Headlines
Loading...
Ketika Hidayah Menyapa, Part 22 (Hidup di Penjara Suci)

Ketika Hidayah Menyapa, Part 22 (Hidup di Penjara Suci)

Oleh. Muflihah S. Leha

Sebagai santri baru, Dika tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Baginya yang terpenting adalah tidak menghabiskan waktunya dengan  bermain-main. Ia ingin berhenti menjadi anak yang ngalor-ngidul tanpa tujuan, mencari kesenangan sesaat.

Lamunannya terhenti ketika seseorang mengagetkannya.

"Hai Dika," sapa Putra, adiknya Agung, temannya Aldan namun sering keluyuran bareng, ternyata ia sudah lebih dulu mondok di sini. Dika yang sebelumnya merasa kesepian karena yang ia temui wajah-wajah baru, merasa senang.

"Hai ..., kamu Put?"

"Kamu masuk kamar yang mana?" tanya Putra penasaran.

"Ah, dimana saja boleh," jawab Dika pasrah.

"Sama aku aja, gak papa, kayaknya yang lain sudah pada penuh." Putra menawarkan. Dika yang masih memerhatikan suasana baru di sekelilingnya hanya mengangguk.

Semua santri berhamburan keluar. Ada yang dari kamar, ada juga yang dari aula. Dengan teratur semua pergi ke luar.

"Ayuk, Dik. Ikut," ajak Putra.

"Kemana?" tanya Dika penasaran.

"Makan malam."

"Makan malam?" pungkas Dika yang masih bingung. Sebenarnya ia belum merasa lapar, namun sebagai santri baru, apapun yang dilakukan temannya ia ikuti.

"Kok, ada yang menuju ke arah sana?" tanya Dika ketika menyaksikan beberapa santri menuju arah yang berlawanan.

"Iya, kamu mau pilih mana? Orang tuamu pasrah pada siapa? Soalnya ada yang makan di rumah sebelah sana," ucap Putra sembari menunjukan ke arah rumah putranya Pak Kyai.

"Ada yang langsung ke 'Ndalem juga" ucap Putra menjelaskan, Dika membulatkan bibirnya.
 
"Menu di Ndalem lebih enak, namun yang makan di sini gak banyak, hanya beberapa santri saja," Putra menjawab sambil mengambil prasmanan di meja.

"Kenapa yang ke sini sedikit?" tanya Dika penasaran.

"Ya, suka-suka. Mereka sudah nyaman dan  terbiasa di sana," jawab Putra. "Coba besok kamu makan siang di sana," tantang Putra.

"Apa boleh?" 

"Ya boleh lah. Suka-suka, masih satu yayasan, dibagi-bagi tempatnya agar tidak bertabrakan.  Bayangkan kalau santri segitu banyaknya disatukan, pasti ramai," Putra menjelaskan

"Iya juga sih," jawab Dika yang setuju dengan pendapatnya Putra.

Benar saja walaupun Dika belum merasa lapar. Namun, saat melihat ayam goreng di meja, ia segera mengambil piring. Para santri mengambil makanan dengan antre, teratur, makan secukupnya, dan tidak menyisakan makanan di piring.

"Aku gak habis kayaknya Put, soalnya aku sebelum ke sini sudah makan dulu, aku mengambil sedikit, melihat yang lain sebagai contoh, padahal aku makan di rumah bisa 2x lebih banyak, tapi kayaknya ini gak bisa aku habisin deh," keluh Dika yang sudah kenyang,

"Habisin. Kalau tidak, kamu bisa dihukum," tandas Putra.

"What! di hukum?, Makan gak habis kena hukuman?" Dika kaget.

"Makanya ambil nasinya sesuai batas, tuh ada CCTV," ucap Putra sembari menunjuk ke atap-atap langit. Dika pun tengak-tengok kearah yang Putra maksud, namun tak ada kamera yang Dika lihat, hanya barisan genteng yang tertata. Baru ia mengerti CCTV yang Putra maksud.

"Sini, buat aku, perutku masih muat," pinta Putra sembari mendaratkan tangannya ke piring yang sedang di pegang Dika. Dengan lahapnya putra memakan nasi yang masih sedikit mengepul.

***

Usai makan malam, semua santri melafalkan hafalan yang menggema bersahutan  memenuhi aula.

"Kamu sudah hafal surat-surat pendek?" tanya Putra,

"Ya, sudahlah. Ayat-ayat pendek masa gak hafal," cetus Dika dengan enteng.

"Ooo ... Siplah, besok kita setoran hafalan.  Kalau sudah hafal, tidur saja kamu," Putra membuka mushaf dan mulai menghapalkan ayat-ayat Al-Qur'an.

"Loh, katanya surat-surat pendek, kamu hafalan apa itu kok surat yang panjang kayaknya," tanya Dika yang mendengarkan hafalan Putra dan santri-santri yang lain.

"Iya, surat Yasin, Al-mulk, Al-waqiah, Muhammad, dll," jawab Putra.

"Itu surat-surat panjang." Dika menepuk lutut Putra yang duduk di depannya. Putra tertawa melihat Dika yang terkekeh.

"Di sini surat-surat pendek, ya itulah. Masak An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas? Kalau itu, semua orang Islam pasti hapal kali ...!"

"Waduh, kalau yang namanya surat pendek di sini adalah surat Al-mulk ... ya, aku belum hapal lah." Dika galau. "Lah, terus aku gimana?" 

"Ya hapalkan lah!" jawab Putra.

Dika pun ikut menghapalkan surat-surat pendek, dimulai dari surat Al-mulk, awal juz 29.

***

Saat rasa kantuk menghampirinya, Dika masuk ke kamar untuk memejamkan matanya. Seketika suara tawa temannya membangunkan tidurnya. Ia merasa terganggu dengan suara riuh temannya yang ramai bercanda. Apalah daya aku anak baru, batin Dika. Rasa kantuknya buyar, Dika pun keluar kamar. Ia ayunkan kakinya ke tempat yang lebih sepi.

"Kemana ya, semua kamar ramai," dengan mata setengah terbuka, ia menyapu semua sudut sampai matanya tertuju pada sebuah ruangan di gedung sebelah.

Dengan kondisi setengah sadar, ia masuk ke sebuah ruangan. Sesampainya di ruang yang gelap itu, Dika menemukan ketenangan.
Ia masuk menuju bangku yang berjejer-jejer. Dika menghempaskan badannya di bangku.  Seketika ia terlelap.

Bersambung

Baca juga:

0 Comments: