Oleh: Aqila F
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Ketiadaan sosok ayah atau kondisi fatherless memiliki dampak yang kompleks terhadap tumbuh kembang anak. Sebagaimana diungkap dalam survei terhadap 16 psikolog klinis di berbagai kota di Indonesia, anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung mengalami rasa minder, emosi yang labil, kenakalan remaja, kesulitan berinteraksi sosial, dan penurunan motivasi akademik. Bahkan, data menunjukkan adanya korelasi kuat antara jumlah anak fatherless dan keterlibatan dalam masalah hukum, seperti kasus Madi (18) yang terlibat pencurian bersama kakaknya.
Ketidakhadiran ayah juga berpengaruh terhadap prestasi belajar. Anak yang tidak tinggal bersama orang tua lebih berisiko tinggal kelas. Meski demikian, beberapa individu mampu menjadikan ketiadaan ayah sebagai sumber kekuatan dan pembentukan karakter, seperti Aulia yang tumbuh mandiri meski jarang bertemu ayahnya, serta Danardono yang mencari figur panutan melalui buku dan komik hingga membentuk prinsip hidup yang membuatnya bertanggung jawab dan berhati-hati dalam bertindak.
Di media sosial, sentimen terhadap sosok ayah beragam, dengan emosi senang dan sedih mendominasi. Sementara itu, konten bertema fatherless lebih banyak bernada netral, diikuti oleh nada negatif dan positif (Kompas.id, 10/10/2025).
Fenomena fatherless atau ketiadaan sosok ayah dalam kehidupan anak bukan sekadar persoalan individual, melainkan cerminan dari sistem sosial yang lebih luas. Di banyak keluarga, kondisi ini sering kali bukan disebabkan oleh ketidakhadiran fisik semata, melainkan absennya peran ayah sebagai pendidik dan pembentuk karakter. Banyak ayah tersita oleh tuntutan ekonomi dan pekerjaan yang menyita waktu, sehingga kehadiran mereka dalam kehidupan anak terbatas pada fungsi finansial. Ini merupakan konsekuensi dari sistem hidup kapitalistik yang menempatkan pencarian nafkah sebagai prioritas utama, sering kali dengan mengorbankan waktu kebersamaan dan keterlibatan emosional dalam pengasuhan.
Dalam konteks ini, fungsi qawwam yang seharusnya melekat pada sosok ayah — sebagai pemimpin, pelindung, dan pemberi rasa aman — mengalami degradasi. Ayah tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga untuk hadir secara psikologis dan spiritual dalam kehidupan anak. Ketika fungsi ini hilang, anak kehilangan figur yang seharusnya menjadi teladan, tempat berlindung, dan sumber nilai.
Islam memandang peran ayah dan ibu sebagai dua pilar utama dalam pembentukan keluarga yang sehat dan seimbang. Ayah tidak hanya bertugas sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik dan teladan moral, sebagaimana dicontohkan dalam kisah Lukman yang memberikan nasihat bijak kepada anaknya. Sementara itu, ibu memiliki peran penting dalam pengasuhan, menyusui, mendidik, dan mengelola rumah tangga. Keduanya saling melengkapi, dan ketidakhadiran salah satu peran akan menciptakan ketimpangan dalam proses tumbuh kembang anak.
Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab untuk mendukung peran ayah agar dapat dijalankan secara optimal. Hal ini dilakukan dengan menyediakan lapangan kerja yang layak, menjamin kehidupan yang stabil, dan menciptakan sistem sosial yang memungkinkan ayah memiliki waktu berkualitas bersama anak-anaknya. Dengan jaminan ini, ayah tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional dan spiritual.
Lebih jauh, Islam juga menjamin keberadaan figur ayah melalui sistem perwalian yang kokoh. Dalam situasi ketika ayah biologis tidak dapat menjalankan perannya, sistem ini memastikan bahwa anak tetap memiliki figur laki-laki yang dapat menjadi panutan, pelindung, dan pembimbing. Ini bukan sekadar solusi administratif, melainkan bagian dari visi Islam tentang pentingnya kehadiran laki-laki dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan anak.
Dengan demikian, Islam tidak hanya mengakui pentingnya peran ayah, tetapi juga menyediakan struktur sosial dan spiritual untuk menjamin bahwa peran tersebut tetap ada dan berfungsi. Dalam dunia yang semakin kompleks dan menuntut, narasi ini menjadi pengingat bahwa kehadiran ayah bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal nilai, tanggung jawab, dan cinta yang membentuk generasi masa depan. [US]
Baca juga:
0 Comments: