Headlines
Loading...
Oleh: Muflihah S Leha

Saat semua sedang membersihkan sisa-sisa busa yang masih terasa licin di lantai, Aldan tiba-tiba mengaduh kesakitan.

"Auw ... Perih!" teriak Aldan.

"Kenapa?" tanya Dika panik.

"Kakiku." Aldan menunjuk telapak kakinya yang tiba-tiba mengeluarkan darah merah segar.

"Hiiiy ... Mas Aldan berd*r*h." Dika panik.

"Uh, perih!" Aldan mengambil pecahan kaca yang menancap di kakinya.

"Kok, ada serpihan kaca? dari mana?" tanya Epan sembari mengarahkan pandangannya ke semua jendela-jendela masjid.

"Och, itu ada jendela yang pecah," sembari menunjuk ke arah jendela di ujung kiri masjid. Jendela di samping kiri khusus tempat untuk jamaah wanita.

"Lho, itu kan pecahnya sudah lama," sahut Dika heran.

"Astaghfirullah ... dari tadi kita tercecer di sini," keluh Dika sembari mencari kain untuk menutup kaki Aldan agar d*r*hnya berhenti keluar.

Dengan sigap Epan  segera menggendong Aldan yang bertubuh kurus. Badan Epan yang kekar membuatnya serasa ringan saja menggendongnya.

Epan mengantarkan Aldan pulang.

"Aku pulang dulu ya," pamit Aldan sembari menahan sakit.

"Aku jalan sendiri saja, Pan," pinta Aldan,

"Sudah, diam. Kakimu lagi sakit, gimana jalannya," sahut Epan.

Aldan terkekeh, merasa aneh digendong sahabatnya. Ada Rea yang kebetulan sedang menuju ke rumah Aldan. Rea bermaksud melepas kepergian Aldan. Sontak Rea terkejut melihat Epan menggendong Aldan.
Hatinya bertanya kenapa Aldan digendong?
Ia pun langsung berlari menghampirinya tanpa bertanya dulu.

"Sini, aku bantu, Pan," pinta Rea. Sembari jongkok mempersilahkan Aldan naik di punggungnya. Banyak sahabat yang merasa iba terhadap Aldan. Namun Epan melanjutkan langkah kakinya bersegera menuju ke rumah Aldan yang sudah dekat, Rea pun tak bisa protes. Ia mengekor Elpan.

"Kamu kenapa, Al?" tanya Rea, sembari memegang kakinya yang berlumuran d*r*h.

"Terkena serpihan kaca," jawab Aldan perlahan.

"Kok baju kalian basah kuyup," tanya Rea penasaran.

"Iya, kami sedang membersihkan masjid bersama. Kami berselancar di lantai masjid sampai tak sadar  kalau ada serpihan kaca di lantai," sahut Epan,

"Astaghfirullah," ucap Rea sembari membayangkannya, badannya terasa tersilet seperti ikut merasakan.

"Ish ..., ngeri!" kata Rea.

Setiba  di rumah Aldan, Epan menurunkannya. Dengan sigap Rea menolongnya, mengantarkan ia masuk ke dalam. Sedangkan 
Epan langsung membalikkan badannya.

"Re tolong anterin Aldan masuk ya, aku mau membantu Dika membersihkan masjid," pesan Epan.

"Oke," jawab Rea.

Epan pun segera berlari menuju ke masjid, untuk meneruskan pekerjaannya.

Di saat bilasan terahir, Aldan datang digendong Rea. Bajunya sudah bersih, kakinya pun sudah dibalut perban.

"Sudah selesai?" tanya Aldan pada Dika.

"Tinggal terasnya yang belum disiram," jawab Dika yang senang sekali bermain air.

"Tampak kinclong dan wangi, jamaahnya pasti betah," sambung Epan yang bolak-balik memeras bajunya untuk mengepel lantai yang sudah mulai kering.

Usai membersihkan teras, mereka mandi bersama-sama. Aldan menyaksikan apa yang dilakukan sahabat-sahabatnya. Tiada terasa hatinya merasakan sesuatu, ada rasa berat untuk berpisah dengan mereka, meninggalkan sahabat yang selalu membuatnya tertawa.  Bersama mereka suasana selalu hidup.

Bulir-bulir air mata hampir saja membasahi pipinya, kalau saja ia tidak mengusapnya dengan cepat. Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihan di hari terakhirnya. Ia ingin selalu bahagy bersama teman-teman sekampungnya. Seandainya ada yang melihat Aldan menangis, mungkin mereka akan merasa sedih juga.  

***

Panasnya matahari di siang hari begitu terasa, syukurnya, semilir angin mendamaikan suasana. Bersama sahabat sekampungnya, Dika ke masjid untuk mengumandangkan azan.

Usai salat berjamaah, Dika langsung ke rumah Aldan. Rasa kantuk datang saat duduk mengaminkan doa sang Imam. Namun, ia tahan karena teringat Aldan.

Setelah dari masjid, mereka berkumpul lagi bersama. Dika langsung ke rumah Aldan. Di sana Aldan sedang duduk-duduk bersama sahabatnya. Tas-tas besar dan segala keperluan Aldan sudah berjejer rapi di ruang tamu.

"Sini, Dik," pinta Aldan.

"Apa gak ditunda dulu keberangkatannya, kakimu kan masih sakit," tanya Dika sembari duduk di sampingnya,

"Gak lah ..., Besok kan sudah mulai tes pendaftaran," jawab Aldan.

"Nanti aku berangkat ngaji sama siapa?"  Dika sembari menundukkan kepala menahan kesedihan.

"Sama aku Dik, sekalian aku mau pamit sama pak Kyai," jawaban Aldan semakin menusuk sanubari. Dengan tersenyum Aldan mencoba menghibur Dika yang seolah tidak merelakannya.

***

Sore yang indah, panasnya matahari mulai redup, suara-suara serangga bersahutan seperti musik khas kampung pedalaman. Binatang kecil yang hinggap di pepohonan mengeluarkan bunyi yang nyaring di sore hari. 

Dika bersiap untuk mengaji, rasa berat dalam hatinya memaksanga harus bisa melewati hari-hari tanpa Aldan. Terkenang kemarin mereka masih mengaji, sekolah dan bermain bersama. Kini Aldan harus pergi demi masa depannya.

"Dik, yuk, berangkat," teriak Aldan di atas roda dua. Dia dibonceng ayahnya.

Dika yang sedang memakai sarung bergegas keluar mendengar suara Aldan memanggilnya.

"Dianterin?" tanya Dika yang melihat Aldan dibonceng Ayahnya 

"Iya, yuk, boncengan bertiga," pinta Ayah Aldan.

Dika termenung merasakan kesedihan yang menghujam jantungnya karena teringat Aldan lagi, namun ia masih bisa tersenyum dan berangkat bersama.

Dika duduk mengantri seperti biasa, sembari menunggu Ustadz yang mengajari ngaji, biasanya Dika bercanda-canda dengan Aldan.

Dika melihat Aldan sedang berpamitan, tampak jelas dari aula yang berjejeran, Dika melihat Aldan dari balik kaca, sedang diberi kenangan mushaf Alquran dan doa restu dari pengasuh Ponpes Api Salaf.

Bersambung

Baca juga:

0 Comments: