Headlines
Loading...
Filisida, Potret Retaknya Fondasi Bangsa

Filisida, Potret Retaknya Fondasi Bangsa

Oleh. Audina Putri
(Aktivis Muslimah)

SSCQMedia.Com—Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.
Bait lagu yang fenomenal ini kini mulai dipertanyakan. Belakangan, masyarakat terus dikejutkan dengan kabar-kabar memilukan: seorang ibu tega mengakhiri hidup anak-anaknya sendiri.

Filisida maternal adalah istilah dingin yang digunakan untuk menggambarkan tragedi ketika seorang ibu merenggut nyawa anaknya. Kasus yang terus berulang ini merupakan tamparan keras agar kita menyadari bahwa ada yang salah dalam sistem kehidupan saat ini, sistem yang mampu mengubah kasih sayang menjadi alasan hilangnya nyawa.

Di Banjaran, Kabupaten Bandung, seorang ibu ditemukan tergantung, sementara dua anaknya yang masih berusia 9 tahun dan 11 bulan terbujur kaku setelah diduga diracun. Rumah kontrakan sederhana itu seketika berubah menjadi rumah duka.

Di sana ditemukan secarik kertas berisi luapan perasaan penuh keluh kesah. Dindingnya menyimpan jerit yang tak didengar; kasih seorang ibu berubah menjadi luka yang ternyata telah lama menganga.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut peristiwa ini sebagai filisida maternal. Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, menyatakan bahwa faktor utamanya adalah jeratan ekonomi yang menyesakkan (Antaranews.com, 8/9/2025).

Tekanan Sistem dan Beban Kehidupan

Ibu adalah rumah, tempat anak mengadu dan berkeluh kesah, tempat berlindung dari keras dan kejamnya dunia. Kini, pelukan hangat itu justru berubah menjadi tangan dingin yang mampu merenggut nyawa.

Kejadian ini bukan sekadar tindak kriminal, tetapi bukti nyata dari tekanan hidup yang kerap berbanding terbalik dengan realitas. Kemiskinan yang membayangi, beban ekonomi, depresi, dan pengasingan diri sering kali menjerat seorang ibu hingga ia hilang kendali.

Masyarakat sekuler-liberal sibuk mengejar kehidupan berbasis materi. Perempuan didoktrin untuk mandiri tanpa bergantung pada suami; rumah tangga dijadikan ajang kompetisi; sementara beban psikologis ibu sering dianggap sekadar “cari simpati”.

Sistem ini menuntut perempuan menjadi ibu di rumah sekaligus pencari nafkah. Tulang rusuk dipaksa merangkap menjadi tulang punggung—lelahnya diabaikan, sedihnya tak didengarkan, keluhnya dianggap tak bersyukur atas nikmat Tuhan.

Lalu, ketika seorang ibu kelelahan hingga terjatuh ke jurang keputusasaan dan depresi yang berujung fatal, siapa yang disalahkan? Dirinya sendiri. Sebab masyarakat dan sistem tak memiliki solusi, selain umpatan dan nasihat sok suci.

Tragedi yang Terus Berulang

Mirisnya, kasus seperti ini sering berakhir hanya pada vonis hukum, tanpa menyentuh akar masalahnya. Media menyorot tragedi, publik menghujat, masyarakat menjauh seraya menyumpahi, lalu semuanya kembali sunyi.

Padahal, filisida maternal adalah bukti bahwa ada yang retak dalam konstruksi sosial negeri ini. Ada jeritan yang tak terdengar, luka yang tak diobati, dan beban yang dibiarkan menumpuk hingga tak lagi mampu ditopang tubuh mungil seorang ibu bergelar istri. Namun, ketika tragedi terjadi, seluruh mata justru menghakimi.

Islam: Sistem yang Menjaga Ibu dan Keluarga

Islam menawarkan jalan yang berbeda. Syariat Islam mewajibkan negara hadir bukan sekadar sebagai penjaga hukum, tetapi juga sebagai pelindung keluarga.

Ekonomi diatur agar setiap kepala keluarga mampu menafkahi tanggungannya. Demikian pula kesehatan dan kebutuhan pokok masyarakat lainnya diperhatikan.

Rasulullah saw. bahkan menegaskan betapa mulianya seorang ibu, hingga surga diletakkan di bawah telapak kakinya, sebagaimana sabdanya:

“Sesungguhnya surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.”
(HR. Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

Secara fitrah, mustahil seorang ibu tega menyakiti anaknya bila ia hidup dalam lingkungan yang adil, aman, damai, dan sejahtera.

Teladan Umar bin Khattab

Sejarah mencatat bagaimana Khalifah Umar bin Khattab rela berkeliling malam hari untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan.

Suatu malam, beliau melihat sebuah rumah dengan dapur yang masih mengepulkan asap. Ternyata, ada seorang ibu yang menghibur anak-anaknya yang kelaparan dengan berpura-pura memasak batu agar mereka tertidur menunggu makanan.

Seketika, Umar memanggul sendiri karung gandum, memasaknya, dan menyajikannya untuk ibu dan anak-anak itu. Inilah teladan seorang pemimpin yang memahami bahwa kesejahteraan ibu dan anak adalah fondasi peradaban.

Betapa kontras dengan sistem hari ini yang membiarkan seorang ibu berjuang sendirian hingga akhirnya kalah oleh beratnya kehidupan.

Kembali pada Sistem Ilahi

Filisida maternal bukan sekadar tragedi kriminal, tetapi bukti konkret bahwa sistem sekuler-liberal telah gagal menjaga fitrah seorang ibu.

Maka jelaslah, ada sistem yang harus kita ganti, yaitu kembali pada aturan yang berasal dari Allah Swt., sistem yang mampu menjaga hak, kehormatan, dan keutuhan keluarga.

Wallahualam. [ry]

Baca juga:

0 Comments: