Headlines
Loading...
Oleh. Ratih Fn

Seperti biasa, Andara menyambut terbitnya mentari dengan mengendarai motor bebek injeksi kesayangannya. Namun, kali ini ia tidak menuju tempat kerjanya. Ini akhir pekan, yang biasanya Andara bersantai di kos-an, pagi ini ia harus beranjak lebih awal untuk pergi ke kampus.

Kampus yang meski tak terlalu ternama, namun cukup banyak diminati oleh mahasiswa, terutama bagi mereka para pekerja yang ingin menambah jenjang pendidikan, tetapi isi kantong pas-pasan. Andara salah satunya.

Kenapa begitu? Tak lain karena sekolah tinggi tempat Andara berkuliah adalah sebuah kampus extention, yang hanya membuka kelas malam dan kelas Sabtu dan Minggu. Pembayaran SPP-nya bisa dicicil setiap bulan, jadi lumayan meringankan kantong. 

Lagipula, beberapa sarana dan prasarana kampusnya menggunakan fasilitas SMU Islam Terpadu yang lumayan elit di ibukota. Jadi pagi harinya, kelas-kelas di kampusnya digunakan oleh SMU tersebut.

Lebih tepatnya, kampus tempat Andara menimba ilmu yang menumpang ke SMU ternama itu. Keduanya berada di bawah payung yayasan yang sama yaitu Yasma Sudirman. 

Usai menerjang kemacetan ibukota yang kian hari kian parah, Andara memarkir motornya, bergegas menuju kantin. Cacing-cacing di perutnya sudah mulai berdendang menyanyikan lagu rindu. Ingin segera bertemu dengan nasi uduk, lontong sayur, atau minimal gorengan dan secangkir teh hangat.

"Bu, nasi uduk satu, ya!" Andara segera memesan seporsi nasi uduk demi memenuhi hajat laparnya. Berangkat dari kos-an pagi buta membuat Andara tak sempat sarapan, meski sekedar minum secangkir teh hangat. 

"Dari tadi, Ra?" Meganita tiba-tiba datang menyapa dari arah yang tak terduga, sembari menepuk bahu sohibnya itu.

"Ampun dah, bikin kaget aja kamu! Aku barusan datang juga kok, tuh nasi udukku aja baru mau kujajakan." 

"Kebiasaan deh, kamu belum sempat sarapan?" 

"Kayak yang baru tahu aja kamu, Mega. Jarak kos-anku ke kampus kan lumayan jauh, belum lagi setiap pagi tuh di kos-anku banyak drama. Makanya, aku paling males kalo dapat jadwal ujian pagi. Belum lagi di kantorku sedang padat merayap laporan yang mesti kukerjakan." 

"Assalamualaikum, Bu. Pesan nasi uduk satu porsi, tanpa sambal, nggih." Seorang gadis dengan kerudung dan gamis lebar, tampak berdiri di depan meja Andara, sedang memesan nasi uduk juga.

Si gadis celingukan mencari meja kosong.  "Assalamualaikum, boleh gabung di sini?" Gadis itu bertanya kepada Andara dan Meganita. 

"Ooh, iya. Silakan. Wa'alaikumussalam." Jawab Andara singkat.

"Mbaknya berdua dari prodi apa?" Si Gadis bertanya kepada dua sahabat itu. 

"Oh, kami ambil Pendidikan Matematika."

"Sama berarti, saya Safia, dari kelas weekend. Mbaknya?" Safia memperkenalkan dirinya, sembari mengulurkan tangan dan menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. 

"Saya Andara, ini Meganita. Kami dari kelas malam."

"Ooh, pantas saja kita baru ketemu." Kembali Safia memperlihatkan senyum manisnya. Rasanya, setiap kata yang terucap dari mulutnya selalu diiringi dengan sebuah senyuman. 

Nasi uduk telah terhidang di hadapan Andara dan Safia. Tak menunggu lama, Andara segera melakukan suapan pertama. Saat itulah, ia melihat Safia tampak menunduk sejenak lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya. 

Andara jadi salah tingkah sendiri, mengingat dirinya begitu menggebu bertemu sepiring nasi uduk, hingga lupa memanjatkan do'a. Dalam hati, segera ia lafalkan sebuah do'a semoga nasi yang ia makan membawa keberkahan bagi tubuhnya. 

Andara menikmati nasi uduknya sembari bercerita dengan sohibnya, Meganita. Sementara, Safia khusyuk mengunyah nasinya, tanpa berucap sepatah kata pun. Safia menyelesaikan makannya dengan cepat  tanpa menyisakan sebutir nasi pun di piringnya, bahkan saat nasi Andara baru setengan ia nikmati. 

"Saya duluan ya, Andara, Meganita. Assalamualaikum." Safia bergegas membayar nasi uduknya dan berjalan ke arah masjid. 

"Wa'alaikumussalam, cepet banget dia makan ya, Ra?" Meganita menyuarakan hal yang sama dengan isi kepala Andara. 

"He ehm. Mau salat dhuha apa dia? Masih sempat, gitu? Bentar lagi aja udah bell masuk kelas." 

"Makanya, kamu makannya lebih cepat, Ra." Meganita tampak mulai sewot karena Andara belum jua menyelesaikan sarapannya. 

Dan, "Teeeet... Teeeet... Teeeet!!" 

"Kan, apa aku bilang?" 

Andara segera beranjak, membayar nasi uduknya yang masih tersisa seperempat porsi. Mereka berjalan cepat menuju kelas mereka masing-masing. 

Sekitar 15 menit berlalu, suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Andara, "Assalamualaikum, maaf, Pak. Saya terlambat." 

"Wa'alaikumussalam, langsung masuk saja, Safia, kerjakan ujian kamu." Safia masuk kelas 15 menit lebih lambat dari yang lain, namun ia tampak tenang, tak terlihat sedikit pun rasa khawatir dari wajahnya, bahwa ia akan kekurangan waktu untuk mengerjakan ujiannya. 

Pak Slamet, si dosen killer yang paling anti dengan mahasiswa nyontek saat ujian, tampak tersenyum tenang menjawab salam Safia. 

45 menit berselang, beberapa mahasiswa mulai kasak kusuk, maklumlah, mata kuliah matematika terapan tingkat III ini, memang cukup membuat dahi berkerut. Andara, yang sudah hapal dengan karakter dosen penunggu ujian itu, berusaha tetap tenang. Ia tak berniat menyontek temannya, meski ada beberapa soal yang belum berhasil ia temukan jawabannya.

Di tengah kasak kusuk para mahasiswa, Safia tiba-tiba berdiri dan berjalan ke depan. Menyerahkan lembar jawaban ujiannya ke Pak Slamet. 

"Sudah selesai, Safia?" 

"Alhamdulillah, sudah, Pak. Assalamualaikum, Pak." 

"Ya, wa'alaikumussalam." 

Seisi kelas tertegun melihat Safia sudah selesai mengerjakan 40 soal yang lumayan sulit itu. Waktu masih tersisa 60 menit, dan Safia melenggang dengan tenang keluar kelas, meninggalkan keheranan di kepala mahasiswa lain, terutama Andara.

Bersambung.

Cilacap, Oktober 2022

Baca juga:

0 Comments: