Oleh. Ummu Arrosyidah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Rouf sedang menyeruput kopi yang terhidang di atas meja sebuah kedai di perbatasan Rafah pagi itu. Kelopak matanya terasa berat karena hampir semalaman telinganya dipekakkan oleh rudal zi0nis yang menghujani wilayah di balik tembok itu. Dentuman seolah tak pernah beristirahat di Gaza.
Hawawshi terhidang di hadapannya, namun selera makannya menghilang saat ia mengedarkan pandangannya ke luar kedai. Di sana ada deretan truk tronton bantuan dengan aneka bendera kebangsaan di sisinya, yang terparkir di depan gerbang Rafah. Ya, truk-truk tronton itu telah lama berbaris dan mengetuk gerbang Rafah. Gerbang Rafah masih saja terkunci. Meski Rafah masuk wilayah negeri Kinanah, namun gerbangnya baru bisa dibuka jika otoritas zi0nis memberi restu. Ada beberapa penjaga di gerbang Rafah, yaitu wanita-wanita berseragam IDF yang menenteng senjata M16.
Rouf mengambil ponselnya. Ia membuka YouTube. Berita dari Al-Jazeera tentang Gaza selalu ia nantikan. Matanya menatap tajam pada salah satu video pendek. Seorang laki-laki bertubuh kurus dengan tahi lalat di pipi kirinya, sedang membopong balitanya yang sudah tiada karena malnutrisi parah. Laki-laki itu berkata, "Wahai dunia! Bagaimana jika ini adalah anak-anak kalian? Akankah kalian tetap diam?"
"Ya Allah! Itu Majid!" pekik Rouf dalam hati. Memori Rouf pun terhuyung ke puluhan tahun silam.
Pertengahan 1990. Selepas ashar, Rouf duduk di salah satu sudut Masjid At-Tawbah bersama Majid, sahabatnya, dan Syekh Abdurrahman. Syekh Abdurrahman adalah seorang mualim. Meski usia beliau sudah tujuh dekade, namun ingatan beliau masih kuat.
Syekh Abdurrahman bercerita tentang masa kecil beliau. Beliau mengatakan bahwa saat itu, orang-orang Yahvdi mulai bermigrasi ke Palestina. Kian hari kian banyak kaki kotor yang menginjak tanah penuh berkah. Jumlahnya ribuan. Mereka merampas tanah penduduk Palestina dengan cara yang brutal. Pemukiman dibuldozer. Para muslimah dilecehkan. Bahkan di Deir Yasin terjadi pembantaian. Ribuan penduduk mengungsi dan mereka yang bertahan di Palestina harus tunduk kepada otoritas zi0nis.
Zi0nis semakin kuat karena Inggris membantu mereka. Sungguh, rakyat Palestina berharap Sultan di Istanbul mengirimkan pasukannya untuk membantu rakyat Palestina. Sayangnya, rakyat Palestina harus menelan kenyataan pahit karena pemerintahan Islam sudah dibubarkan. Sistem Islam yang menaungi kaum muslimin sudah diganti dengan sistem sekuler. Jangankan untuk membantu Palestina, pemerintahan di Turki saat itu, justru melarang simbol-simbol keislaman. Zi0nis pun semakin leluasa mencaplok wilayah Palestina.
Syekh Abdurrahman kemudian berkata, "Sungguh, kami berharap pemerintahan Islam tegak kembali."
"Alhamdulillah, pagi ini gerbang Rafah dibuka. Kita akan masuk Gaza!" Teriakan teman Rouf membawanya kembali ke masa kini. Masa di mana luka Nakba Palestina kembali terbuka.
Setelah beberapa hari tertahan di depan gerbang Rafah, Rouf dan relawan lainnya pun mendapatkan izin memasuki Gaza. Bus yang mereka tumpangi mulai melaju di jalanan Khan Younis yang dipenuhi puing-puing di tepi-tepinya.
Rouf menemukan gambaran pilu di sepanjang perjalanan. Salat jenazah beberapa kali ia saksikan. Tenda-tenda usang berderet. Manusia-manusia tengah mengais di antara puing-puing bangunan untuk mendapatkan sesuatu yang bisa mereka makan. Ia melihat anak yang menarik kardus beroda dengan adiknya di dalamnya, berjalan tanpa alas kaki sambil membawa panci.
Sementara itu, di kejauhan asap hitam tebal mengepul disertai suara dentuman. Zi0nis baru saja menjatuhkan rudalnya.
Bus telah sampai di salah satu kamp lembaga kemanusiaan. Rouf dan relawan lainnya turun. Mereka mulai mendirikan dapur kemanusiaan dan memasak.
Warga Gaza sudah memadati dapur kemanusiaan. Tampak ribuan wajah yang begitu lelah. Dari balik pagar mereka mengulurkan wadah-wadah. Berharap dapat membawa pulang makanan untuk keluarga mereka.
Dua jam berlalu. Enam panci ukuran besar telah kosong. Hanya ada sisa-sisa nasi di dinding-dinding panci. Seorang anak berusia sekira 14 tahun berjalan terseok-seok menuju dapur kemanusiaan, kemudian mengais butir-butir nasi itu.
"Paman, masih adakah makanan untuk kami? Empat orang adikku dan ayah kami sudah berhari-hari tidak makan," tanya anak itu dengan wajah memelas.
"Maaf, Nak! Persediaan bahan kami telah habis. Dan kami menunggu bantuan bahan pangan masuk kembali," ucap Rouf sedih. Rouf bisa merasakan bagaimana remuknya hati anak laki-laki itu
"Baiklah, Paman. Aku akan pergi ke pusat bantuan kemanusiaa saja. Mudah-mudahan di sana ada sepotong rezeki kami."
Anak laki-laki itu meninggalkan dapur kemanusiaan.Terdorong oleh pesan Nabi tentang persaudaraan, ia pun mengikutinya.
Matahari begitu terik. Anak laki-laki itu masih berjalan sambil membawa wadah kosongnya. Rouf merasakan tenggorokannya sangat kering dan perutnya lapar. Kakinya pun mulai pegal. "Tak apalah, mudah-mudahan ini bisa menjadi hujahnya di hadapan Allah kelak." gumam Rouf.
Anak laki-laki itu masih berjalan hingga sampai di sebuah tempat. Di sana ada MMT membentang bertuliskan Gaza Humanitarian Foundation. Ribuan orang berkerumun di sekitar truk-truk bantuan. Anak laki-laki itu mulai merangsek masuk ke tengah kerumunan. Rouf masih mengikutinya. Tiba-tiba serentetan tembakan terdengar. Semuanya tiarap dan merangkak perlahan mendekati truk bantuan.
Takbir, tasbih, dan doa bercampur riuh di sana. Ada beberapa teriakan kesakitan laki-laki karena peluru menembus bagian tubuhnya. Lelaki lain membantunya untuk mencari tempat berlindung.
Rouf masih mengikuti anak laki-laki itu. Ia berhasil mendekati truk bantuan dan mendapatkan sekarung tepung. "Alhamdulillah!" ucap anak laki-laki itu. Untuk sementara ia mencari tempat berlindung hingga rentetan peluru terhenti.
Setelah kondisi aman. Anak laki-laki itu perlahan keluar. Ia membopong sekarung tepung dengan susah payah. Wajahnya berlumuran keringat dan tepung. Wajahnya pucat. Ia tampak masih ketakutan. Rouf menghampirinya dan menawarkan bantuan. "Nak, mari Paman bantu!"
"Syukron, Paman."
Suasana haru menyelimuti Khan Younis sore itu. Di antara tenda-tenda ada tawa riang dan syukur anak-anak yang menyambut kedatangan ayah atau saudara mereka dengan sekarung tepung.
Rouf telah sampai di sebuah tenda milik anak laki-laki yang ia bantu. Empat anak kecil menghambur ke arah mereka. "Alhamdulillah! Kakak pulang. Abi, lihat kakak pulang membawa tepung. Kita bisa makan malam ini!" ucap mereka sambil berjingkrak.
"Alhamdulillah!" ucap seorang laki-laki yang tengah tergeletak di sebuah kasur tipis. Kakinya masih diperban karena dua hari lalu, peluru zi0nis melukainya.
Rouf memandang laki-laki itu. Wajah itu mengingatkannya pada seorang temannya. "Majid?" tanya Rouf. Sejak Rouf pindah ke Mesir, mereka tidak pernah menjalin kontak lagi. "Iya, Kau mengenalku?" tanya laki-laki itu. "Aku Rouf," jawab Rouf sembari memeluk sahabat masa kecilnya.
Mereka pun bercerita banyak hal. Majid menceritakan bahwa ia telah kehilangan istri dan putri bungsunya serta keluarga besarnya. Ia dan keluarganya kelaparan. Rumahnya juga telah hancur. Semua ini karena kebrutalan zi0nis dan diamnya para penguasa negeri muslim.
Siang itu, selepas menunaikan amanahnya, Rouf berjalan untuk mengunjungi Majid. Ia telah berjanji membawakan mujadara untuk Majid.
Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan dua ambulans. Di tepi jalan ada banyak orang berkerumun untuk salat jenazah. Tangisan pecah di sana.
Tadi malam zi0nis kembali membombardir Khan Younis. Dua puluh orang syahid termasuk anak-anak. Ada satu jenazah yang hendak dikafani. Rouf mengenal wajah itu. Wajah seorang laki-laki dengan tahi lalat di pipi kirinya. "Ya Allah, itu Majid. Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji'uun!" tangisnya pecah.
"Wahai, Saudaraku! Aku telah membawakan mujadara untukmu. Namun, Allah memberikan yang lebih baik untukmu." ucap Rouf di samping jenazah Majid sambil terisak.
Majid dan keempat buah hatinya telah kembali kepada Allah.
Sore yang kelabu seperti hati Rouf yang berduka atas kepergian sahabatnya. "Engkau benar, wahai Syekh Abdurrahman! Umat ini butuh pemerintahan Islam. Pemerintahan yang memberikan perlindungan sebagaimana Sultan Abdul Hamid II melindungi rakyat Palestina dan kaum muslimin semuanya!" tulis Rouf di akun X-nya. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: