Headlines
Loading...
Kerugian Tambang, Negara Kaya Tidak Berdaya

Kerugian Tambang, Negara Kaya Tidak Berdaya

Oleh: Resti Ummu Faeyza
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com — Dalam prosesi penyerahan smelter rampasan kasus korupsi yang digelar di kawasan smelter PT Tinindo Internusa, Pangkalpinang, Bangka Belitung, Senin (6/10/2025), Presiden Prabowo Subianto menyebutkan bahwa kerugian negara dari smelter tambang ilegal mencapai Rp300 triliun (Tempo.co, 6/10/2025). Angka yang fantastis untuk kerugian satu negara yang kaya akan sumber daya alam. Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, di antaranya di bidang tambang. Beberapa jenis tambang yang dihasilkan oleh negeri ini antara lain minyak dan gas, batu bara, timah, nikel, emas, bauksit, dan lainnya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait nilai kerugian tambang tersebut seharusnya menjadi cermin yang menyadarkan masyarakat: ke mana selama ini potensi kekayaan alam itu bermuara? Kemiskinan yang melanda masyarakat justru menandakan adanya kesalahan dalam pengelolaan sumber daya alam. Para pejabat yang bertugas mengelola seluruh hasil kekayaan bumi seakan tidak mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik.

Sebagaimana diketahui, negeri ini tampak terlalu banyak menyerahkan pengelolaan SDA kepada pihak asing. Akibatnya, masyarakat hanya menjadi penonton tanpa bisa menikmati hasil alamnya sendiri. Contohnya di Papua, salah satu tambang emas terbesar dan potensial justru dikelola oleh perusahaan asing, Freeport. Mirisnya, masyarakat sekitar mengalami kesulitan ekonomi dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Sistem ekonomi kapitalisme yang saat ini diemban Indonesia memang hanya menguntungkan segelintir pihak. Kekayaan SDA tidak didistribusikan dengan benar dan tepat untuk kesejahteraan masyarakat. Melimpahnya SDA di negeri seribu pulau ini hanya berputar di kalangan oligarki. Begitu pula dengan politik yang diemban; demokrasi justru menjadi wadah para pengusaha untuk memuluskan regulasi dalam menyedot hasil alam guna dinikmati oleh kalangan mereka sendiri.

Sistem seperti ini jelas tidak bisa dipertahankan. Lambat laun, ia justru akan semakin menggerogoti kekayaan negeri kita tercinta. Terbukti dengan adanya kerugian tambang yang bernilai Rp300 triliun. Sumber daya alam habis, rakyat semakin menjerit. Kelicikan sistem ekonomi ini sudah semestinya disadari betul oleh masyarakat.

Sudah saatnya masyarakat mencari dan menerapkan sistem ekonomi terbaik yang terbukti mampu menyejahterakan rakyat dan pernah menguasai dua pertiga dunia, yakni sistem ekonomi Islam. Dalam Islam, sumber daya alam merupakan bagian dari kepemilikan umat yang tidak boleh diprivatisasi. Negara wajib mengelola seluruh kekayaan alam untuk disalurkan dan dimanfaatkan demi kepentingan rakyat. Karena setiap kekayaan alam merupakan milik Allah Ta’ala, maka setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas pengelolaannya kelak di akhirat.

Oleh karena itu, kepemimpinan yang berdiri di atas asas sekularisme—yang memisahkan urusan agama dengan kehidupan—tidak akan pernah mampu mewujudkan kesejahteraan melalui kekayaan alam. Para penguasa akan cenderung memikirkan keuntungan bagi golongan mereka semata. Hal ini terjadi karena mereka enggan menyatukan aturan agama dengan kehidupan, sehingga tidak ada rasa takut terhadap pengadilan akhirat ketika menzalimi rakyat atas sumber daya alam yang Allah ciptakan di bumi ini. Padahal sudah sangat jelas bahwa segala kenikmatan dan keberkahan di alam semesta ini hanya akan hadir ketika syariat Allah ditegakkan di atas bumi-Nya sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu a‘lam bis-sawab. [My]

Baca juga:

0 Comments: