Setiap Orang Akan Masuk Surga Kecuali yang Enggan
Oleh: Rina Herlina
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Setiap manusia yang meyakini adanya surga dan neraka pasti berharap surga sebagai tempat kembali. Tak peduli sebanyak apa pun maksiat yang dilakukan, tetap berharap mati dalam keadaan husnul khatimah. Masalahnya, surga tidak dapat diraih dengan mudah, apalagi hanya dengan berleha-leha. Perlu upaya maksimal agar kita dapat meraih tempat mulia tersebut.
Rasulullah saw. menegaskan melalui sabdanya bahwa “setiap orang akan masuk surga kecuali yang enggan”.
Namun, hari ini justru banyak di antara kita yang seolah enggan masuk surga dan menganggap remeh. Bahkan, sempat viral di jagat maya seorang kreator konten menjadikan neraka sebagai bahan lelucon. Menurut saya, hal tersebut tentu merupakan sebuah problem sekaligus bukti nyata merosotnya iman umat Islam hari ini. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi?
Padahal sejatinya, surga dan neraka itu nyata adanya. Sungguh tidak etis jika kita menjadikan neraka sebagai lelucon demi sebuah konten. Meski neraka tidak terlihat secara kasatmata, bukan berarti tidak ada. Neraka itu nyata. Setiap umat Islam yang mempelajari ajaran Islam secara mendalam dan menyeluruh pasti meyakininya, apalagi Al-Qur’an telah banyak menyebutkan tentang neraka dan siksaan di dalamnya.
Seharusnya, dengan banyaknya kabar tentang bagaimana Allah melaknat orang-orang yang durhaka dan memasukkannya ke neraka, kita semakin sadar dan memperbaiki kualitas diri, bukan malah hidup semaunya dan lalai dalam menjalankan kewajiban. Iblis akan selalu membisikkan rayuannya agar kita semakin terjerumus dan jauh dari kebaikan serta ketaatan.
Iblis akan terus melakukannya karena ia menginginkan banyak manusia tersesat, agar semakin banyak yang menemaninya menghuni neraka. Sebagaimana kita ketahui bersama, iblis sudah Allah golongkan sebagai makhluk hina karena kesombongannya, sehingga ia meminta penangguhan sampai hari kiamat dan bertekad menjerumuskan banyak manusia agar sama-sama menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian, lalu Kami bentuk tubuh kalian, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kalian kepada Adam’, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.
Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis pun menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak pantas menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’
Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’”
(QS. Al-A‘raf [7]: 11–15)
Bahkan iblis juga berkata bahwa ia akan mendatangi manusia dari segala penjuru—dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri—untuk menghalangi manusia menempuh jalan lurus (jalan yang Allah rida). Tujuannya tentu agar manusia tidak selamat dan binasa sebagaimana nasib iblis.
Iblis juga berkata di hadapan Allah swt., “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” Ia menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa Allah swt. tidak akan mendapati sebagian besar anak Adam bersyukur, beriman, bertauhid, dan taat kepada Allah karena ia akan berusaha maksimal menyesatkan manusia.
Luar biasa sumpah iblis untuk menyesatkan manusia dan menggiringnya ke neraka. Karena itu, harus ada upaya dari kita untuk melawan bisikan-bisikannya dan meminta perlindungan kepada Allah agar selamat dan dapat meraih surga dengan segala kemuliaannya.
Meski iblis sudah bersumpah akan menyesatkan semua manusia, ia tidak akan pernah bisa menyesatkan manusia yang senantiasa ikhlas beribadah kepada Allah (mukhlis/mukhlishin). Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, bahwa iblis tidak memiliki kuasa atas hamba-hamba Allah yang terpilih dan ikhlas.
Oleh karena itu, ikhlas adalah kunci agar kita terhindar dari gangguan iblis. Ibadah yang kita lakukan harus semata-mata karena Allah, hanya mengharap rida-Nya, bukan yang lain. Jangan sampai iblis berhasil mempengaruhi kita dengan beragam bisikan dan tipu dayanya.
Dengan demikian, Allah akan menjaga hamba-hamba-Nya yang ikhlas dari berbagai bentuk penyesatan iblis. Meski iblis akan selalu berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai cara—menghiasi perbuatan maksiat agar tampak indah, membisikkan keraguan, dan membuat lalai dari ibadah—kita tetap dapat bertahan.
Maka, kita harus senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaatan kepada Allah karena itu adalah benteng utama dalam menghadapi godaan iblis. Kita juga harus menjauhi perbuatan dosa dan maksiat serta selalu mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari penyesatan iblis.
Kita pun harus selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah. Dengan begitu, kita dapat membentengi diri dari tipu daya iblis. Singkatnya, untuk selamat dari penyesatan iblis, seorang Muslim harus senantiasa menjaga keikhlasan dalam beribadah, memperkukuh iman, menjauhi maksiat, dan berpegang teguh pada ajaran Islam. Semoga dengan semua itu, kita kelak dapat meraih jannah-Nya. Aamiin.
Tasikmalaya, 25 Juli 2025
Baca juga:

0 Comments: