Cerbung
Ketika Hidayah Menyapa, Part 21(Bermain Bulutangkis)
Oleh. Muflihah S.
Usai mengaji, Dika berjalan dengan teruru-buru. Ia berharap masih bisa melihat kepergian Aldan. Tak lama ia pun sampai di rumah.
"Assalamualaikum," dengan cepat Dika membuka pintu rumah, masuk hanya menaruh Al-qur'an. Secepat kilat ia kembali ke luar rumah. Ayunan kakinya dengan cepat dilangkahkan ke rumah Aldan. Sayang, sesampainya di sana, rumah Aldan sudah sepi. Ia tertinggal.
Dika memutuskan untuk pulang. Di rumah, ia melihat adiknya sedang bermain raket sekenanya. Seketika Dika tersenyum, timbul keinginannya untuk bermain raket dengan adiknya.
Awalnya, adiknya tak mau Dika meminjam raketnya, ia malah menangis. Namun, akhirnya mereka main bersama. Tak berapa lama, Dika pergi membawa raket dan mencari temannya. Terlihat Rama sedang duduk di teras, Dika pun menghampirinya.
"Woi! Melamun!" Dika mengagetkan Rama.
"Aku lagi mengingat Aldan. Tadi hanya bersalaman dan berlalu. Secepat itu," gumam Rama.
"Beruntung kamu masih sempat bersalaman, aku malah tak sempat menemuinya,"
"Main bulutangkis aja yuk!" ajak Dika,
Rama bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil raket.
Mereka bermain bulu tangkis sampai berkeu.
Saat asyik bermain bulutangkis, datang Epan dengan motor maticnya, wajahnya kusut. Tapi tiba-tiba, Epan membalikkan motornya dan kembali pulang.
Dika yang heran melihat tingkah laku Epan, hanya terdiam.
"Sudah, aku pulang dulu," ujar Dika. Napasnya terengah-engah.
***
Malam yang gelap, langit putih tak berbintang. Bulan pun bersembunyi tertutup kabut hitam. Angin berembus kencang, dinginnya malam ini menusuk tulang.
Dika duduk di teras sendiri tanpa Aldan. Hanya sinar lampu remang-remang yang menerangi tubuhnya. Sendiri membayangkan kemarin malam masih asyik bermain PlayStation bersama teman-teman, termasuk Aldan
Suara petir mengagetkan lamunannya. Rintik-rintik hujan mulai menetes. Dika berlari pulang.
Ia masuk ke rumah tanpa menoleh kepada adik-adiknya yang sedang bermain bersama.
Dika masuk ke kamar menghempaskan badannya ke kasur lalu memeluk bantal. Dalam hitungan detik, ia pun tertidur.
***
Suara ayam berkokok bersahutan, Dika tersentak dengan suara azan dari kejauhan. Ia segera bangkit mengambil air wudhu. Usai mengencangkan kain sarung, ia pun bergegas keluar menuju masjid.
Tampak gelap masjid itu dari kejauhan.
Usai salat Isya, lampu-lampu dimatikan semua kecuali lampu teras. Dika masuk menyalakan lampu-lampu di dalam masjid.
Lalu memukul kentong dan bedug bergantian.
Pagi yang sunyi dan senyap seketika bergema dengan suara azan yang ia kumandangkan.
Usai mengumandangkan azan, ia berdiri untuk salat sunah sebelum sang Imam datang.
Terdengar suara-suara jamaah berdatangan,
Sembari menunggu Imam datang, ia pun kembali menyalakan mesin toa dan membaca shalawat. Teman-temannya berdatangan mendengar gelegar suara Dika di pagi buta.
***
Usai berjamaah, Dika membuka mushaf Al-Qur'an dan tilawah. Ia hanya menghibur hatinya yang sedang gundah, berharap bisa mengisi waktu. Menunggu waktu berlalu, entah apa yang ditunggu. Ia pun tak tahu.
Rasa kantuk menghampiri ketika sedang tilawah. Ia memaksa matanya agar tidak kalah.
"Aku gak boleh tidur setelah Subuh, Ayahku terkena diabetes, aku tidak ingin penyakit itu menghampiri tubuhku," batinnya untuk melawan agar jangan tidur di waktu yang terlarang. Apapun yang dilarang oleh agama berusah ia ikuti. Ia percaya pasti ada rahasia di baliknya.
***
Pagi yang cerah, matahari bersinar menyinari pepohonan. Burung-burung berkicau dari pohon rambutan yang begitu rindang di depan rumahnya, Dika keluar menuju tempat nongkrong.
Epan datang menghampirinya, Dika bermain gawai bersama. Saat asyik bermain, Rama lewat di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dika kembali bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kenapa saat aku bermain bersama Rama, Epan acuh, dan kali ini, aku bermain bersama Epan, Rama yang membuang muka," gumam Dika dalam hatinya, ada rasa cemburu ketika tidak ada Aldan di tengah mereka, bermain apapun tidak ada keseruan.
Merasa tak enak hati, Dika memutuskan untuk pulang. Ia kembali menyendiri. Hari-hari berlalu tanpa teman. Hubungan persahabatan menjadi renggang. Dika mencoba menyatukan Epan dan Rama agar mau bermain bersama. Sulitnya bermain bertiga, Dika ingin segera mondok.
"Dik sudah jam berapa? ngaji sana!" suara orang tuanya mengagetkan khayalannya.
"Gak mau, ngaji sendirian bete, aku mau mondok sekarang juga! titik." cetus Dika membuat orang tuanya linglung.
Satu sisi mumpung anaknya minta mondok, satu sisi belum ada persiapan.
"Mondok kan harus pake uang, masa minta mendadak seperti itu?" bujuk Ibunya meyakinkan.
"Gak, pokoknya, kalau aku gak dipondokkin sekarang, harus menunggu lulus dulu baru ke pesantren aku gak mau mondok sekalian," cetus Dika membuat orang tuanya tidak punya pilihan.
Mendengar pengakuan Dika yang ingin sekali ke pesantren, orang tuanya ke sana-kemari mencari persiapan, karena harus mengurus pindah sekolah yang tinggal setahun. Ia pun pasrah dan harus menuruti keinginan anaknya. Ia menyesal, dulu pernah Dika meminta ke pesantren namun masih belum tega, karena usianya yang masih kecil, justru penyesalan baru datang ketika tingkah laku anaknya semakin tidak karuan. Hari ini belum terlambat untuk semuanya, Alloh masih memberi kesempatan. Ia percaya walaupun tak punya uang, Alloh pasti memudahkan setiap jalan menuju kebaikan. Permintaan yang begitu mendadak, sudah sore Dika langsung beres-beres untuk pergi ke pesantren. Karena anggaran yang minim, Dika masuk ke pesantren yabg dekat-dekat saja.
"Kamu ke pesantrennya Reza ya ..., Pesantren tua yang santrinya semakin banyak, pondok pesantren An-Najah, banyak para hafidz jebolan sana yang bermanfaat ilmunya," kata ibunya.
"Iya, gak apalah ..." jawab Dika pasrah.
Malam itu juga Dika diantar ke pesantren.
Bersambung
Baca juga:
0 Comments: