Challenge Motivasi
Oleh. Ratty S Leman
Di dalam Al Qur'an telah dijelaskan beberapa ayat yang berbicara tentang arti "membela" ini. Di antaranya :
ÙŠٰٓاَÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْٓا اِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللّٰÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ اَÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad 7)
Membela kebenaran adalah kewajiban seorang muslim. Kebenaran yang bagaimana? Tentu saja kebenaran yang mutlak dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Bukan kebenaran menurut masing-masing individu atau sekelompok orang.
Kebenaran harus mutlak milik Allah sebagai Dzat Yang Maha Benar dengan segala firman Nya. Kebenaran milik manusia atau kelompok adalah kebenaran semu karena hanya menurut prasangka yang lemah dan tidak mendasar.
Kasus terbaru adalah larangan mengenakan jilbab bagi pengibar bendera di IKN. Mengenakan jilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kebenaran karena ini adalah kewajiban seorang muslim yang beriman. Kewajiban mengenakan jilbab ini Allah perintahkan di dalam Al Qur'an surat Al Ahzab 59 dan surat An Nur 31:
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS Al Ahzab 59).
"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS An Nur 31).
Membaca dan memahami kedua surat tersebut seharusnya sebagai muslimah yang mengaku beriman pasti akan segera melaksanakan perintah Allah itu. Tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa alasan apapun. Termasuk alasan harus mematuhi peraturan cara berpakaian pengibar bendera.
Semua aturan selain aturan Allah harus ditempatkan lebih rendah atau dibawahnya. Aturan turunan apapun itu harus sesuai dengan aturan paling tinggi yakni Al Qur'an. Jika ada aturan yang melanggar Al Qur'an maka harus ditolak demi membela kebenaran yang mutlak.
Seharusnya para siswa petugas paskibraka itu tidak rida ketika ada peraturan untuk melepas jilbabnya saat bertugas. Aturan macam apa ini? Ini cuma aturan manusia yang menyalahi aturan Allah. Allah harus kita tempatkan pada kedudukan yang tertinggi. Pulang dan tidak usah menjadi petugas paskibraka.
Para orangtua yang mengetahui aturan ini pun seharusnya meminta anaknya pulang dan tidak melanjutkan tugas yang tidak sesuai dengan kebenaran mutlak ini. Bukannya malah minta izin ke kuburan ayahnya agar anaknya boleh melepas jilbab demi tugas negara. Ini adalah keimanan yang rapuh. Minta izin ke kuburan untuk urusan syariat milik Allah. Minta izin ke Allah, pasti tidak diizinkan. Hukum Allah adalah kebenaran tertinggi yang tidak bisa ditawar lagi dengan alasan duniawi.
Untuk sekedar mengibarkan bendera rela mencampakkan hukum Allah? Dimana letak sila ketuhanan yang Maha Esa? Di mana letak UUD 1945 pasal 29 bahwa setiap warga negara bebas menjalankan agamanya masing-masing.
Berjilbab adalah aturan agama. Maka ketika para pembina anak-anak paskibraka dari daerah masing-masing yang kaget karena siswinya yang tadinya berjilbab saat pelantikan atau pengukuhan petugas paskibraka tidak berjilbab lagi, mereka mengajukan protes.
Protes ini disampaikan lewat media sosial. Sebagai sebuah negara dengan penduduk mayoritas muslim dan mulai paham dengan kewajiban berjilbab untuk muslimah, tentu saja para pengguna media sosial ini bereaksi keras. Ini isu sensitif, mengapa dimainkan?
Sebagai muslim yang beriman maka mereka berbondong-bondong membela kebenaran mutlak dari Allah. Jika tidak membela maka perlu dipertanyakan keimanan mereka. Membela yang benar, jangan membela yang bayar karena di zaman kapitalistik materialistik saat ini bisa jadi banyak yang syirik menjadikan uang sebagai Tuhannya.
Kebenaran harus dibela dalam kasus apa pun, di mana pun, kapan pun, siapa pun. Jika kita tidak berada di barisan pembela kebenaran, maka secara fitrah kita ini rendah dan tak berguna. Jika kita berada di dalam barisan pembela kebenaran maka derajat kita akan diangkat dan dikokohkan kedudukan kita baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia lainnya.
Pilihan ada pada kita, mau membela kebenaran atau tidak. Mau hina atau mulia? Bela agama Allah, pasti kita menjadi orang-orang yang beruntung. [YS]
Baca juga:
0 Comments: