jabir bin Hayyan, yang dikenal sebagai Bapak Kimia Islam melalui risalahnya tentang kimia dan klasifikasi racun.

Masih banyak ilmuwan Islam lainnya yang lahir dari sistem Islam kaffah. Mereka memiliki keimanan dan ketakwaan yang kokoh, serta berakhlak dan beradab mulia. Generasi unggul seperti itu hanya bisa diciptakan oleh sistem Islam kaffah yang diterapkan secara menyeluruh oleh negara. Sebaliknya, jika kita berharap pada sistem kapitalistik, mustahil melahirkan generasi islami. Yang lahir justru generasi lemah iman, rendah akhlak, dan kehilangan adab.

Karena itu, sangat urgen untuk segera menerapkan sistem Islam kaffah dalam institusi Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Inilah tugas mulia seorang muslim untuk diperjuangkan hingga akhir hayat. Rasulullah saw. bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang di pagi hari beriman, namun di sore hari menjadi kafir. Ada pula yang sore hari beriman, namun di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim No. 118)

Sistem Islam kaffah akan menghadirkan kehidupan yang berkah dan bermanfaat bagi seluruh manusia. Sudah seharusnya umat Islam meyakini bahwa sistem ini adalah solusi hakiki bagi berbagai problem kehidupan, termasuk di bidang pendidikan.

Mari kita perjuangkan sistem Islam kaffah dengan segenap kemampuan dan potensi yang kita miliki agar Allah Swt. meneguhkan kedudukan kita sebagai orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Muhammad ayat 7:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Dengan demikian, potret gagalnya dunia pendidikan hari ini merupakan cerminan dari sistem kapitalisme yang rusak. Kerusakan demi kerusakan akan terus berlanjut selama sistem ini masih menjadi pengatur kehidupan. Karena itu, mari segera menggantinya dengan sistem Islam kaffah sebagai solusi cerdas bagi umat.

Wallahualam bissawab. []

Baca juga:

0 Comments: