Headlines
Loading...

Oleh: Ummu Fahhala, S.Pd.
(Kontributor SSCQMedia)

SSCQMedia.Com — Aroma harapan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menghadirkan senyum di wajah para pelajar. Namun, di balik cita rasa yang dijanjikan, tersimpan kisah pahit yang mencoreng semangat mulia tersebut.

Alih-alih memberi tenaga untuk belajar, sejumlah anak justru harus berjuang menahan perih di perut dan rasa mual yang tak tertahankan. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa setiap niat baik yang tidak disertai pengawasan ketat bisa berubah menjadi ancaman bagi generasi penerus bangsa.

Sebanyak 4.000 siswa telah menjadi korban keracunan setelah menyantap sajian makan bergizi dalam delapan bulan terakhir. Data ini didasarkan pada catatan Institute for Development of Economics and Finance (Indef). (Tempo.co, 18/09/2025).

Fakta ini menampar kesadaran kita: apakah keselamatan rakyat benar-benar menjadi prioritas? Sejak awal, MBG digadang-gadang sebagai solusi stunting dan gizi buruk. Namun kasus keracunan justru menunjukkan lemahnya pengawasan.

Ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia, Prof. Bambang Wiseno, pernah menekankan pentingnya standar keamanan pangan dalam setiap program gizi pemerintah. Ia mengingatkan, distribusi makanan massal tanpa kontrol ketat hanya akan menambah masalah baru (Kompas, 2024). Fakta hari ini seakan menguatkan peringatan itu.

Program MBG tampak lebih menonjol sebagai proyek populis ketimbang solusi substansial. Sejak awal, pemerintah sibuk mengejar target angka dan memperluas dapur umum, sementara standar kualitas pangan luput dari perhatian.

Negara hanya berperan sebagai fasilitator dengan kontrol yang minim. Dalam kerangka kapitalisme, negara lebih sering tunduk pada kepentingan bisnis ketimbang berdiri sebagai pengurus rakyat.

Ironisnya, di tengah tragedi keracunan, pemerintah justru melontarkan ide untuk mengasuransikan MBG. Bahkan, Kadin melihat peluang industrialisasi pangan dari dapur umum MBG. Artinya, program ini makin beraroma bisnis. Negara kian berjarak dari tugas utamanya: mengawasi, menjamin, dan melindungi rakyat.

Dalam sistem kapitalis, pelayanan publik memang rentan berubah menjadi komoditas. Maka tidak heran, keselamatan rakyat pun bisa tersisih demi keuntungan segelintir orang.

Solusi Islam yang Hakiki

Islam menolak model pelayanan publik yang berbau bisnis. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Negara dalam Islam wajib hadir penuh sebagai penjamin kebutuhan dasar rakyat: pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Bukan sekadar fasilitator, apalagi penyalur proyek yang sarat kepentingan kapital.

Pada masa Khilafah Utsmaniyah, berdiri imaret (dapur umum wakaf) yang membagikan makanan bergizi gratis bagi siapa pun yang membutuhkan. Sejarah mencatat, dari abad ke-14 hingga ke-19, imaret menjadi bukti konkret bagaimana Islam menjamin pemenuhan gizi masyarakat tanpa melibatkan kepentingan industri pangan.

Islam tidak berhenti pada konsep, tetapi menghadirkan mekanisme nyata. Negara wajib menjamin distribusi pangan secara merata, mencegah penimbunan, serta menetapkan harga yang adil agar rakyat mudah mengakses makanan bergizi.

Rasulullah saw. sendiri pernah mengatur pasar agar bebas dari monopoli dan kecurangan. Pada masa Umar bin Khattab, Baitul Mal digunakan untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan kebutuhan pokok tanpa terkecuali.

Dengan sistem ini, rakyat tidak dipaksa bergantung pada program populis yang rawan gagal. Sebaliknya, negara berdiri tegak sebagai pelindung rakyat, memastikan setiap anak tumbuh sehat, kuat, dan siap menjadi generasi penerus peradaban mulia.

Kualitas generasi tidak akan lahir dari program tambal sulam yang penuh masalah. Ia hanya akan terwujud bila negara menutup akar persoalan, yakni kemiskinan dan kesenjangan akibat sistem kapitalisme.

Islam memberikan jalan terang. Baitul Mal sebagai institusi fiskal memastikan anggaran negara tersalurkan langsung untuk rakyat. Kepemilikan umum seperti energi, tambang, dan air dikelola negara, hasilnya dikembalikan kepada rakyat.

Dengan mekanisme ini, rakyat bisa hidup layak, anak-anak terjamin gizinya, dan generasi tumbuh sehat. Inilah solusi sejati. Islam bukan hanya memberi makan, tetapi juga mengangkat derajat manusia dengan keadilan dan kemuliaan.

Wallahualam bissawab. [US]

Baca juga:

0 Comments: