Oleh. Ratty S Leman
Ning melihat dan merasakan sendiri, bagaimana susahnya para orang tua mencari sekolah untuk Insan Berkemampuan Khusus (IBK) ini. Mulai dari kelompok bermain dan TK, tak semua kelompok bermain dan TK mau menerima IBK. Alasannya biasanya tidak siap sarana dan prasarana. Tidak ada guru yang mempunyai ilmu tentang itu.
Sebelum sekolah sebaiknya memang anak fokus terapi dulu agar anak siap bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya. Jika tidak diterapi dulu, misal terapi perilaku maka dikawatirkan anak akan mengganggu temannya yang lain.
Ning pernah punya nadzar jika Faiz bisa verbal, bisa bicara maka dia akan membantu para orang tua yang kesulitan mencari tempat terapi dan sekolah untuk anaknya. Biasanya mereka adalah kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Alhamdulillah, usia 4 tahun Faiz sudah bisa verbal. Maka nadzar itu pun harus dilaksanakan. Dibuatlah Paud Inklusi Sanggar Aqila. Paud ini menerima IBK belajar bersama anak tipikal lainnya dalam satu kelas. Tujuannya agar IBK mencontoh perilaku yang baik pada umumnya.
Niat baik saja tak cukup. Niat baik harus disertai dengan cara yang baik. Berbekal ijazah Sarjana Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga IPB, Akta IV IKIP Semarang, pengalaman mengajar di Al Azhar, mengajar di TPQ/TPA, seminar-seminar dan workshop tentang IBK, Ning memberanikan diri mendirikan Sanggar Aqila. Semata-mata untuk menolong dan mencari ridlo Allah.
Alhamdulillah, beberapa anak tipikal masuk dan juga IBK. Dalam beberapa tahun ada saja yang setiap tahunnya 1 murid terdiagnosa disleksia, PDD Nos, lambat bicara, ADHD dan lainnya. Alhamdulillah bisa membantu mereka walau dengan keadaan yang terbatas sarana, prasarana dan ilmu. Hanya Allah yang menolong kesembuhan untuk mereka.
Suatu hari, Ning bertemu neneknya Wais, "Alhamdulillah, Wais sekarang sudah pintar, Bu. Bahkan juara terus di SD." Hati siapa yang tidak bersyukur melihat murid yang kesusahan mencari sekolah TK saat itu, begitu pula Ning.
"Kami ditolak di mana-mana, Bu. Wais harus sekolah di SLB katanya. Kami kan tidak mau," kata neneknya Wais curhat.
Ya, banyak masyarakat yang tidak mau anak cucunya sekolah di SLB. Sebaliknya, banyak juga SLB yang tidak mau menerima murid yang dirasa masih bisa sekolah di sekolah reguler. Maka muncullah sekolah inklusi, sekolah umum yang mau menerima murid IBK dalam satu kelas belajar. PAUD Sanggar Aqila, Ning dirancang untuk itu memenuhi kebutuhan masyarakat akan hal itu.
Beberapa teman membuat tempat terapi. Beberapa juga sudah membuka sekolah khusus. Yakni sekolah untuk para siswa yang berkebutuhan khusus. Ada sekolah khusus autisme, sekolah khusus down syndrom dan lainnya sesuai kekhususan mereka.
Beberapa waktu yang lalu Ning bertemu dengan Mama Zefa, anaknya lambat belajar membaca dan menulis. "Sekarang anaknya sudah SMA, sudah lancar baca tulisnya berkat Sanggar Aqila he...he..he...." Mama Zefa tertawa renyah.
"Alhamdulillah, bukan berkat Sanggar Aqila, tapi berkat rahmat Allah," kata Ning mengingatkan Mama Zefa.
"Iya, Bu, pasti karena Allah," sahut Mama Zefa.
***
Sewaktu jalan pagi, Ning bertemu Bu Hera, mamanya Nabil. "Alhamdulillah, Nabil sekarang sudah pinter Bu. Gak lelet lagi. Yang penting sholih. Sekarang di Pesantren HK di Kuningan," Bu Hera memberi kabar tentang anaknya. Hati Ning berbunga-bunga mendengar kabar muridnya yang dulu, mengalami perkembangan yang baik.
Saat bertemu dengan Mama Rizki juga begitu, "Rizki sekarang kuliah di UIN Bu. Ambil jurusan komunikasi dakwah." Ning pun terkaget-kaget. "Komunikasi dakwah?" tanya Ning heran.
"Iya, Bu. Kata konselor, minat bakatnya dia cocoknya di situ. Alhamdulillah dia juga senang ngomong sekarang". Ujung mata Ning basah karena terharu dan bahagia.
Ketika bertemu Ibunya Anis, beliau juga mengabarkan jika Anis kuliah D1 di PGTK dan sekarang sudah menikah. Teringatlah Ning akan murid terapinya yang 'slow learner' itu. Alhamdulillah tahap demi tahap sudah dia lewati dengan baik.
Sewaktu bertemu dengan papanya Flo juga begitu. Anak yang dulu tidak fokus, sering terjatuh saat berjalan, kini sudah tumbuh besar dengan banyak prestasi di seni tari. Ah, anak-anak berjalan dengan takdirnya masing-masing.
Di antara sekian banyak lulusan Sanggar Aqila, ada juga beberapa murid khusus lainnya yang belum terdengar kabarnya. "Kinan kecil dan Kinan bule. Bagaimana, ya, kabar keduanya?" bisik hati Ning.
Sanggar Aqila masih ada dan hadir untuk membersamai orang tua mendidik anak-anaknya. Ning berdoa semoga langkah kecil dari niat lurusnya diterima Allah. Dia berharap bisa membantu sebanyak mungkin orang tua dalam mengantarkan anak mereka sesuai dengan tujuan penciptaan Allah. Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Tugas kita menggali potensi anak-anak yang Allah amanahkan pada kita semua. Semua anak bisa beribadah dengan peran yang dipilihnya masing-masing.
Ning bersyukur dengan amanah IBK yang Allah titipkan kepadanya. Baik anaknya sendiri maupun anak didiknya. [ ]
Baca juga:
0 Comments: