#motivasi
Kemenangan, Kemerdekaan, dan Kebahagiaan Hakiki
Challenge Motivasi
Oleh. Ratty S. Leman
Apa itu arti hakiki? Menurut kamus besar Wikidata, hakiki artinya benar; sebenarnya; sesungguhnya. Contoh : Orang yang melaksanakan ajaran Islam secara sempurna akan mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
Pertanyaan berlanjut pada apa itu kebahagiaan yang hakiki? Imam Al-Ghazali, menyebut bahwa kebahagiaan terbagi dua, yaitu kebahagiaan majazi dan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan majazi merupakan kebahagiaan duniawi yang hanya bersifat fana, sedangkan kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan ruhani yang mengantarkan kita pada kebahagiaan akhirat.
Kebahagiaan duniawi bisa didapatkan oleh semua orang baik yang beriman maupun tidak beriman, namun kebahagiaan ruhani hanya didapatkan oleh orang yang beriman sedang berilmu dan berakal. Kebahagiaan hakiki (ruhani) dapat diraih karena adanya koneksi dengan Allah dengan keimanan dan ketaqwaan. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an surat Ar Rad ayat 28 :
الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْا ÙˆَتَØ·ْÙ…َÙ‰ِٕÙ†ُّ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبُÙ‡ُÙ…ْ بِذِÙƒْرِ اللّٰÙ‡ِ ۗ اَÙ„َا بِذِÙƒْرِ اللّٰÙ‡ِ تَØ·ْÙ…َÙ‰ِٕÙ†ُّ الْÙ‚ُÙ„ُÙˆْبُ ۗ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Hati yang tenang dan tentram adalah indikator kebahagiaan. Namun kebahagiaan ini harus diperjuangkan dengan perjuangan yang hakiki pula agar hati menjadi tenang dan tentram.
Apa yang dimaksud dengan perjuangan hakiki? Perjuangan hakiki adalah perjuangan atau upaya yang menjadikan hidup ini sesuai dengan misi dan visi kita di dunia, yaitu sesuai dengan Al Quran surat Az Dzariyat 56 yang artinya: "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku."
Para pejuang hakiki seharusnya tidak akan ragu atas kesuksesan yang akan diraih sekalipun berbagai rintangan menghadangnya. Mereka senantiasa yakin kebenaran akan datang menggantikan kebatilan selama mereka istikamah menempuh jalan yang benar.
Para pejuang hakiki ingin agar kemenangannya juga kemenangan yang hakiki. Kemenangan hakiki dan orientasi orang beriman adalah akhirat dengan mendapatkan rida Allah Swt, dunia adalah sarana untuk menggapai akhiratnya dan meraih surga.
"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya"
(QS Al Imran 185).
Kemenangan hakiki inilah yang ingin kita raih dari kemerdekaan yang hakiki pula. Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika kita sebagai manusia menyadari tentang tugas dan kewajiban kita di dunia dan paham mengenai hakikat penciptaan manusia. Betapa indah dan merdekanya hidup dalam menghamba kepada Allah.
Merenungi makna dari kalimat-kalimat di atas seperti perjuangan hakiki, kemenangan hakiki, kemerdekaan hakiki. Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari makna-makna itu melihat fakta saat ini? Kita senantiasa bergembira di hari kemerdekaan di bulan Agustus ini. Apa benar kita sudah merdeka secara hakiki dari penjajahan?
Kita memang sudah tidak dijajah lagi secara fisik seperti rakyat Palestina. Tapi kekayaan alam kita dikeruk para penjajah, politik kita diarahkan para penjajah, sosial budaya kita dibentuk penjajah, pertahanan dan keamanan kita tergantung dari para penjajah. Kita memang tidak lagi dijajah secara fisik tetapi pemikiran kita dijajah. Kita ingin merdeka tetapi sejatinya bukan kemerdekaan sejati yang kita dapatkan. Kita merdeka dengan banyak syarat. Padahal kemerdekaan yang sesungguhnya adalah penghambaan kepada Allah saja. Tetapi kita masih menghamba kepada sesama makhluk Allah. Maka kesimpulannya kemerdekaan kita saat ini bukanlah kemerdekaan yang hakiki.
Saat ini kemerdekaan yang hakiki mungkin hanya dimiliki oleh rakyat Palestina. Mereka merdeka, hanya mau patuh dan tunduk kepada hukum Allah. Mereka tidak rida tunduk dan patuh kepada hukum penjajah. Mereka dijajah secara fisik tetapi sesungguhnya akal pikiran mereka merdeka.
Silakan dipikirkan secara mendalam. Apakah kita sudah merdeka secara hakiki atau hanya kemerdekaan semu yang kita raih? Masih beranikah berteriak merdeka di saat biaya pendidikan menjulang tinggi? Tak ada yang ingin mencerdaskan rakyat. Semua harus ada uang. Dimana ada uang, maka ada mutu atau kualitas pendidikan. Jika tidak ada uang, jangan berharap bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak.
Masih lantangkah berteriak merdeka? Jika harga-harga kebutuhan sehari-hari terus meroket sementara nilai uang semakin berkurang. Kemiskinan terus bertambah, pengangguran semakin banyak, lapangan kerja semakin sempit, biaya hidup melonjak tinggi sedang pendapatan masyarakat makin merosot tajam.
Akibat beban hidup yang berat yang dirasakan masyarakat kelas bawah, muncul kejahatan di mana-mana. Pencurian, perampokan, penodongan, penjambretan, begal, dan kejahatan lainnya yang dilakukan rakyat kecil. Sedangkan untuk masyarakat kelas atas dilakukan kejahatan korupsi, kolusi, nepotisme, penjualan aset-aset negara, dan lain sebagainya.
Masih lantangkah berteriak merdeka jika rakyat masih banyak yang miskin, lapar, tak berpendidikan, dan tak terjangkau akses untuk menjaga kesehatannya? Biaya kesehatan menjadi mahal karena pelayanan kesehatan dikapitalisasi. Semua sektor dikapitalisasi sehingga tidak ada peran negara di dalam mengurusi masalah kesehatan rakyatnya. Ada uang bisa berobat sesuka hati. Tak ada uang, jangan berharap pelayanan kesehatan yang baik.
Jadi sesungguhnya apa peran sebuah negara? Sejatinya sebuah negara lahir adalah untuk mengurusi urusan rakyatnya baik dari segi ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, politik, kehidupan sosial budaya, dan pertahanan keamanannya. Tapi apakah sudah dilakukan semua itu? Atau sekedarnya saja?
Fungsi negara menurut ajaran Islam adalah mengurusi urusan umat. Dalam hal ini termaktub dalam maqasid syariah. Maqashid syariah adalah tujuan-tujuan syariat dan rahasia-rahasia yang dimaksudkan oleh Allah dalam setiap hukum dari keseluruhan hukum-Nya. Adapun maqasid syariah adalah sebagai berikut :
1.Menjaga Agama
Sebagai bentuk penjagaan Islam terhadap agama, maka negara wajib melindungi agama rakyatnya.
2. Menjaga Jiwa
Dalam rangka menjaga keselamatan jiwa manusia, Allah Swt mengharamkan membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan oleh Islam. Jika terjadi sebuah pembunuhan, wajib atasnya ditegakkan qishas (QS. Al-Baqarah 178). Selain larangan menghilangkan nyawa orang lain, Islam juga melarang bunuh diri. (QS. An-Nisaa 29). Maka negara wajib melindungi jiwa rakyatnya baik secara preventif maupun kuratif.
3. Menjaga Pikiran
Syariat Islam melarang minuman keras, narkotika, dan apa saja yang dapat merusak akal. Ini bertujuan untuk menjaga pikiran manusia dari apapun yang dapat mengganggu fungsinya. Negara berkewajiban menjaga pikiran warganya tetap sehat.
4. Menjaga Keturunan
Menjaga keturunan adalah landasan diwajibkannya memperbaiki kualitas keturunan, membina sikap mental generasi penerus agar terjalin rasa persahabatan di antara sesama umat manusia, dan diharamkannya zina serta perkawinan sedarah. Negara wajib melarang perzinaan dan penyimpangan seksual lainnya.
5. Menjaga Harta
Untuk memperoleh harta yang halal, syariat Islam membolehkan berbagai macam bentuk muamalah. Untuk menjaganya, Islam mengharamkan umatnya memakan harta manusia dengan jalan yang batil, misalnya mencuri, riba, menipu, mengurangi timbangan, korupsi, dan lain-lain. Negara wajib menjaga harta rakyatnya.
Perjuangan hakiki untuk meraih kemenangan kemerdekaan hakiki, tidak bisa ditempuh dengan cara lain selain oleh aturan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Maka wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan fikrah dan thariqah yang telah digariskan oleh Allah. [YS]
Baca juga:
0 Comments: