Headlines
Loading...

Oleh. Amira
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Maryam, bocah kecil Palestina berusia enam tahun, berjalan murung bersama beberapa kawannya di tengah reruntuhan rumah mereka. Sorot mata yang semula berusaha mencari sisa-sisa barang keluarga kini basah oleh air mata. Tak ada lagi yang utuh tersisa. Semua hancur.

Boneka, mainan, hingga perabot kecil yang ingin mereka selamatkan sudah lenyap menjadi debu. Maryam tiba-tiba berteriak keras,

“Dzalik!”

Kawan-kawannya terkejut. Mereka menoleh ke arah Maryam yang berjalan paling belakang. Maryam terus menunjuk ke satu sisi perempatan jalan. Yusuf dan Azzam ikut menoleh, namun masih kebingungan.

“Apa?!” seru Yusuf sambil mengangkat kepala.

Maryam menjawab bersemangat, “Parasut! Parasut bantuan!”

Anak-anak lain mengerutkan dahi. Mereka bingung karena jari Maryam menunjuk ke bawah tanah, sementara lisannya menyebut parasut yang biasanya melayang di udara. Mereka menatap langit, tetapi tak ada satu pun parasut bantuan yang tampak. Padahal mereka sangat berharap, seandainya makanan bisa datang, rasa lapar itu mungkin sedikit terobati.

Maryam berlari kencang ke arah kain tebal yang ia maksud.

“Hadza!” serunya lantang, sambil menginjak dan menunjuk kain besar tersebut.

Semua kawannya pun berlari mendekat, penasaran melihat senyum lebar yang menghiasi wajah Maryam.

“Buat apa?” tanya Azzam.

“Ayo, ini bisa jadi mainan sambil latihan juga!” jawab Maryam.

“Maksudnya gimana?” Azzam masih heran.

Maryam menjelaskan, “Ini kan kain parasut terjun yang tebal dan lebar, pasti kuat. Bagaimana kalau kita pakai untuk permainan lompat-lompat sambil olahraga? Itu bisa melatih tenaga kita juga kalau suatu saat terkena serangan Israel.”

Yusuf menggaruk kepalanya. “Terus, cara mainnya gimana?”

“Gini,” kata Maryam. “Kita bentangkan kainnya. Lalu kita hompimpa atau suit jari dulu untuk menentukan pemenang. Setelah itu, pemenang berdiri di tengah kain, sementara yang lain memegang sisi-sisi parasut dan menggerakkannya naik turun seperti gelombang.”

Maryam mengangkat alisnya dan menambahkan, “Seru, kan? Kaki kita jadi kuat, biar bisa berlari di tengah reruntuhan bangunan yang bergelombang kayak ombak ini.”

Anak-anak lain mengangguk pelan. “Iya juga sih,” sahut mereka lirih.

Mereka pun segera membuka dan membentangkan kain parasut itu. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika menemukan sebungkus roti tersimpan di dalamnya.

“Alhamdulillah!” teriak Azzam.
“Allahu Akbar!” teriak Yusuf lebih keras.
“Masya Allah!” seru Daud.

Anak-anak yang lain ikut bersorak gembira. Sayangnya, kegembiraan itu berubah jadi perebutan. Mereka hampir bertengkar, saling pukul, dan mencakar.

Maryam segera melerai. “Inna lillah! Sabar! Sabarlah, kawan! Jangan bertengkar. Sebungkus roti ini masih bisa kita bagi rata, meski secuil saja. Kalau kalian bertengkar, ukhuwah Islamiyah akan hilang, kita berdosa besar, Allah murka, dan musuh Israel justru bahagia karena tanpa menembakkan peluru pun, kita sudah saling menyakiti!”

Anak-anak itu terdiam. Mereka sadar Maryam benar. Akhirnya mereka saling meminta maaf, lalu membagi roti yang hanya berisi dua lembar itu menjadi lima bagian kecil. Mereka menikmatinya bersama.

Setelah itu, permainan dimulai. Meski napas mereka terengah-engah dan tenggorokan kering tanpa air minum akibat blokade Israel, tawa riang tetap terdengar. Permainan itu melegakan hati, melunakkan emosi, sekaligus melatih diri agar kuat menghadapi musuh yang semakin menzalimi.

Namun, tanpa mereka sadari, dua orang pasukan Zionis Israel sudah mendekat, bersembunyi di balik reruntuhan bangunan. Sambil saling memberi isyarat, mereka bersiap menembak bocah-bocah itu agar calon generasi mujahid berkurang.

Senapan sudah diarahkan. Namun, gaya permainan Maryam dan kawan-kawannya yang begitu aktif membuat bidikan mereka meleset. Salah satu tentara menggigit bibir bawahnya, frustrasi. Yang lain memberi tanda untuk menembak secara acak.

“Duar! Duar! Duar!”

Tembakan dilepaskan. Tetapi, alhamdulillah, tidak satu pun anak terkena. Peluru hanya lewat nyaris mengenai mereka. Serentak anak-anak itu berteriak,

“Allah!”

Mereka pun lari ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri. Maryam juga berlari sekuat tenaga. Ia sempat jatuh tersungkur di atas reruntuhan, tetapi insya Allah, ia masih kuat bangkit dan terus berlari. Air matanya mengalir, mulutnya tak henti berzikir,

“La haula wa la quwwata illa billahil-‘aliyyil-‘adzim...”

Ia berlari hampir satu kilometer menuju tenda pengungsian di halaman sekolah. Alhamdulillah, Maryam selamat.

Ketika masuk ke dalam tenda, ibunya terkejut melihat tubuh kecil itu begitu lemah. Ia memeluk Maryam erat, air matanya bercucuran.

“Kenapa, Nak?” tanyanya cemas.

Maryam terengah-engah, hanya memberi isyarat dengan tangan minta minum.

“Maaf, Sayang ... airnya belum ada, Nak. Abimu sejak pagi pergi mencari bantuan, tapi belum juga pulang ...” jawab ibunya lirih.

Ibunya pun semakin erat memeluknya. “Apakah kamu diserang?” tanyanya.

Maryam mengangguk pelan. Ibunya ikut menangis, hatinya bergejolak antara syukur karena anaknya selamat dan kecewa pada dunia yang membiarkan penderitaan ini.

Dalam hatinya ia bertanya-tanya,
“Jika bantuan sudah banyak diberikan, mengapa tak sampai pada kami? Mengapa kaum kejam dibiarkan berkuasa? Di mana tali kemanusiaan? Di mana ukhuwah Islamiyah bagi orang yang mengaku beriman? Bukankah kelak Allah akan menanyakan nikmat yang telah Ia berikan dan meminta pertanggungjawaban?” 

Maryam menangis lebih deras. Tak setetes pun air tersedia. Tenggorokannya kering, hingga ia hanya bisa meneguk air matanya sendiri sebagai pelepas dahaga. [My]

Baca juga:

0 Comments: