Kesepian Massal di Era Digital: Cermin Gagalnya Sistem Liberal
Oleh: Istiana Ayu S. R
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Hampir semua orang sekarang memiliki media sosial. Dari bangun tidur sampai hendak tidur kembali, jempol kita nyaris tak berhenti menggeser layar.
Sekilas, media sosial membuat dunia terasa kecil. Semua bisa terhubung hanya dengan satu klik. Namun ironisnya, banyak orang justru merasa kesepian di tengah keramaian dunia maya. Fenomena ini dikenal dengan istilah lonely in the crowd, sepi di tengah ramai.
Data mendukung hal tersebut. Riset dari American Journal of Preventive Medicine menemukan bahwa pengguna media sosial aktif justru dua kali lebih berpotensi merasa kesepian dibanding mereka yang jarang menggunakan media sosial (Primack et al., 6 Maret 2017).
Di Indonesia, laporan We Are Social mencatat ada 185 juta pengguna aktif media sosial, sekitar 65% dari populasi (We Are Social, 31 Januari 2025).
Namun, Kementerian Kesehatan RI melaporkan peningkatan kasus depresi, kecemasan, hingga bunuh diri di kalangan remaja (Kemenkes RI, 15 Mei 2024). Artinya, meskipun dunia digital kita ramai, hati banyak orang tetap terasa kosong.
Mengapa bisa begitu? Karena media sosial saat ini berkembang dalam sistem sekuler-liberal. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan dan menuhankan kebebasan tanpa batas.
Akibatnya, penggunaan media sosial lebih banyak diarahkan pada kesenangan sesaat dan pencitraan. Orang berlomba-lomba memamerkan gaya hidup, wajah cantik hasil filter, dan pencapaian palsu demi validasi.
Pertemanan pun menjadi transaksional. Hubungan diukur dari likes, views, atau followers, bukan dari ketulusan.
Anak muda akhirnya mengalami krisis identitas karena terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Moral pun makin rusak karena pornografi, ujaran kebencian, dan hoaks bebas tersebar atas nama kebebasan berekspresi.
Akhirnya, orang makin sulit menemukan ketenangan. Ada banyak “teman” online, tetapi ketika butuh tempat curhat sungguhan, mereka merasa sendirian.
Islam memberi pandangan berbeda. Dalam Islam, standar kebahagiaan bukan jumlah followers atau validasi dari manusia, melainkan kedekatan dengan Allah. Rasulullah ï·º bersabda, “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dan tidak sabar atas gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi).
Artinya, Islam mendorong interaksi sosial yang nyata, sehat, dan penuh kesabaran, bukan sekadar interaksi semu di dunia maya.
Islam juga tidak membiarkan kebebasan tanpa aturan. Ada larangan ghibah, fitnah, pornografi, dan konten yang merusak akhlak. Semua ini menjaga interaksi agar tetap terhormat dan bermanfaat.
Jadi, masalah kesepian di tengah keramaian media sosial bukan sekadar soal “kurangi main HP”. Masalah utamanya terletak pada sistem yang melingkupi kehidupan kita.
Selama sistem sekuler-liberal masih menjadi dasar, dampak buruk media sosial sulit dihindari.
Islam menawarkan solusi yang komprehensif. Pada level individu, Islam menanamkan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati ada pada ketaatan, bukan validasi dunia maya. Pada level masyarakat, Islam mendorong aktivitas nyata seperti majelis ilmu, kegiatan sosial, dan ukhuwah yang menguatkan hubungan manusia secara langsung. Sementara pada level negara, Islam mengatur media dengan hukum syariah. Media diarahkan menjadi sarana dakwah, edukasi, dan silaturahmi, bukan sekadar alat eksploitasi kapitalisme digital.
Fenomena lonely in the crowd pada dasarnya merupakan buah dari sistem sekuler-liberal yang menjadikan media sosial alat kapitalisasi perhatian manusia. Islam hadir dengan solusi: mengembalikan orientasi hidup kepada Allah, menata hubungan sosial dengan akhlak, dan menata sistem informasi dengan syariah.
Jika itu diterapkan, media sosial tidak lagi menjadi ruang kesepian massal, melainkan wadah penuh makna dan keberkahan. [Rn]
Baca juga:
0 Comments: