Keteguhan Generasi Muda Gaza, Inspirasi Kita
Oleh> Naila Dhofarina Noor
(Pegiat Literasi)
SSCQMedia.Com—Gejolak perang di Gaza yang menjatuhkan banyak korban tidak memudarkan semangat para pemuda di sana untuk belajar, menghafal, hingga berjuang. Tidak ada istilah bunuh diri karena mental tidak kuat menghadapi situasi tersebut. Berita yang sampai kepada kita selalu menampilkan keteguhan mereka dalam mempertahankan iman dan kesungguhan mereka menjaga Masjid Suci Al-Aqsa.
Duck Syndrome di Negara Kapitalis
Sementara itu, sebagaimana diberitakan Universitas Stanford, Amerika Serikat, para mahasiswanya banyak mengalami duck syndrome. Iya, bebek. Saat bebek berenang, terlihat tenang, padahal kakinya berjuang keras menopang tubuhnya agar tetap berada di atas air.
Penderita sindrom ini tampak bahagia, padahal sejatinya tengah tertekan dengan banyak tuntutan. Mereka dihantui oleh perasaan tidak lebih baik dari yang lain, sekaligus merasa diawasi oleh sosok yang ditakuti. Begitulah yang dijelaskan di Alodokter.com (04/10/2025).
Fenomena ini nyatanya tidak hanya dialami mahasiswa di Amerika. Di belahan bumi lain, termasuk Indonesia, banyak generasi muda yang juga mengalaminya. Umumnya, mereka berupaya memenuhi ekspektasi tinggi terhadap dirinya sendiri, maupun ekspektasi dari orang-orang di sekitarnya.
Ketangguhan Generasi Gaza
Dua kondisi yang berkebalikan ini seperti ironi, dan penting untuk menjadi bahan introspeksi. Generasi Gaza, meski hidup dalam kondisi penjajahan yang tidak manusiawi, tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Dari remaja hingga orang tua, bahkan nenek-nenek, semuanya memiliki peran dalam memberikan pelajaran, menghidupkan diskusi, serta menumbuhkan semangat anak-anak Gaza.
Semua itu dilakukan semata untuk mempersembahkan di hadapan Allah generasi Qur’ani yang tangguh sebagai penjaga Al-Aqsa.
Walaupun kondisi sangat tidak stabil, anak-anak tetap memandang belajar sebagai kewajiban. Luar biasanya, meski orang tua telah syahid dan sanak saudara tak tersisa, mereka tidak berhenti menuntut ilmu bersama teman-temannya. Semangat itu tumbuh dari keyakinan lillahi ta‘ala.
Generasi Muda dalam Bayang-Bayang Kapitalisme
Berbeda dengan itu, generasi muda di banyak negara justru terjebak dalam gaya hidup kapitalistis. Perfeksionisme ala kapitalis membentuk pribadi yang materialistis dan permisif. Lebih jauh, mereka yang tidak mampu menjangkau gaya hidup tersebut mudah stres, bahkan memilih bunuh diri.
Akar masalahnya adalah lemahnya keimanan. Mereka tidak memahami prioritas amal, kepekaan politik terintimidasi oleh sikap represif pemerintah, dan pikiran mereka dipengaruhi buzzer-buzzer bayaran. Akibatnya, banyak yang merasa baik-baik saja dengan kondisi politik yang sebenarnya sangat keruh, padahal umat Islam membutuhkan suara dan perjuangan mereka.
Inilah buah dari sistem kapitalisme yang melahirkan banyak krisis multidimensi. Krisis tersebut tidak bisa diselesaikan secara individual, melainkan membutuhkan pergerakan komunal untuk melakukan perubahan.
Solusi untuk Generasi Muda
Hendaknya generasi muda yang mengalami duck syndrome diberikan inspirasi dari ketangguhan pemuda Gaza. Mereka perlu dikuatkan kembali hakikat identitasnya sebagai hamba Allah sekaligus agent of change.
Selain itu, penting untuk terus menegaskan bahwa kapitalisme adalah musuh bersama karena sistem inilah biang dari segala krisis dunia. Selanjutnya, umat harus menyatukan perjuangan dengan menyuarakan Islam sebagai sistem penyelamat kehidupan.
Wallahualam bissawab. [My]
Baca juga:
0 Comments: