cerpen
Juara Matematika dan Sains
Oleh. Ratty S. Leman
Jumat sore itu, telepon rumah berdering.
"Assalamu'alaikum, Ibu. Apakah ini Mama Faiz? Saya Bu Renny, guru sekolahnya Faiz." Ning tergagap. "Iya, betul Bu Renny, ada apa ya?" Ning khawatir jika ada berita buruk yang akan disampaikan. Tidak biasanya sekolah telepon langsung ke rumah. Pasti ada berita penting, pikirnya.
"Kok, langsung ada apa, Bu, pertanyaannya?" canda Bu Renny. Ning tersipu. Bu Renny melanjukan bicaranya, "Apa kabar, Bu? Semoga sehat semuanya". Ning segera menjawab, "Alhamdulillah, Bu. Kami semua sehat."
Hatinya masih bertanya-tanya, ada apa ini kok Bu Renny dari sekolah menelepon sore-sore. Bu Renny memecah kebekuan suasana. "Begini Bu, sekolah mendapat undangan untuk mengikuti lomba gebyar IBK. Faiz bisa ikut, Bu? Sudah kami daftarkan dia untuk ikut lomba matematika dan sains".
Ning bertanya, "Kapan, Bu?" Bu Renny segera menjawab, "Nah, itu dia Bu. Karena mendadak maka pihak sekolah menelepon. Acaranya besok Bu". Tentu saja Ning kaget, "Besok, Bu? Apa tidak mendadak? Anak belum disiapkan." Bu Renny paham, "Iya, begitulah, Bu. Undangannya baru sampai ke tangan saya. Bisa ya, Bu? Gak apa-apa meski tanpa persiapan."
Ning terbengong-bengong, "Hari Jumat ini ayahnya Faiz lembur deadline majalah, Bu, jadi pulangnya biasanya Sabtu pagi atau siang. Jadi saya belum bisa memastikan besok Sabtu Faiz bisa ikut lomba atau tidak."
Bu Renny terdengar agak kecewa di ujung telepon. "Coba Ibu hubungi dulu ayahnya Faiz. Semoga beliau bisa. Saya tutup dulu teleponnya ya, Bu. Nanti saya hubungi lagi, semoga ada kabar baik bisa ikut." Telepon pun ditutup Bu Renny.
Ning segera menghubungi Kenang di kantor, "Assalamu'alaikum, Ayah. Ini barusan dapat telepon dari sekolah Faiz. Besok pagi Faiz disuruh ikut lomba di Madania Parung."
"Ah ya nggak bisa, aku kan pulang Sabtu," sahut Kenang.
"Sudah aku bilang ke gurunya kalau tidak bisa karena tidak ada yang mengantar. Tapi gurunya kayaknya pengen banget Faiz ikut," ujar Ning.
"Lomba apa memangnya? Jangan terlalu berharap lho sama Faiz. Dia kan 'mood-mood an'. Kalau lagi 'on' bagus kerjanya, kalau lagi 'off' mau disuruh kayak apa juga mager," jelas Kenang.
"Paham, Ayah, tapi ini gimana nanti jawabnya kalau Bu Renny telpon lagi?" Ning kebingungan.
"Ya, jawab aja seperti kataku tadi," jawab Kenang sekenanya. "Udah ya, aku mau kerja," kata Kenang sambil menutup telponnya.
Ning kebingungan sendiri. Hari sudah sore. Apa yang harus ia persiapkan untuk Faiz besok. Ah, entahlah. Dia acuhkan persoalan ini dan sibuk memasak menyiapkan makan malam.
Bu Renny pun tidak menelpon lagi sampai malam menjelang tidur.
***
Tiba-tiba subuh terdengar mobil di depan rumah. Terdengar teriakan Kenang ke Ning, "Bu, jadi gak berangkat?" Hah, Ning pun kebingungan, "Kita berangkat nih?" Kenang mengayunkan tangannya, "Ayo siap-siap!"
Ning pun bergegas menyiapkan Faiz dan peralatan sekolah. Tak sempat membawa bekal. Ah, nanti beli di jalan saja pikir Ning. Waktunya sudah mepet. Berangkatlah mereka ke sekolah Madania di Parung.
Di mobil Ning heran dan bertanya ke suaminya, "Katanya gak usah ikut. Kok tiba-tiba pulang pagi dan mau mengantar?"
"Iya, gak enak sama sekolah. Kita masih membutuhkan mereka, ya sudah ikuti saja maunya sekolah," sahut Kenang.
Ning mengangguk-angguk dan mereka pun banyak diam di mobil.
***
Alhamdulillah akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
"Udah, ibunya turun sana. Aku di mobil aja mau tidur, semalam lembur gak tidur," perintah Kenang.
Ning, Faiz dan adiknya Faiz turun. Mereka menuju ke meja tamu. Setelah itu masuk ruangan untuk mencari Bu Renny. Begitu ketemu, Bu Renny langsung berbinar-binar matanya, "Alhamdulillah akhirnya datang juga. Sendirian, Bu?" Ning menggeleng, "Sama ayahnya, Bu, cuma ayahnya nunggu di mobil, mau tidur. Semalam begadang karena mengejar deadline".
"Ya sudah, biarkan tidur di mobil. Yang penting Ibu dan Faiz sudah sampai di sini. Yuk kita ke panitia lomba untuk daftar ulang," ajak Bu Renny.
Mereka segera ke panitia untuk mendaftar ulang. Disuruhnya mereks menuju ke ruang atas untuk lomba sambil menunggu lomba dimulai setengah jam lagi.
Ning dan Bu Renny mencari ruang yang dimaksud. Setelah ketemu ruangannya, Bu Renny memerintahkan Faiz masuk dan duduk menunggu di dalam. Ning menunggu di luar. Bu Renny pun pamit karena mau mengurusi siswa yang lainnya yang ikut aneka lomba di bawah.
Ning pun menunggu di bangku luar dengan tenang. Tak ada target dan ambisi untuk menang. Cuma sekadar ikut meramaikan lomba saja.
Satu jam berlalu, semua peserta lomba sudah keluar. Tinggal Faiz sendiri di dalam ruangan. Tak lama kemudian dikumpulkannya berkas lomba ke panitia dan dia pun keluar ruangan.
Ning bertanya ke anaknya. "Mudah apa susah Mas?" Faiz segera menjawab, "Mudah". Ning heran, "Katanya mudah, tapi kok keluarnya paling akhir?" Faiz menjawab lagi, "Diperiksa lagi". Ning memaklumi, "Oh, begitu".
Mereka lalu turun ke bawah untuk berkumpul bersama teman-temannya. Bu Renny pun bertanya, "Bagaimana Mas? Bisa atau tidak mengerjakannya?" Faiz menjawab pendek, "Bisa". Bu Renny bertanya lagi, "Mudah atau susah?" Dijawab Faiz lagi, "Mudah." Bu Renny pun berbinar, "Alhamdulillah".
Kenang melihat Ning dan Faiz sudah turun dan didekatinya. "Sudah selesai Bu? Ayo kita pulang. Aku ngantuk tapi gak bisa tidur di mobil," ajak Kenang.
Bu Renny segera menyahut, "Jangan pulang dulu Pak. Kita tunggu sampai pengumuman. Soalnya Faiz bilang bisa mengerjakan dan mudah."
Kenang pun akhirnya mengalah, "Ya udah kita ke bazar dulu, siapa tau ada yang bisa dibeli buat dimakan arena tadi belum sempat sarapan".
"Nah, iya. Betul. Silakan sana makan dulu dan memborong," senyum Bu Renny.
Mereka pun ke bazar, sarapan di sana sambil menunggu pengumuman lomba.
***
Kira-kira setelah sholat zhuhur ada panggilan agar peserta segera menuju aula untuk mendengarkan pengumuman pemenang lomba.
Mereka segera menuju aula. Duduk di kursi agak belakang supaya bisa segera pulang. Pengumuman aneka lomba sudah diumumkan. Tibalah pengumuman juara lomba matematika dan sains. Dipanggillah para juara dari juara 3, juara 2 dan akhirnya juara 1. Tak diduga dan di luar perkiraan. Nama Faiz diumumkan sebagai juara pertama. Tepuk tangan menggema, Ning lihat Faiz tersenyum senang dan maju ke depan podium. Ning merasa 'surpraise'. Kenang kaget mendekat ke Faiz, dipeluknya anaknya. Para guru dan teman-temannya pun mendekat dan menyalaminya. Dari wajahnya terlihat Faiz sangat bahagia. Setelah berfoto-foto bersama akhirnya mereka saling berpamitan karena hari sudah terlalu siang menjelang sore.
***
Alhamdulillah hari Sabtu ini Ning dan Kenang mendapat pelajaran berharga. Terkadang kita sebagai orangtua tak melihat kelebihan anak kita, seringnya melihat kekurangannya. Sedang guru-guru di sekolah terasah untuk melihat potensi setiap siswanya.
Hari Seninnya saat upacara bendera di sekolah diumumkanlah para pemenang lomba di hari Sabtu yang telah mengharumkan nama sekolah. Para pemenang banyak mendapat ucapan selamat dari teman-temannya.
Capek memang hari itu Faiz menerima jabat tangan dan ucapan selamat dari para guru dan teman-temannya.
Sesampai di rumah Faiz tiba-tiba bilang, "Aku gak mau jadi orang terkenal. Jadi orang terkenal itu capek". Ning hanya tersenyum mendengar celoteh Faiz. [ ]
Baca juga:
0 Comments: