cerpen
Bundaku Milik Banyak Orang
Oleh. Ana Mujianah
"Bun, nanti gimana kalau bu guru dan temen-temen Salma nanya. Mana bundanya, kok nggak dateng?" protes gadis kecil yang sedang beranjak remaja itu dengan muka cemberut.
"Kan ada ayah yang mewakili Bunda," jawab sang bunda mencoba bernegosiasi dengan putrinya yang akan melaksanakan wisuda tahfiz sekaligus kelulusan sekolah dasar.
"Nanti, mahkotanya Salma pakein ke siapa?" protes gadis itu lagi.
"Mahkotanya bisa dikasih ke ayah. Ayah juga orang tua Salma. Setiap hari bantu Salma muraja'ah. Menasihati Salma supaya jadi anak yang shaliha."
"Aku maunya Bunda juga dateng," rengek Salma membuat Afifah tertegun, bimbang. Di hari yang sama dengan wisuda putrinya, Afifah ada amanah mengisi kajian yang sudah terjadwal jauh hari sebelumnya.
"Kan sudah ada Ayah, Nak," sahut laki-laki yang baru datang dari salat Isya berjamaah di masjid itu ikut membujuk putrinya.
"Temen-temen Salma, ayah bundanya pada dateng semua. Masa, Bunda nggak mau nyempetin dateng demi anaknya." Salma terus merajuk membuat Afifah kehabisan kata untuk memberi pengertian.
"Salma ... anak Bunda yang shaliha. Bukannya Bunda nggak kepengen lihat Salma diwisuda. Tapi, besok Bunda ada amanah yang harus Bunda tunaikan, Sayang."
"Emang Salma mau, Bunda dicap sebagai orang yang tidak amanah?" Afifah mendekati putrinya, mengusap-usap pelan pucuk kepala gadis kecil yang beranjak remaja itu.
"Salma kan anak Bunda. Berarti, Salma juga amanah Bunda! Bunda mau menyia-nyiakan anaknya?" Afifah terbelalak. Wanita itu tidak menyangka mendapat pertanyaan balik dari putrinya. Namun, ia hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Salma, Bunda tuh sayang sekali sama Salma. Mana mungkin Bunda berani nyia-nyiain anak bunda yang cantik dan shaliha ini," rayu Afifah sambil memegang kedua tangan putrinya.
"Kalau gitu kenapa Bunda nggak hadir di wisuda Salma?" Salma masih belum puas dengan jawaban bundanya. Remaja itu terus mendesak agar sang bunda datang di acara wisuda tahfiz dan kelulusannya.
"Salma, coba dengerin Bunda dulu, Nak" bujuk Afifah.
"Bunda nggak dateng ke wisuda Salma bukan berarti Bunda menyia-nyiakan Salma. Kan sudah ada ayah yang mewakili orang tua," terang Afifah.
"Tapi ... kalau amanah itu, harus Bunda yang mengisi, Nak. Ayah nggak bisa menggantikan," lanjut Afifah.
"Kan bisa temen Bunda yang lain." Rupanya gadis itu masih belum ikhlas bundanya tidak hadir.
"Teman-teman Bunda kebetulan juga tidak ada yang bisa untuk menggantikan Bunda, Nak."
"Salma pengen Bunda dimurkai Allah karena lalai dalam menjalankan amanah? Padahal mengajarkan Islam itu perintah Allah yang wajib dikerjakan." Salma menunduk dengan bibir membentuk kerucut. Ingin membantah lagi, tapi belum ketemu kata-kata untuk membantahnya.
"Tapi, Bun!"
"Salma, coba deh Kakak pikiran. Kalau misal nanti ada yang bermaksiat kepada Allah. Terus dia mengadu kepada Allah, dia bermaksiat karena belum tau, karena nggak ada yang ngasih tau." Afifah terdiam sejenak mencari penjelasan yang tepat
"Sementara, Bunda sebenarnya memiliki ilmu untuk menyampaikan ke orang itu. Tapi Bunda lebih memilih pergi ke wisuda dan tidak jadi berdakwah. Nanti, gimana Bunda beralasan di hadapan Allah? Salma mau Bunda dibenci Allah dan Rasulullah?"
"Ya enggak lah, Bund," jawab Salma masih dalam mode cemberut.
"Kalau gitu, menurut Salma apa yang mesti Bunda lakukan?" tanya Afifah.
"Pergi ke wisuda atau mengajar Islam? Karena Bunda juga dibutuhkan oleh mereka." Suasana sunyi. Cukup lama gadis remaja itu terdiam.
"Ya sudah deh, Bunda ngajar aja. Salma wisuda sama ayah nggak papa." Meski rasa kecewa masih menguasainya, gadis itu akhirnya memutuskan.
"Tapi, Salma ikhlas kan? Bunda pergi mengajar menunaikan amanah dari Allah?" Afifah memastikan jawaban putri semata wayangnya.
"Iya, ikhlas, ikhlas, ikhlas!" Afifah menyunggingkan senyum melihat Salma menjawab ikhlas tapi cemberut.
"Kalau ikhlas jawabnya sambil senyum dong!" canda Afifah.
Afifah kemudian memeluk remaja di sampingnya dengan erat sambil mengusap-usap kepalanya. "Semoga kelak putri Bunda tumbuh menjadi wanita yang taat kepada Rab-nya dan menjadi penghafal Al Qur'an yang mutqin," doa Afifah karena Salma akhirnya bisa mengerti posisi bundanya.
**
Acara wisuda berlangsung lancar. Setelah prosesi wisuda setiap siswa diminta mencari orang tuanya masing-masing. Dengan senyum lebar dan percaya diri, Salma menghampiri ayahnya.
"Terima kasih ya, Ayah. Sudah merawat Salma dengan baik. Membantu Salma muraja'ah setiap hari," ungkap remaja 12 tahun itu dengan mata berkaca-kaca. Sang ayah pun tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Laki-laki itu kemudian memeluk erat putrinya.
"Lho, Bunda kamu mana Salma? Kok cuma ada ayah?" tanya Bunda Reni celingukan mencari Afifah.
"Iya, bundanya Salma tidak bisa dateng, Bu," sahut ayahnya Salma santun.
"Ya Allah, kasian banget Salma nggak ada bundanya," timpal wanita itu lagi.
"Nggak papa, Tante. Sudah ada ayah kok." Salma melirik ayahnya sambil tersenyum lebar.
"Emang Bunda Salma kemana? Kok sampe tega nggak dateng di wisuda anaknya?" tanya Bunda Reni lagi.
"Bundaku sedang mengajar. Karena Bunda bukan milik Salma saja, tapi Bunda juga dibutuhkan banyak orang," pungkas Salma dengan mantap, membuat Bunda Reni terdiam dan tak bertanya apa-apa lagi.
TAMAT
Baca juga:
0 Comments: