Oleh: Rina Herlina
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Sampai saat ini, kondisi penduduk Gaza, Palestina, masih sama: tertindas, kelaparan, dan diabaikan dunia. Meski sebagian besar aktivis kemanusiaan turut menyuarakan keprihatinannya serta mengecam perbuatan Zionis Israel, semua itu belum mampu melepaskan Palestina dari cengkeraman dan kebiadaban Zionis Israel.
Sudah lebih dari 59 ribu warga Palestina tewas di Gaza sejak Oktober 2023, termasuk setidaknya 113 orang yang meninggal akibat kelaparan akut, sebagaimana disampaikan otoritas kesehatan setempat.
Bahkan, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa blokade Israel telah mendorong Gaza ke ambang “kelaparan massal”. Sementara itu, Kepala Badan Pengungsi Palestina PBB (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengakui telah melakukan upaya dan meminta pihak Israel mengizinkan serta memberi akses bagi 6.000 truk bantuan yang akan memasuki Gaza. Namun, truk-truk tersebut saat ini tertahan di Mesir dan Yordania (news.republika.co.id, 26-07-2025).
Zionis Yahudi semakin meningkatkan kebiadabannya. Perbuatan mereka sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mereka berperilaku layaknya bukan manusia—menganiaya dan membunuh seolah hal biasa. Kini, mereka membunuh secara perlahan penduduk Palestina dengan membiarkan mereka menderita menghadapi krisis kelaparan yang menyiksa, seolah sengaja menciptakan kondisi tersebut sebagai bentuk genosida gaya baru.
Saat ini, sekitar dua juta penduduk Gaza yang terjebak dalam blokade merasakan kelaparan luar biasa. Sejak gencatan senjata enam pekan gagal diperpanjang dan Israel memberlakukan blokade penuh pada 2 Maret 2025, nyaris tidak ada bantuan yang masuk. Kalaupun ada, truk bantuan hanya diperbolehkan masuk dalam jumlah sangat terbatas, bahkan nyaris sekadar simbolis belaka.
Akibatnya, penduduk Palestina makin menderita karena kelaparan yang teramat luar biasa. Banyak dari mereka mati secara perlahan. Anak-anak pun banyak yang mengalami malnutrisi hingga berujung kematian. Jelaslah, membiarkan penduduk Palestina kelaparan adalah bentuk genosida yang sangat keji.
Kekejaman Zionis sejatinya tidak akan berakhir hanya dengan retorika, kecaman, dan bantuan kemanusiaan, apalagi Amerika Serikat selalu berada di pihak Zionis Israel dan membela kepentingannya. Bahkan, AS tidak segan menggunakan hak veto di PBB untuk menunjukkan dukungannya. PBB, yang katanya organisasi perdamaian dunia, nyatanya tidak mampu berbuat apa-apa, seolah tutup mata terhadap persoalan Palestina.
Mirisnya, para penguasa negeri Muslim juga seolah mati rasa dan abai terhadap penderitaan saudaranya. Sikap demikian sejatinya juga termasuk abai pada seruan Allah dan Rasulullah saw.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari No. 6011 dan Muslim No. 2586)
Lebih miris lagi, kondisi umat Islam saat ini telah termakan propaganda Barat, sehingga sama sekali tidak memiliki kekuatan dan cenderung lemah di segala lini. Hal ini membuat umat Islam semakin tercerai-berai dan kehilangan arah. Dalam kondisi yang sedemikian menyedihkan, akan sangat sulit untuk berdiri kokoh membela saudara di Palestina.
Umat Islam saat ini terpuruk di segala bidang. Para penguasa negeri Muslim pun seolah tidak mampu berbuat banyak. Bahkan, mereka cenderung memilih bungkam dan berkhianat terhadap saudaranya. Akhirnya, umat Islam menyerah dan memilih untuk tidak peduli, hanya memikirkan diri, keluarga, dan bangsanya.
Sekat nasionalisme telah membuat umat Islam kehilangan kekuatan. Padahal, jika bersatu dalam satu kepemimpinan, umat Islam memiliki kekuatan luar biasa, sebagaimana pada masa lalu ketika Islam pernah berjaya memimpin peradaban dunia selama hampir 13 abad. Itu adalah pencapaian gemilang yang hanya terwujud tatkala umat Islam bersatu.
Umat Islam memiliki kekuatan yang bersumber dari akidah yang kukuh. Dalam sejarah, kekuatan ini terbukti mampu membuat musuh gentar. Situasi seperti itu seharusnya dibangkitkan kembali demi membela kehormatan saudara di Palestina.
Umat harus kembali disadarkan akan solusi hakiki untuk persoalan Palestina, yaitu jihad dan tegaknya kembali Khilafah. Penyadaran ini harus dilakukan secara masif agar umat segera bangkit. Bukti-bukti kejahatan Zionis sudah nyata di depan mata, dan solusinya hanya satu: jihad di bawah komando seorang khalifah.
Semua anggota jemaah dakwah ideologis harus menjadi pemimpin umat dalam menentukan arah perubahan—dari sistem kufur kembali kepada sistem Islam—serta mengembalikan kemuliaan Islam yang hanya terwujud ketika khilafah kembali tegak. Pemikiran umat harus terus dibangkitkan melalui metode yang diajarkan Rasulullah saw.
Dengan demikian, kelak akan kita dapati umat Islam yang berpikiran cemerlang, optimis, dan semangat dalam perjuangan mengikuti thariqah dakwah Rasulullah saw.
Wallahu a‘lam.
Baca juga:

0 Comments: