Merdeka di Atas Kertas, Terjajah dalam Sistem
Oleh. Dhevi Firdausi, S.T.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia diadakan dengan meriah. Hampir seluruh RT menggelar acara perayaan di wilayah masing-masing. Bahkan, ada yang menyelenggarakan tasyakuran selama tujuh hari berturut-turut. Acara bernyanyi bersama warga pun sering kali dilakukan hingga melewati batas jam malam. Masyarakat yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, meluangkan waktu untuk berkumpul demi merayakan HUT kemerdekaan.
Berbagai perlombaan diselenggarakan, baik oleh kelompok bapak-bapak maupun ibu rumah tangga. Anak-anak gegap gempita mengikuti bermacam-macam lomba. Namun, ada juga yang kritis mempertanyakan: apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka?
Ternyata, sejumlah fakta menunjukkan bahwa peringatan 80 tahun kemerdekaan RI masih diliputi aneka problematika masyarakat. Banyak persoalan muncul di berbagai bidang kehidupan.
Di bidang ekonomi, banyak terjadi PHK terhadap pekerja pada berbagai sektor, seperti industri tekstil, pabrik makanan, dan lainnya. Penghasilan masyarakat menurun, sedangkan pengeluaran semakin besar karena harga barang dan jasa melambung tinggi. Ditambah semakin banyak pungutan pajak dari negara, akibatnya masyarakat kecil menjadi korban.
Di tengah kondisi seperti ini, muncul berita bahwa gaji pokok anggota dewan dinaikkan. Para pejabat negara pun bersukacita menyambut kebijakan tersebut. Namun, meski gaji bulanan mereka terus naik dari tahun ke tahun, angka korupsi tidak kunjung berhenti. Bahkan, korupsi sudah tersistem dalam setiap lini kehidupan, dari para petinggi negeri hingga pejabat daerah.
Rakyat Belum Sejahtera, Indikasi Belum Merdeka
Persoalan lain yang juga terjadi adalah rusaknya generasi muda akibat sistem sekuler kapitalisme. Sistem sekuler merupakan pemahaman kehidupan yang berasal dari Barat, dengan asas pemisahan agama dari kehidupan. Akibatnya, manusia bebas membuat aturan kehidupannya sendiri. Ditambah lagi adanya penanaman berbagai pemikiran rusak, seperti deradikalisasi, Islam moderat, dan lain-lain.
Pemahaman sesat ini menjadikan umat jauh dari pemikiran Islam. Akidah umat Islam menjadi dangkal, sehingga membuat mereka tebang pilih dalam menaati peraturan Allah Swt. Rasa takut kepada Allah terus menipis, mengakibatkan kemaksiatan sangat mudah dilakukan, bahkan secara berjamaah. Kerusakan perilaku masyarakat hampir menyentuh setiap sendi kehidupan, mulai dari pergaulan bebas hingga korupsi.
Indonesia, meski sudah merdeka dari penjajahan fisik, masih terjajah secara politik dan ekonomi. Kemerdekaan sejati harus tampak pada kesejahteraan rakyat, yaitu terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan seluruh masyarakat. Ketika rakyat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, artinya Indonesia belum merdeka. Kemerdekaan juga akan tampak ketika umat Islam mampu berpikir sesuai akidahnya.
Akidah Islam menuntut adanya pelaksanaan syariat. Masyarakat Islam seharusnya tidak tebang pilih dalam menaati peraturan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Namun, faktanya sekarang berbeda. Islam hanya dilaksanakan pada ranah ibadah ritual, seperti salat, zakat, dan puasa. Kondisi ini merupakan akibat penerapan sistem sekular kapitalis yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat. Sistem yang rusak cenderung melayani kepentingan para kapitalis.
Akibatnya, para pengusaha dan penguasa semakin kaya raya, sedangkan rakyat miskin semakin sengsara.
Merdeka Hakiki Hanya dengan Islam
Sebagai Muslim, kita tentu menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. sebagai pedoman hidup. Bagaimana Al-Qur’an memandang kondisi negeri ini? Ternyata, segala problematika masyarakat dapat diselesaikan dengan sistem Islam.
Penerapan sistem Islam secara sempurna merupakan kebutuhan dan solusi atas berbagai permasalahan kehidupan masyarakat. Sistem Islam yang kaffah mampu membuat rakyat sejahtera, dengan mengelola kepemilikan umum dan menggunakan seluruh hasilnya untuk kesejahteraan rakyat.
Dalam Islam, negara menjamin kesejahteraan rakyat dengan memenuhi kebutuhan pokoknya. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang menegaskan hal tersebut. Misalnya, hadis riwayat Imam Bukhari yang menyatakan: “Imam/Khalifah adalah ra’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.”
Sejarah mencatat, selama lebih dari 13 abad tegaknya Khilafah Islamiyah, kebutuhan pokok masyarakat termasuk keamanan, pendidikan, dan kesehatan dijamin oleh khalifah.
Dalam Islam, negara mengembangkan industri yang membuka banyak lapangan pekerjaan. Semangatnya bukan untuk mengimpor barang atau menarik investor, melainkan menggeliatkan perindustrian dalam negeri. Negara juga memberikan tanah mati kepada rakyat yang mau mengelolanya agar produktif. Tanah dari negara tidak hanya diberikan kepada kalangan menengah ke atas, tetapi justru lebih utama diberikan kepada rakyat kurang mampu.
Khusus untuk fakir miskin, negara memberikan santunan dari Baitul Mal. Dalam sejarah Islam, hampir tidak ada fakir miskin. Jika ada, mereka akan ditanggung oleh Baitul Mal.
Tidak hanya kesejahteraan rakyat, Daulah Islam juga menjaga pemikiran umat agar tetap selaras dengan akidah Islam dan hidup dalam ketakwaan kepada Allah Swt. Islam kaffah berarti penerapan Islam secara sempurna, tanpa tebang pilih hukum syarak. Artinya, syariat tidak hanya dilaksanakan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan seluruh aspek kehidupan.
Selama lebih dari 13 abad, Daulah Islam menerapkan aturan secara sempurna dalam segala bidang kehidupan. Hasilnya, Islam yang rahmatan lil-‘alamin benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Secara logis, untuk meraih kemerdekaan hakiki, dibutuhkan perubahan sistem kehidupan. Saat ini, sudah ada geliat perubahan di tengah masyarakat, seperti fenomena one piece, aksi mahasiswa di depan DPR, dan lain-lain. Fenomena ini menunjukkan betapa masyarakat kecewa dengan aturan yang berlaku. Mereka menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, kondisi tersebut masih belum menyentuh akar masalah, yaitu keberadaan sistem kapitalisme.
Sistem kapitalisme sekuler yang rusak ini harus segera diganti dengan sistem Islam. Terbukti, hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, perlu perubahan hakiki yang dipimpin oleh ormas Islam bersama tokoh masyarakat di dalamnya, menuju sistem Islam. [US]
Baca juga:
0 Comments: