Darurat Multidimensi, Solusinya Hanya Syariat Islam
Oleh: Alfi Ummuarifah, S.Pd.
(Pegiat Literasi Islam Kota Medan)
SSCQMedia.Com – Bukan hanya Kota Medan, sebenarnya. Seluruh dunia hari ini dihinggapi masalah multidimensi. Dunia sudah tua usianya, dan masalah kemasyarakatan kian kompleks.
Polisi berhasil mengungkap kasus bayi yang jasadnya sempat dikirim menggunakan jasa ojek online di Medan. Bayi tersebut mengalami sakit akibat lahir prematur dan kekurangan gizi. Wajar, sebab bayi ini merupakan hasil hubungan inses. Umumnya, banyak gangguan muncul pada bayi yang lahir dari hubungan demikian.
Bayi itu bahkan sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia. Hal ini diungkapkan Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Arif Setyawan. Sang ibu bayi, berinisial NH, sehari-hari bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK). Ia mengaku tidak mengetahui siapa ayah biologis dari anak yang dilahirkannya (Kompas.com, 10/5/2025).
NH juga mengaku memiliki hubungan asmara dengan seorang pria berinisial R, yang ternyata adalah abangnya sendiri (TribunMedan, 9/5/2025).
Betapa kejam perbuatan sang ibu. Hilang rasa keibuannya, bahkan kemanusiaannya. Keinginan menghilangkan jejak hubungan inses menjadi motif tindakan kriminal ini. Padahal, hal itu jelas melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak.
Namun demikian, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan NH, abangnya R, atau lingkungannya saja. Lebih dari itu, masalah ini juga berpangkal pada sistem hidup bernegara yang semakin rusak.
Rusaknya Sistem Ekonomi, Pendidikan, dan Pergaulan
Seorang ibu bernama NH mungkin memiliki alasan hingga akhirnya menjadi PSK, termasuk tidak mampu menahan gejolak nafsu berhubungan badan dengan abangnya sendiri.
Alasan terdekatnya adalah sulitnya beban hidup. Inflasi rupiah terhadap dolar memicu naiknya harga barang dan jasa. Hal ini berdampak domino pada lemahnya daya beli masyarakat. Ditambah kondisi rumah yang tidak layak, yaitu tidak ada ruang pemisah antara anak laki-laki dan perempuan, tidak ada pola asuh orang tua yang mendidik tentang mahram, aurat, dan konsep ruang khusus maupun umum dalam rumah.
Sementara itu, hidup harus terus berjalan. Biaya hidup tidak murah. Lapangan pekerjaan sulit, iklim bisnis menyulitkan pengusaha kecil, pengangguran akibat perekonomian global, semua ini mendorong orang untuk “nekat” bekerja apa saja, asal bisa bertahan.
Standar pekerjaan halal terasa jauh panggang dari api. Menjadi PSK bukan hanya pilihan NH, tetapi juga banyak perempuan lain yang merasa terpaksa.
Ya, hari ini banyak “NH lain” yang melakukan hal serupa. Bahkan, ada yang hamil akibat hubungan inses. Pertanyaannya, sesungguhnya salah siapa?
Aktivitas NH sebagai PSK dibiarkan oleh negara. Jika kemudian ia hamil karena inses, negara pun abai mengontrol aktivitas masyarakat yang jelas-jelas melanggar syariat agama dan budaya ketimuran.
Negara ikut berperan besar memberikan peluang terjadinya inses: tempat tinggal yang tidak layak, arus tontonan dan rangsangan seksual deras di media sosial. Padahal, negara punya kewenangan untuk meminimalisasi hal tersebut dengan mengontrol tayangan tak layak.
Persoalan masyarakat seperti ini sudah jamak di mana-mana. Tidak ada solusi efektif dalam menuntaskan masalah individu. Rantai pergaulan bebas harus diputus tuntas. Jika tidak, masalah ini hanya akan mengundang murka Allah.
Dari sini jelas, negara dan masyarakat wajib memutus praktik perzinaan. Bukan malah melokalisasi prostitusi dengan alasan membuka lapangan kerja.
Butuh Sistem Islam yang Komprehensif
Persoalan bayi yang lahir prematur, sakit, hingga meninggal dunia menunjukkan abainya negara terhadap kewajiban memenuhi kebutuhan dasar rakyat: sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan, hingga pendidikan.
Setiap penguasa adalah pelayan masyarakat. Artinya, jika penguasa sudah dipilih dan diangkat, maka ia harus melayani semua kebutuhan rakyat, termasuk seorang bayi dan ibunya.
Keputusan NH membawa pulang bayinya dari rumah sakit mungkin dilatari ketiadaan biaya. Sebab, rumah sakit kini beroperasi dengan sistem komersial, tidak lagi sepenuhnya dibiayai negara.
Benang kusut masalah multidimensi ini memang rumit, saling terkait, dan saling memengaruhi. Setelah bayi meninggal, kebingungan NH bertambah: soal biaya pemakaman hingga rasa malu. Dengan akidah dan iman yang tipis, serta kerasnya hidup di negara yang abai, NH akhirnya mengambil keputusan tragis: mengirim jenazah bayi lewat ojek online.
Berharap kepada pemimpin yang mengadopsi sistem kapitalisme sekuler berbasis demokrasi adalah kesia-siaan. Sebab, masalah multidimensi ini justru lahir dari sistem itu sendiri. Bagaimana mungkin akar masalah bisa menjadi solusi? Kita membutuhkan sistem hidup yang lain.
Solusi Islam
Sistem Islam bekerja komprehensif. Ekonomi, pendidikan, pergaulan, hingga pemerintahan berjalan seirama, semuanya berbasis syariat Islam.
Jika NH hidup dalam sistem Islam, ia akan terikat dengan akidah Islam, berkepribadian islami, pola pikir dan sikapnya pun islami. Ia tidak akan menjadi PSK, tidak akan berbuat inses, dan tidak akan menyerahkan tubuhnya kepada lelaki sembarangan.
Masyarakat di sekitarnya pun akan menjaga dan mengontrol agar ia tidak melanggar syariat. Negara akan menutup semua celah yang mendekatkan kepada zina.
Jika pun sudah terlanjur hamil, ia tetap akan ditanggung negara. Perempuan tidak wajib bekerja. Jika kerabat tak mampu menanggungnya, negara wajib mengambil alih seluruh kebutuhan: sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, hingga keamanan.
Dengan begitu, petaka yang menimpa NH tidak akan terjadi. Sebaliknya, ia akan hidup sejahtera, sebagaimana yang pernah berlangsung selama 1.400 tahun dalam sejarah Islam—sejak Rasulullah saw. di Madinah hingga Khilafah Utsmaniyah runtuh pada 1924.
Penutup
Jika sistem Islam diterapkan di Medan, di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, niscaya tidak akan ada kasus penelantaran bayi, apalagi sampai dikirim lewat ojek online. Tidak ada pula prostitusi, baik offline maupun online, karena sistem pergaulan Islam menutup rapat peluang zina.
Sudah saatnya Islam diperjuangkan agar kembali diterapkan secara kaffah. Dengan itu, kesejahteraan akan tersebar merata di seluruh penjuru bumi, bukan hanya di Kota Medan.
Wallahualam bissawab.
[US]
Baca juga:
0 Comments: