Raya, Potret Tragis Anak dalam Kapitalisme
Oleh. Istiana Ayu S. R.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Publik dikejutkan oleh kisah tragis seorang balita bernama Raya dari Sukabumi. Usianya baru empat tahun, tetapi harus meregang nyawa dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Tubuh mungilnya dipenuhi cacing gelang dalam jumlah besar. Bahkan, ada yang sudah menyebar ke paru-paru dan otaknya. Raya sempat dirawat sembilan hari di rumah sakit. Para dokter berusaha keras menyelamatkannya, tetapi kondisinya terlalu parah hingga akhirnya tidak tertolong (Merdeka, 14/8/2025).
Masalah Raya bukan hanya soal medis. Ia tinggal di rumah di atas kolong yang penuh kotoran ayam, lingkungan yang jelas tidak sehat.
Orang tuanya juga mengalami kesulitan ekonomi dan masalah mental, sehingga perhatian terhadap kesehatan Raya hampir tidak ada sejak awal (Beritasatu, 15/8/2025).
Semua faktor itu bertumpuk hingga berakhir pada kematian yang mestinya bisa dicegah.
Kemarahan publik semakin besar setelah Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, memberi komentar yang dianggap tidak etis. Ia menyebut kematian Raya bukan karena cacingan, melainkan akibat infeksi berat seperti sepsis atau tuberkulosis lama (Detik, 25/8/2025).
Pernyataan itu seolah meremehkan kenyataan bahwa tubuh Raya benar-benar dipenuhi cacing. Padahal, dokter anak menegaskan infeksi cacing memang bisa menimbulkan komplikasi serius hingga kematian (Haibunda, 25/8/2025).
Alih-alih menenangkan, komentar tersebut justru menunjukkan betapa dinginnya sikap pejabat terhadap penderitaan rakyat kecil.
Kasus Sistemik
Kasus Raya sebenarnya membuka mata kita bahwa persoalan ini bukan sekadar medis, melainkan soal sistem.
Dalam kapitalisme, kesehatan diperlakukan sebagai komoditas. Akses terbaik hanya untuk mereka yang mampu membayar. Sementara itu, rakyat miskin terjebak dalam layanan seadanya yang sering kekurangan dana, tenaga, maupun perhatian.
Tidak heran anak-anak miskin selalu berada di posisi paling rentan. UNICEF mencatat, anggaran perlindungan anak di Indonesia hanya kurang dari 0,1% dari total APBN (UNICEF, 2024). Angka itu jelas sangat kecil dibandingkan kebutuhan nyata di lapangan.
Kapitalisme memang memandang rakyat kecil sekadar angka statistik. Selama mereka tidak memberi keuntungan, keberadaan mereka seolah bisa diabaikan.
Maka, tragedi seperti yang menimpa Raya akan terus berulang meskipun pemerintah sering bicara soal “komitmen perlindungan anak”.
Islam Menawarkan Solusi
Berbeda dengan kapitalisme, Islam memandang anak sebagai amanah besar dari Allah Swt. Dalam maqashid syariah, perlindungan terhadap keturunan (hifz al-nasl) menjadi tujuan utama. Rasulullah saw. mencontohkan kasih sayang luar biasa kepada anak-anak, bahkan menegur keras siapa pun yang menelantarkan mereka.
Jika negara dijalankan dengan sistem Islam, perannya tidak berhenti pada regulasi. Negara hadir sebagai pelayan umat. Dana publik dipakai untuk memastikan semua rakyat, termasuk anak-anak miskin, mendapat pelayanan kesehatan terbaik. Posyandu berjalan aktif, anak-anak dipantau tumbuh kembangnya, obat cacing diberikan rutin, dan keluarga miskin didampingi dengan serius.
Negara juga menjamin akses air bersih, lingkungan sehat, dan gizi yang layak bagi anak-anak. Rasulullah saw. bersabda: “Seorang pemimpin adalah pemelihara dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
Hadis di atas menegaskan, satu anak saja yang terlantar akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Penutup
Kasus Raya adalah alarm keras bagi bangsa ini. Selama kapitalisme masih dijadikan pijakan, anak-anak miskin akan tetap menjadi korban.
Islam justru menawarkan solusi menyeluruh: negara hadir penuh, keluarga terbantu, dan masyarakat dibangun dengan kepedulian.
Nyawa Raya memang sudah tiada, tetapi tragedinya jangan dibiarkan berlalu begitu saja. Inilah pengingat bahwa kita butuh sistem yang benar-benar melindungi anak-anak, bukan sekadar janji kosong. [Rn]
Baca juga:
0 Comments: