Oleh. Erna Kartika Dewi
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—“Ya Allah, mengapa Engkau mengambil anakku begitu cepat?” bisik lirih sang ayah, suaranya serak menahan perih. Di pelukannya, tubuh mungil yang sudah diselimuti kain putih terasa sangat ringan, seakan dunia ini terlalu berat untuk buah hatinya yang rapuh. Langkah kakinya terseret, melewati reruntuhan bangunan dan tatapan kosong para tetangga yang sama-sama menyimpan luka. Dari kejauhan terdengar suara istrinya yang pilu, “Abi, jangan kuburkan dia dulu, izinkan aku memeluknya sekali lagi.” Suara itu pecah, merobek hati siapa pun yang mendengarnya.
Abi Aiman berhenti, menoleh pada Umi Maryam, istrinya. Wajah perempuan itu basah oleh air mata. “Umi, sabarlah ... anak kita sudah Allah jemput lebih dulu. Dia kini aman, jauh lebih bahagia di sisi-Nya. Surga lebih teduh daripada Gaza, sayang .…” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata mereka jatuh bersamaan, berpadu dengan debu tanah yang beterbangan. Di Gaza, kata selamat tinggal tak pernah benar-benar menutup cerita, kehilangan adalah bagian dari keseharian, luka yang tak pernah selesai dijahit waktu.
Senja merayap dengan warna merah kehitaman, seakan langit turut menanggung duka. Di sebuah tanah lapang, beberapa lelaki menggali liang kecil dengan alat seadanya. Tak ada wangi bunga, tak ada kain halus, hanya tanah berdebu sebagai peraduan terakhir sang bayi.
Umi Maryam meraih buah hatinya, memeluk erat tubuh kecil itu. “Ya Rab, aku belum sempat mendengar dia menyebutku ‘Umi’. Aku belum sempat menimangnya lebih lama, belum sempat mengajarinya huruf-huruf Al-Qur’an-Mu. Mengapa Engkau secepat ini memanggilnya?” Tangisnya pecah, seolah jiwanya ikut terkubur bersama tubuh mungil itu.
Abi Aiman menepuk lembut bahu istrinya. “Umi, jangan tenggelam dalam duka. Ingatlah sabda Nabi saw.,
"Anak-anak kecil yang wafat akan menjadi penolong orang tuanya di akhirat".
Mereka akan menggandeng kita menuju surga. Percayalah, anak kita tidak pergi sia-sia.”
Namun Umi Maryam menunduk, air matanya jatuh tak berhenti. “Abi, bagaimana aku bisa hidup tanpa senyumnya? Tanpa tangisannya? Bukankah dia anugerah terindah yang Allah titipkan?”
Abi Aiman menatap langit yang mulai gelap. “Benar Umi, tapi titipan itu telah kembali pada Pemiliknya. Allah sedang menguji, apakah kita mencintai karunia lebih dari Sang Pemberi, atau mampu menyerahkan kembali dengan penuh keikhlasan.”
Hari-hari setelah pemakaman berubah begitu sunyi. Rumah kecil mereka, yang retak akibat ledakan, kini terasa hampa. Tak ada lagi tangisan bayi, tak ada lagi suara rengek yang biasanya membuat malam terasa hidup. Umi Maryam duduk termenung di sudut ruangan, memeluk bantal kecil milik anaknya, seakan masih mencari aroma tubuh buah hatinya di sana.
“Abi, hatiku hampa, seperti ada yang tercabut dari dalam diriku,” ucapnya lirih pada suatu malam, hanya ditemani lampu minyak yang temaram.
Abi Aiman menarik napas panjang, lalu menatap istrinya penuh kasih. “Umi, ingatkah engkau kisah seorang sahabat nabi yang kehilangan anaknya, tapi ia tetap bersabar? Rasulullah saw., bersabda,
"Siapa yang kehilangan anak dan bersabar, Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di surga, bernama Baitul Hamd, rumah penuh pujian.”
Umi Maryam menoleh, matanya berkaca-kaca. “Jadi, anak kita sedang menunggu kita di rumah itu, Abi?”
Abi Aiman mengangguk, air matanya ikut mengalir. “Ya Umi, bayi kita kini bermain di taman surga. Tak ada bom, tak ada ketakutan, yang ada hanya kebahagiaan.”
Malam-malam panjang terus dilalui dengan doa dan sujud. Umi Maryam belajar merawat lukanya dengan tilawah dan zikir. Dalam setiap sujudnya, ia menitipkan rindunya untuk sang buah hati kepada Allah, ia yakin bahwa jalan terdekat menuju pertemuan dengan anaknya adalah ketaatan.
Suatu malam, Umi Maryam bermimpi. Ia melihat seorang anak kecil berlari di taman hijau bercahaya. Wajahnya berseri, matanya bening, dan ia tersenyum memanggil, “Umi ... Umi .…”
Umi Maryam terbangun dengan pipi basah oleh air mata. Namun kali ini ia tersenyum dalam tangis. “Abi, aku bermimpi dia bahagia. Benar katamu, Abi, dia sudah aman di sisi Allah.”
Abi Aiman memeluk istrinya erat. “Alhamdulillah, Umi. Itu kabar dari Allah untuk hatimu.”
Di luar sana, Gaza tetap bergemuruh. Anak-anak berlarian bukan untuk bermain, tapi untuk mencari sisa roti. Ibu-ibu lain berteriak pilu karena buah hatinya tertimpa reruntuhan. Kematian bukan lagi kejutan, tapi seperti bagian dari udara yang mereka hirup.
“Umi,” kata Abi Aiman suatu sore, “kita bukan satu-satunya yang diuji. Lihatlah, betapa banyak orang tua kehilangan anaknya. Tapi percayalah, setiap tangisan akan dibalas Allah dengan ganjaran yang besar. Luka ini akan menjadi saksi di hadapan-Nya, bahwa kita tetap beriman meski diuji seberat ini.”
Umi Maryam menatap suaminya dengan mata basah. “Abi, kadang aku takut, aku khawatir tak kuat untuk menghadapi semua ini”
“Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya, Umi. Setiap air mata yang jatuh tidak sia-sia. Semua akan menjadi berat timbangan kebaikan kita kelak.” jawab Abi Aiman.
Waktu perlahan menguatkan Umi Maryam. Ia mulai menolong para ibu lain yang mengalami kehilangan serupa. “Anak-anak kita sedang menunggu di surga,” ucapnya pada seorang ibu yang meraung karena putranya syahid. “Mereka tidak hilang, hanya lebih dulu kembali kepada Allah. Sabar, Saudariku, kita akan bertemu mereka lagi di negeri abadi.”
Dan setiap kata yang ia ucapkan untuk menenangkan orang lain, terasa seperti obat untuk hatinya sendiri.
Abi Aiman dan Umi Maryam akhirnya memahami bahwa kehilangan di dunia hanyalah jeda menuju pertemuan yang lebih indah di akhirat. Bahwa cinta sejati tidak berhenti di bumi, tapi akan kekal bila disertai iman. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: