Headlines
Loading...
(Ratty S Leman)

Subhanallah, pagi ini di balaikota suasana sangat ramai. Para pengantar calon haji jumlahnya begitu banyak. Tentu saja melebihi jumlah jamaah haji yang akan berangkat. Bisa dibayangkan jika satu calon jamaah haji diantar minimal lima sampai sepuluh orang, padahal hari itu diberangkatkan tiga kloter yang masing-masing kloter berjumlah kurang lebih 400 orang.

Kepadatan itulah yang menyebabkan Rara bersama Umi Abinya susah sekali menuju ke pelataran balaikota. Ternyata bus-bus yang akan membawa jamaah calon haji sudah siap. Mereka langsung mencari nomor bus sesuai tiket. "Ini mana busnya ya? Kok parkirnya tidak sesuai no urut?" tanya Abinya Rara ke petugas. Ternyata bus nomor 20 ada di jajaran paling belakang. Alhamdulillah bus sudah ketemu, Rara beserta Umi Abinya langsung masuk ke dalam mencari tempat duduk.

Astaghfirullah, rupanya para pengantar tidak cukup puas hanya mengantar sambil menunggu di luar bus. Begitu banyaknya orang berdesak-desakan masuk ke dalam bus untuk sekedar mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan para jamaah calon haji. Mereka minta didoakan dan meminta berkah (ngalab berkah). Mereka tidak hanya sekali minta bersalaman, bahkan berkali-kali. 

Banyak orang yang tidak dikenal ikut menyalami Rara dan Umi Abinya. Mereka minta didoakan. Macam-macam permintaan mereka sesuai dengan hajat masing-masing. Jamaah agak bingung dibuatnya. Suasana semrawut begini membuat pusing para jamaah, karena lalu lalang pengantar dan hawa di dalam bus menjadi panas.

Panitia akhirnya mencegah para pengantar masuk secara berombongan dalam bus. Pengantar hanya boleh masuk secara bergantian untuk menghindari kemungkinan buruk seperti jamaah kehilangan barang, kecopetan dan rasa sumpek di dalam bus yang  membuat pusing. 

Pengalaman ini baru saja Rara dapatkan. Ini adalah wajah tradisi masyarakat kita. Kalau kita ke Paris, New York, Cina atau kota-kota terkenal lainnya di luar negri, niscaya tak akan pernah dijumpai pengantar sampai sedemikian banyaknya. Tapi ketika berangkat ke Tanah Suci, Masya Allah begitu banyak orang yang ingin mengantar dan melepas keberangkatan kita. Keluarga, sanak famili, teman-teman, tetangga, semua tumpah ikut mengantar. Mereka mendoakan dan ingin didoakan. "Subhanallah, nikmatnya iman Islam dan ukhuwah Islamiyah" batin Rara. 

Akhirnya bus berangkat pukul 08.54 WIB padahal rencana pemberangkatan tertulis jam 08.00 WIB. "Ah, teori!" canda salah seorang jamaah meniru gaya sebuah iklan sampho di televisi. Alhamdulillah bus melaju dan semuanya memanjatkan doa naik kendaraan. 

******

Perjalanan terasa sangat menyenangkan. Sebuah perjalanan religius dimulai. Di dalam bus semua berdoa dipandu seorang kiai hafiz Qur'an. Memohon keselamatan selama perjalanan suci ini, perjalanan kisah cinta antara mahkluk dengan Rabbnya.

Rara berusaha menikmati perjalanan ini. Sepanjang jalan Pantai Utara Jawa banyak sekali keindahan alam ciptaan Allah yang dapat disaksikan. Di daerah Rembang menyusuri pantai yang biru dengan perahu cadik yang bertebaran di atas permukaan pantai. Di daerah Lasem terlihat bukit-bukit dan hamparan  rumput yang luas menghijau. Ratusan sapi bebas merumput di atasnya. Di padang rumput yang lain terlihat kawanan domba sedang merumput. Sangat indah sekali. Rara bertasbih, "Subhanallah. Rabbana maa khalaqta haadzaa baathila Subhanaka faqinaa 'adzaa bannar.  Ya Allah, tidaklah semua ini Engkau ciptakan dengan sia-sia." Sejuk sekali rasanya jiwa Rara. Nikmat Allah begitu banyak, namun seringkali terlupakan untuk mensyukurinya.

Baca juga:

0 Comments: