Headlines
Loading...
(Ratty S Leman)

Rara tidak berniat cepat-cepat memberitahukan kepada teman-temannya tentang rencana keberangkatan ke Tanah Suci. Rencananya dia akan memberi kabar pada bulan Syawal nanti saat mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, memohon maaf dan meminta doa restu dari mereka semua.

Namun mungkin sudah menjadi suratan takdir, ternyata mereka sudah pada tahu lebih awal. Entah dapat bocoran berita dari mana. 

Ketika sebagian teman Rara mendengar bahwa dirinya akan melaksanakan rukun Islam yang kelima, Astuti berkomentar, "Ih, haji. Apa gak takut tuh?" Rara mengenyitkan dahi, "Mengapa mesti takut?" Astuti berargumen, "Kan konsekuensinya berat. Terlalu berat status itu menyandangnya buat kita-kita yang baru saja jadi mahasiswa."

"Ooo itu tho masalahnya" Rara geli dibuatnya. "Salah sendiri mengapa mesti berpikir tentang status" lanjut Rara. "Ibadah ya ibadah aja karena Allah semata. Mengapa harus menjadi berat gara-gara kebiasaan masyarakat memberi predikat haji bagi orang yang sudah menunaikan ibadah yang memang cuma diwajibkan sekali seumur hidup."

"Insya Allah aku akan datang menghadap Allah di Tanah Suci, tidak untuk meraih status dihadapan manusia, agar hati menjadi berbunga-bunga bangga ketika dipanggil Neng Haji. No! Percaya deh! Masa sama teman sendiri gak percaya" panjang lebar Rara berargumen di dekat Astuti di kantin kampus.

"Tapi kalau status di hadapan Allah sebagai haji mabrur, wah itu memang yang akan dan harus aku cari dan raih" sambung Rara sambil makan mie ayamnya yang hampir habis.

Rara berusaha menjelaskan, "Aku menyegerakan berhaji semata-mata ingin bersegera dalam kebajikan untuk mendapat rida Allah. Insya Allah tidak ada niat murahan sekedar tambahan predikat 'hajjah'. Semoga Allah senantiasa menjaga hatiku agar jika ada niat murahan terlintas sedikit saja bisa diusir tuh bisikan-bisikan buruk."

"Konsekuensi memang berat, kita menjadi ekstra ketat menjaga setiap perilaku dan perkataan kita. Tapi kalau dipikir, bukankah ini merupakan hal yang baik? Kontrol sosial kita menjadi lebih ketat. Orang-orang secara spontan akan menegur kita jika melakukan kesalahan. Bukankah dengan demikian kita
akan menjadi orang yang senantiasa terjaga?"

"Tapi sekali lagi, aku berniat ibadah bukan untuk mengejar status itu, sunguh Allah Maha Tahu.  Aku tidak akan dibuat pusing dengan status itu. Apa yang aku lakukan adalah niat semata-mata ingin mendekatkan diri kepada Allah, mohon ampun, ingin mensyukuri nikmat-Nya, menuju rida-Nya. Bukan yang lain, apalagi sekedar mengejar status. Sorry lah ya. Jauh dari niat jelek begituan."

"Aku menyegerakan kewajiban berhaji ini semata-mata takut kepada Allah jika kesempatan ini akan lewat begitu saja dan aku tidak akan menjumpai kesempatan itu lagi. Aku berharap tidak terbiasa menunda-nunda kebiasaan baik. Aku hanya ingin menyambut ayat Allah yang memerintahkan kita bersegera dalam kebajikan. Dan bersegeralah kamu menuju pada Tuhanmu."

"Aku tahu, setelah menunaikan ibadah haji nanti harus ekstra hati-hati menjaga mulut dan tingkah laku. Namun bukankah itu sebuah kebaikan? Banyak orang yang akan mengingatkan kita termasuk kamu. Banyak orang yang akan mengontrol kita agar selalu baik. Tentu saja ini bukan beban, tapi justru awal menuju kebaikan."

"Menjaga kemabruran haji memang susah dan itulah letak perjuangan setelah pulang dari Tanah Suci. Semakin banyak yang diharapkan dan dituntut masyarakat dari kita. Semoga semua ini akan mendorong kita untuk senantiasa meningkatkan amal karena kemabruran haji lebih banyak ditentukan oleh amal sholih setelah ibadah itu usai ditunaikan."

Astuti mulai mengantuk mendengar sahabatnya ini nerocos panjang lebar gara-gara  pertanyaannya tadi. Gado-gadonya sudah ludes dari tadi tapi dia tak berani beranjak meninggalkan bangku kantin karena telah salah bertanya he..he...

Baca juga:

0 Comments: