Rusaknya Generasi, Cerminan Sistem Kapitalisme
Oleh. Mardotillah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Tiga kasus kekerasan di lingkungan pelajar kembali mencuat di berbagai daerah. Di Pangkep, Sulawesi Selatan, seorang siswa SMK Negeri 2 berusia 16 tahun menjadi korban pemukulan hanya karena senggolan bahu di sekolah hingga pelaku langsung diamankan polisi (Kompas, 20-8-2025).
Sementara itu, di Jakarta, lima remaja yang awalnya hendak tawuran justru melakukan pembegalan terhadap sopir truk dengan cara memecahkan kaca, memukul korban, dan menjarah uang serta ponsel. Kini mereka terancam hukuman lebih dari lima tahun penjara sesuai Pasal 365 KUHP (DetikNews, 21-8-2025).
Kasus yang lebih tragis terjadi di Muratara, Sumatera Selatan. Seorang siswa kelas IV SD menusuk leher siswa kelas II MTs dengan gunting hingga tewas. Polisi menduga ada persoalan psikologis pada pelaku sehingga perlu penyelidikan lebih lanjut (TribunNews, 22-8-2025).
Penyebab Generasi Rusak
Tidak bisa dimungkiri, kenakalan remaja merupakan hasil dari sistem yang sedang diterapkan. Ini baru beberapa berita yang dibaca dan diketahui, mungkin masih banyak tindakan kenakalan remaja yang belum dipublikasikan. Sebenarnya, ini bukan masalah baru di tengah masyarakat.
Sistem sekuler kapitalisme hanya memandang generasi sebagai aset penting untuk menambah pundi-pundi uang bagi para kapitalis, bukan sebagai tonggak peradaban. Sistem ini justru melahirkan generasi yang sakit, rusak mental dan fisik, kehilangan jati diri, dan akhirnya menjadi budak kapital.
Dari sistem ini lahir aturan yang membuat orang tua abai terhadap anak. Banyak orang tua beranggapan bahwa kebahagiaan anak cukup dengan uang. Ada pula suami yang menganggap tugasnya hanya memberi nafkah, sedangkan urusan mendidik anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri.
Inilah yang menyebabkan anak berpikir bahwa segalanya bisa dilakukan asalkan ada uang. Ada pula anak yang merasa tidak mendapatkan kasih sayang dan pendidikan yang layak sehingga mencari pelampiasan di luar rumah demi mendapat perhatian orang tua.
Lebih parah lagi, jika anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan orang tua di rumah. Hal ini melahirkan anak-anak yang terbiasa melakukan kekerasan di luar rumah.
Dari sistem ini tercipta pula lingkungan masyarakat yang rusak, terbiasa menerima hal buruk, bahkan mendukung tindakan salah. Di kalangan remaja, kenakalan hingga pembunuhan kerap dilakukan hanya karena ikut-ikutan teman. Mereka merasa hebat jika berbuat nakal.
Biasanya, mereka memulai dengan minum minuman keras, lalu melakukan aksi kekerasan sebagai ajang unjuk diri. Bahkan, aksi ini dijadikan sumber cuan, konten untuk menarik pengikut, dan tontonan masyarakat. Cara berpikir seperti ini jelas keliru.
Negara yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk rakyat justru berbalik menjadi garda penolak rakyat. Selama tidak mengganggu kepentingan penguasa, kenakalan remaja tidak dianggap penting untuk diurus. Hal ini terlihat dari kebijakan negara dalam penanganan kasus-kasus tersebut.
Sistem pendidikan yang berasas sekularisme tidak menghasilkan generasi berkepribadian kuat, tetapi justru generasi malas berpikir dan berpenyakit mental. Arah pendidikan Indonesia yang tidak jelas menjadikan remaja sebagai korbannya.
Belum lagi, konten media sosial yang jauh dari layak ditonton, mulai dari kekerasan hingga pornografi. Negara seharusnya menghentikan konten yang merusak generasi dan menggantinya dengan konten yang lebih positif.
Generasi Islam yang Gemilang
Berbeda halnya dengan pandangan Islam terhadap generasi. Dalam Islam, generasi adalah pilar penting kemajuan peradaban. Banyak kisah sukses generasi Islam tercatat dalam sejarah dunia.
Dalam sistem Islam, aturan diterapkan untuk kemaslahatan umat, bukan kepentingan pribadi. Penerapan aturan ini akan melahirkan generasi gemilang, masyarakat baik, keluarga harmonis, dan hukum yang adil.
Penguasa betul-betul memperhatikan dan menjaga ketakwaan individu. Orang tua memiliki visi dan misi keluarga yang jelas. Ketika memiliki anak, mereka sudah tahu arah pendidikan yang akan ditempuh. Orang tua menjadi madrasah pertama yang mendidik anak agar taat, gemar beribadah, dan bersemangat menuntut ilmu.
Generasi Islam adalah pribadi yang memiliki visi dunia dan akhirat. Ilmu mereka digunakan untuk memudahkan urusan umat, bukan memanfaatkan kesusahan umat.
Negara memastikan lingkungan masyarakat aman dan nyaman bagi tumbuh kembang generasi. Masyarakat Islam identik dengan budaya amar makruf nahi mungkar, tidak membiarkan maksiat merajalela, serta aktif mencegah hal-hal buruk. Negara juga menjaga suasana Islami dalam semua aspek kehidupan.
Penguasa tidak akan membiarkan hukum selain Islam diterapkan, termasuk yang menyangkut keberlangsungan generasi. Sistem pendidikan Islam dengan kurikulum terbaik akan melahirkan generasi berkepribadian Islam dan berpola pikir Islami.
Negara menyediakan sarana dan prasarana pendidikan terbaik secara gratis. Media massa juga dijaga agar terbebas dari propaganda yang merusak akidah dan pemikiran Islam.
Wajar jika dalam negara yang menerapkan hukum Islam lahir individu, masyarakat, dan penguasa yang bertakwa.
Wallahualam. [US]
Baca juga:
0 Comments: