Headlines
Loading...
Generasi Gaza: Tangguh, Qur’ani, dan Inspiratif

Generasi Gaza: Tangguh, Qur’ani, dan Inspiratif

Oleh. Ummu Ahtar
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

SSCQMedia.Com — Anak-anak Gaza bukanlah anak-anak biasa. Mereka tidak hanya hebat dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga tangguh menghadapi perang yang tidak seimbang melawan Zionis Israel. Dukungan penuh Amerika Serikat kepada Israel membuat kekuatan menjadi timpang. Sementara itu, warga Gaza berjuang sekuat tenaga mempertahankan tanah kaum muslimin, Palestina.

Kondisi ini diperburuk dengan upaya sistematis Zionis untuk mengosongkan Gaza. Zionis biadab itu melakukan pengeboman terhadap pusat pendidikan, kesehatan, dan fasilitas publik. Bahkan mereka menargetkan warga sipil yang sedang mencari bantuan makanan. Berdasarkan laporan UNRWA dan OCHA, pengiriman bantuan ke Gaza sangat terbatas. Sejak blokade pada Maret 2025, hanya 2.205 truk kemanusiaan yang berhasil masuk dengan rata-rata harian 76 truk. Padahal sebelumnya bisa mencapai 500 truk per hari (Metrotvnews.com, 3 April 2025).

Strategi keji berupa kelaparan pun diterapkan. Akibatnya, 235 orang meninggal karena kelaparan dan malnutrisi. Meski perang berjalan berat sebelah, di tengah tekanan dan keterbatasan, anak-anak Gaza tetap menyelesaikan pendidikan mereka, meskipun banyak di antaranya tanpa didampingi orang tua yang telah syahid (Aljazeera.com, 18 Mei 2025).

Generasi Gaza sebagai Teladan

Ketabahan anak-anak Gaza dalam menyelesaikan pendidikan di tengah konflik menjadi inspirasi luar biasa bagi generasi hari ini. Tentu saja, sikap mereka tidak lepas dari kesadaran umat Islam di Palestina yang menanamkan keyakinan bahwa Al-Quds adalah milik kaum muslimin.

Al-Quds harus dijaga dengan darah dan nyawa. Walaupun dalam kondisi perang, semangat belajar mereka tetap berjalan. Orang tua yang masih hidup terus memberi bimbingan kepada anak-anak Gaza agar tidak meninggalkan pendidikan. Pengajaran Al-Qur’an membentuk mereka menjadi generasi berkepribadian Islam yang tangguh, penjaga Al-Aqsa.

Contohnya adalah anak balita jurnalis syahid, Anas Al Sharif. Sejak lahir mereka ditanamkan akidah kuat, tidak takut, dan tidak meninggalkan tanah Gaza dari serangan Zionis. Inilah gambaran kekuatan akidah yang ditanamkan pada anak-anak Gaza.

Krisis Generasi tanpa Islam

Berbeda dengan generasi muslim di banyak negara lain, sebagian dari mereka sibuk mengejar popularitas, hidup glamor, mengidolakan selebritas, atau mengejar kesuksesan dunia semata. Semua dilakukan tanpa tujuan jelas, bahkan sering kali menabrak aturan agama.

Fenomena duck syndrome atau sindrom bebek kian menjalar. Kondisi ini diibaratkan bebek yang tampak tenang berenang, tetapi sebenarnya mengerahkan tenaga besar di bawah permukaan tanpa arah dan keselamatan.

Psikolog dari Unit Pengembangan Karier dan Kemahasiswaan (UKK) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Anisa Yuliandri, menjelaskan bahwa istilah duck syndrome pertama kali digunakan untuk menggambarkan mahasiswa Universitas Stanford yang tampak tenang, tetapi sebenarnya mengalami depresi mendalam (Kompas.com, 12 Juni 2025).

Generasi yang terpapar sindrom ini berbahaya karena lahir dari paham sekularisme-kapitalisme. Apa pun yang dilakukan berpusat pada keuntungan materi atau popularitas, sehingga wajar jika aktivitas mereka jauh dari aturan agama. Akibatnya, banyak lahir generasi yang bingung arah hidupnya.

Padahal Allah telah menegaskan tujuan penciptaan manusia, yakni beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam Al-Qur’an surah Adz-Dzariyat ayat 56. Maka, manusia seharusnya tunduk pada syariat Islam tanpa mencampuradukkan antara yang hak dan batil.

Gaza Harus Diselamatkan

Ketangguhan anak-anak Gaza harus dibayar dengan solusi syar’i untuk mengakhiri perang. Gaza membutuhkan penyelamat, sebagaimana Khalifah Umar bin Khaththab dahulu menaklukkan Yerusalem.

Rasulullah Saw. bersabda:

"Sesungguhnya seorang imam itu adalah perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya dia akan mendapatkan pahala. Tetapi jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadirnya kembali Khalifah di tengah umat akan menyatukan kaum muslimin dan memberikan kekuatan politik yang besar untuk menghukum Zionis Israel dan Amerika Serikat. Kembalinya Khilafah akan membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Maka, perjuangan awal yang harus dilakukan adalah bersama kelompok Islam ideologis yang mendakwahkan Islam kaffah. Seperti Rasulullah saw. yang mengubah kehidupan jahiliah Mekah dengan hijrah ke Madinah, kemudian menegakkan Daulah Islam.

Kekuatan kaum muslimin di bawah naungan negara Islam menjadi perisai yang melindungi mereka. Karena itu, Khilafah adalah janji Allah yang tidak akan tegak tanpa perjuangan umat, sebagaimana perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabat dahulu.

Wallahualam bissawab. [ry]

Baca juga:

0 Comments: