Cerbung
Ketika Hidayah Menyapa, Part 19 (Aldan ke Pesantren)
Oleh: Muflihah S. Leha
Setelah seminggu menjalankan ulangan daring, tibalah libur panjang. Namun, karena masih masa pandemi, mereka merasakan sama saja, baik libur ataupun sekolah.
Pada situasi normal, libur panjang membuat mereka puas bermain bersama kawan sekampung. Ada kalanya senang ada kalanya jenuh, namun mereka selalu bisa menciptakan suasana baru. Bagaimanapun, mereka tetaplah anak-anak yang sedang mencari kesenangan, bermain sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Ketika semakin banyak teman dari luar, rasa khawatir menerpa orang tua mereka. Ada teman yang datang dengan penampilan yang aneh seperti telinga ditindik dengan anting, rambut berwarna-warni, memakai kalung yang seolah membuatnya menjadi keren.
Orang tua mulai panik, apalagi ketika Aldan dan Dika berkali-kali diajak mereka. Orang tua mereka merasa takut kalau anaknya ikut-ikutan. Apalagi setelah mendengar curhatan Dika. Saat sedang tidur di rumah temannya, ada yang akan menindik telinganya. Beruntung Dika langsung sadar.
Tetapi saat rambutnya diwarnai temannya, sampai saat ini ia tidak tahu siapa pelakunya.
Setelah menerima tanda kelulusan, orang tua Aldan memutuskan untuk memasukkan anaknya ke pesantren. Dika yang juga ingin masuk ke pesantren, tidak diizinkan oleh orang tuanya, karena masih kelas dua.
Temannya yang mendengar Aldan mau ke pesantren merasakan kesedihan. Dengan berat mereka melepas kepergiannya. Terlebih yang di mrasakan oleh Dika, Epan dan Rama.
Aldan yang selalu bermain bersamanya, kini Ia telah lulus. Rasa sedih menghujam hati mereka.
Serasa baru kemarin panggung wisuda kelas 6 pecah, saat perpisahan dengan Aldan. Kini, setelah dua tahun bersama sekolah di tingkat lanjutan, keduanya harus berpisah lagi. Perpisahan ini sungguh terasa lebih menyakitkan, karena Aldan akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi dan masuk ke pesantren yang jauh.
Aldan yang seperti besi berani, menghangatkan suasana dengan mengatakan akan pergi mencari ilmu demi cita-citanya. Dika tak kuasa menahan kesedihan. Dia berpikir, akan seperti apa bila Aldan sudah tidak lagi bersamanya.
"Kok pada bengong sih?" tegur Aldan di tengah-tengah mereka
"Rasanya gimana ya, karena ini adalah hari terakhir kita nongkrong bersamamu" sahut Epan yang sudah membayangkan hari esok.
"Sudahlah ..., memang hidup harus seperti ini. Ada susah, pasti ada bahagia," sahut Aldan yang sudah mulai dewasa. "Rasanya sudah puas kita bermain-main, saatnya kita meniti masa depan. Aku akan belajar agama agar aku bisa menjadi seorang muslim yang sejati."
"Rasanya aku ingin ikut," sahut Dika.
"Rampungkan dulu sekolahmu," cetus Aldan menasehati Dika
"Aku juga pingin jadi ustadz," sahut Epan.
"Masih banyak waktu untuk kita, kita-kita kan masih muda," ucap Aldan membesarkan hati teman-temannya.
"Belum ke pesantren, lu sudah kaya ustadz aja," sahut Rama sembari menyenggol pundak Aldan dengan pundaknya.
"Sebelum aku berangkat besok pagi, hari ini kita buat kenang-kenangan, yuk!" ajak Aldan
"Ayuk! Kenangan apaan?" tanya Dika.
"Pokoknya yang bikin asyik," sahut Aldan
"Di mana-mana yang namanya perpisahan gak bakalan asyik," cetus Epan dengan nada tinggi.
"Ada, asyik dan ada manfaatnya," sahut Aldan sekenanya.
"Apaan?" tanya Dika penasaran.
"Kerja bakti," jawab Aldan tanpa berpikir.
"Astaghfirullah...." sahut Rama,
Perpisahan buat kenang-kenangan kok kerja bakti, bikin capek aja."
"Pasti asyik dan seru," pungkas Aldan.
"Kerja bakti di mana?" tanya Epan.
"Kita siram masjid yang kotor. Sudah banyak kotoran tokek, kotoran cicak, kita pel bersama," jawab Aldan yang memang sudah tahu keadaan masjid itu.
Masjid satu-satunya di kampungnya, yang tidak ada pengurusnya, hampir jarang dipel, hanya disapu. Kalaupun ada kotoran cicak hanya dibersihkan di bagian yang terkena najis saja. Yang membersihkan adalah jamaah yang datang lebih awal. Biasanya setiap seminggu sekali ada yang membersihkan. Namun, sudah beberapa minggu ini tak ada yang membersihkan.
"Aku setuju," jawab Dika.
"Iya, masjid kita ada kerja bakti, hanya bila mau menjelang bulan Ramadan saja," sahut Rama
"Ayuk, kita bersihkan bersama," sahut Aldan sembari mengayunkan kakinya ke arah masjid.
Di tengah perjalanan menuju masjid, Aldan mampir dulu ke sebuah warung. Biasanya ia membeli rokok. Namun kali ini berbeda. Ia membeli sabun cair untuk mengepel.
Teman-temannya menunggu di seberang jalan menuju gang masuk ke arah masjid. Setelah Aldan tiba, mereka melanjutkan perjalanan ke masjid dan langsung berbagi tugas. Ada yang menyapu, mengelap kaca dan mengepel lantai.
Mereka sempat kebingungan ketika hendak mengelap kaca tapi tak menemukan lap.
"Gak papa, pake ini saja," jawab Dika sembari membuka kaosnya yang langsung dibasahinya. Dengan cueknya, ia mengelus-elus kaca masjid yang kotor dengan bajunya.
Menyaksikan kekonyolannya Dika, Aldan tertawa terbahak-bahak.
"Minggir-minggir ... kakinya diangkat!" cetus Epan meledek Dika yang sedang membersihkan kaca.
"Sapu mau lewat ...," candaan Epan mengundang gelak tawa.
Usai menyapu Rama mengambil air dan menyirami lantai masjid, semua sudut basah terkena siramannya, tak puas dengan siraman yang kurang banyak, Aldan mengambil selang untuk membasahi semua lantai.
Saat air menyebar ke semua sudut, Aldan membuka satu saset sabun yang langsung di siramkan ke lantai sembari mengayunkan kakinya, seketika kakinya melaju dengan cepat karena licin, semakin kakinya diayun busa-busa semakin banyak,
"Woi! awas ...," teriak Epan yang kakinya seperti berselancar di laut yang luas, teriakan Epan lebih lambat dari pada kakinya, Aldan dan Rama pun tertabrak. Dika mengikuti dari belakangnya tanpa sepengetahuan Epan,
Karena berrhenti, Epan terjatuh. Mereka bertumpukan.
"Aduh!" keluh Epan sembari mengelus b*k*ngnya yang terb*nting ke lantai.
Melihat Dika terjatuh berguling ke lantai, Aldan dan Rama pun tertawa dan mengikuti mereka berselancar di masjid dengan baju basah kuyup.
Kehebohan mereka terdengar mengasyikan. Mereka sangat menikmati saat-saat terakhir dengan tertawa penuh riang.
"Suah, yuk kita bersihkan sabunnya. Kita bilas sampai 3 kali agar masjid suci dan wangi," ucap Aldan.
Bersambung
Baca juga:
0 Comments: