Medsos Liberal dan Fenomena Lonely in The Crowd
Oleh: Mufidah Huda
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengungkap fenomena “Lonely in the Crowd” yang dialami oleh Gen Z sebagai dampak dari konsumsi konten TikTok secara intensif. Meski aktif di media sosial dan terlihat terhubung secara digital, banyak anak muda merasa kesepian dan kehilangan koneksi emosional yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Konten TikTok yang bersifat hiperrealitas, menampilkan kehidupan yang tampak sempurna dan ideal, mendorong pengguna untuk membandingkan diri mereka dengan influencer atau figur viral. Hal ini memicu tekanan mental, kecemasan, dan penurunan rasa percaya diri. Ekspektasi untuk tampil menarik, produktif, dan relevan di dunia maya menciptakan beban psikologis yang tidak sebanding dengan kenyataan hidup mereka (UMY.ac.id, 14/08/2025).
Riset mengenai dampak konten media sosial terhadap mental Gen Z menunjukkan bahwa representasi digital dalam era hiperrealitas sering kali dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Dalam konteks ini, emosi yang dibentuk oleh media tidak hanya memengaruhi persepsi, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial.
Fenomena “kesepian di tengah keramaian” menjadi gejala yang kian menguat, ketika hiruk-pikuk kehidupan digital menyeret penggunanya menjauh dari interaksi nyata. Ironisnya, Gen Z yang seharusnya produktif dan adaptif justru disebut sebagai kelompok yang paling merasa kesepian, dihantui rasa insecure, dan rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Ini bukan semata persoalan kurangnya literasi digital atau manajemen gawai, melainkan gejala yang lahir dari sistem besar yang mengatur ritme kehidupan manusia.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Ada sistem besar di baliknya, yakni industri kapitalis-liberal yang menjadikan perhatian dan waktu manusia sebagai komoditas ekonomi. Arus konten di media sosial terus dideraskan oleh kepentingan industri, menciptakan ilusi koneksi sosial yang semu dan memicu dampak buruk seperti sikap asocial. Ramah di layar tidak selalu berarti hangat di dunia nyata.
Masyarakat semakin sulit bergaul secara langsung, bahkan hubungan dalam keluarga pun terasa renggang dan hampa. Sikap asocial dan perasaan kesepian yang terus dibiarkan akan merugikan umat secara kolektif. Generasi muda yang seharusnya menjadi motor perubahan dan penghasil karya produktif justru terjebak dalam isolasi emosional, kehilangan arah, serta tidak mampu merespons persoalan umat dengan empati dan daya juang.
Penggunaan media sosial perlu diatur secara bijak. Bermedsos boleh-boleh saja, tetapi tidak boleh berlebihan hingga menyedot proporsi waktu yang seharusnya digunakan untuk membangun koneksi nyata dan kontribusi sosial. Masyarakat harus menyadari bahwa pengaruh media digital yang tidak dikelola secara kritis akan menjadikan banyak orang makin asosial dan kesepian, yang pada akhirnya melemahkan solidaritas umat.
Sudah saatnya masyarakat peduli terhadap keselamatan diri dan generasi, dengan menjadikan Islam sebagai identitas utama sekaligus kebanggaan yang ditonjolkan. Islam harus menjadi pegangan kokoh dalam berpikir dan bertindak agar umat tidak terus menjadi korban sistem sekuler-liberal yang merusak struktur sosial dan spiritual.
Lebih dari itu, negara tidak boleh abai. Negara harus berperan aktif dalam mengendalikan pemanfaatan dunia digital melalui regulasi berbasis syariah yang melindungi akhlak dan kesejahteraan umat.
Dalam kerangka politik Islam, khususnya sistem Khilafah, negara wajib menyediakan ruang produktif bagi generasi muda, membuka akses pendidikan dan pekerjaan yang bermakna, serta mendorong mereka untuk berkontribusi dalam menyelesaikan problem umat.
Dengan demikian, generasi yang semula terjebak dalam kesepian digital dapat dibangkitkan menjadi generasi kuat, sadar peran, dan siap menjadi pelopor perubahan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam. [US]
Baca juga:
0 Comments: