Headlines
Loading...
Indonesia Cemas, Islam Solusi Cerdas

Indonesia Cemas, Islam Solusi Cerdas

Oleh. Imas Sunengsih, S.E., M.E.
(Aktivis Muslimah Intelektual)

SSCQMedia.Com—Mencekam! Inilah kondisi Indonesia hari ini. Huru-hara terjadi di seluruh penjuru negeri. Demo yang berakhir ricuh dengan pembakaran marak menghiasi negeri. Mereka menuntut keadilan pemerintah yang sudah berlaku zalim. Banyak kebijakan yang membebani rakyat sehingga membuat rakyat menderita. Ditambah lagi dengan kenaikan berbagai tunjangan yang dibumbui pernyataan para wakil rakyat yang menyakitkan hati, akhirnya tercetuslah demo penuh kemarahan.

Sejak 25 Agustus hingga 1 September 2025, demo terus berlangsung di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Sebagaimana dilansir Kompas.com (1/9/2025), sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi di beberapa titik di wilayah Jakarta.

Demo ini dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, dan buruh. Mereka menuntut, di antaranya, pengesahan UU Perampasan Aset, kenaikan upah, penuntasan kasus pengemudi ojol, dan tuntutan lainnya. Jika dicermati, semua ini terjadi akibat diterapkannya sistem kapitalisme-sekularisme yang mengatur negeri.

Sistem kapitalisme tersebut hanya berpihak pada oligarki, bukan pada rakyat. Akhirnya, rakyat muak dengan sejumlah kebijakan yang menyengsarakan. Kapitalisme juga melahirkan sistem pemerintahan demokrasi, di mana semua struktur pemerintahan dipilih rakyat, tentu dengan biaya yang mahal.

Demokrasi melahirkan para pejabat yang hanya peduli pada diri dan partainya. Saat menjabat, mereka memastikan modal yang dikeluarkan bisa kembali. Berbagai cara pun ditempuh untuk mengembalikan modal. Maka lahirlah pejabat korup. Korupsi pun semakin menggurita, bahkan dana haji turut dikorupsi. Rakyat kini sadar bahwa Indonesia tengah berada dalam kecemasan besar, sehingga dibutuhkan solusi yang cerdas.

Solusi Islam

Islam merupakan sistem yang komprehensif yang Allah Swt. berikan kepada manusia untuk mengatur semua aspek kehidupan. Sistem ini terbukti pernah diterapkan selama belasan abad, mulai dari masa Rasulullah Saw. hingga Khilafah Utsmaniyah di Turki. Setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 3 Maret 1924, sistem Islam kafah tidak lagi diterapkan. Artinya, sudah hampir 101 tahun Islam tidak dijadikan aturan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kita bisa melihat dampak ketika aturan Allah Swt. tidak diterapkan, yakni kerusakan yang nyata. Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah dengan tanggung jawab yang sangat berat di hadapan Allah Swt. Para sahabat dan orang saleh dahulu sangat takut memegang kekuasaan karena khawatir tidak mampu menunaikannya dengan baik. 

Hal ini sangat berbeda dengan sistem kapitalisme-demokrasi hari ini, di mana kekuasaan justru menjadi ajang rebutan karena begitu menggiurkan, dengan gaji besar dan fasilitas mewah. Padahal setiap perbuatan manusia, terlebih sebagai pengurus rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Dalam sistem Islam, kepemimpinan akan melahirkan orang-orang beriman dan bertakwa, dengan dedikasi tinggi terhadap Islam. Hal ini terbukti pada masa Khulafaur Rasyidin yang mengurus rakyat dengan penuh tanggung jawab dan memberikan pelayanan terbaik. Umar bin Khattab, misalnya, menyusuri kampung untuk mencari rakyat yang kelaparan. Ketika menemukannya, beliau sendiri yang memanggul gandum untuk diberikan. Contoh pemimpin seperti ini hanya lahir dari sistem Islam kafah, dan hal itu tidak terbantahkan.

Harus dipahami bahwa hanya sistem Islam kafah yang menjadi solusi cerdas untuk menyelesaikan problematika hari ini. Bukan sekadar mengganti orang, melainkan mengganti sistem rusak dengan sistem yang benar, yakni sistem Islam. Inilah arah perjuangan kita untuk mewujudkan Indonesia emas, bukan Indonesia cemas.

Perjuangan ini harus mencontoh Rasulullah Saw. ketika mendirikan negara di Madinah, dengan memahami fikrah dan thariqah perjuangannya. Perubahan yang dibutuhkan bersifat revolusioner, sehingga memerlukan kerja keras dan kerja sama seluruh elemen umat Islam. Tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus berjamaah bersama kelompok ideologis.

Maka, sudah saatnya kita rapatkan barisan, satukan langkah, dan berpegang teguh pada tali agama Allah untuk menyongsong kemenangan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, serta ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.”

Wallahualam bissawab. [Rn]

Baca juga:

0 Comments: