Cerbung
Ketika Hidayah Menyapa, Part 18 (Tes Kenaikan Kelas)
Oleh. Muflihah S. Leha
Seminggu telah berlalu. Rasa nyeri di kepala Dika sudah berkurang. Luka-luka di tubuhnya mulai mengering, sisa tangan kirinya saja yang masih terikat oleh balutan perban. Sehari-hari ia memakai kemeja jumbo dan sarung yang kedodoran.
Dengan kondisi seperti itu, Dika tetap menyempatkan untuk bermain ponsel. Ia pergi ke rumah eyang untuk mencari sinyal. Dengan tenang, ia bermain ponsel tanpa gangguan. Rumah eyang yang sepi karena tak berpenghuni membuat Dika betah di sana.
Saat tengah asyik bermain, ibunya datang mencarinya. Dengan panik, ibunya memberitahu bahwa ada ibu guru di rumah, datang untuk menjenguk Dika, "Kamu ini gimana sih, masih belum sembuh sudah keluyuran. Ada Bu Alfi. Cepat pulang. Main hape melulu!" cetus ibunya kesal.
Mendengar nama Bu Alfi, Dika bergegas pulang dan menyambut gurunya. Dika menyambut Bu Alfi dengan tersipu dan malu.
"Bagaimana keadaanmu, Dika," tanya Bu Alfi,
"Alhamdulillah sudah membaik," jawab Dika sambil menunduk.
"Hasil nilai pelajaran kamu lumayan, ada yang tertinggi nilainya di pelajaran Bahasa Indonesia dan Fikih." Senyum Dika mengembang. Ia tertunduk canggung. Guru yang ada di depannya ini adalah guru yang begitu ditakuti hampir setiap siswa.
"Tingkatkan belajarmu. Minggu depan sudah tes kenaikan kelas. Belajar yang rajin, jangan suka keluyuran," pinta Bu Alfi.
"Dika malah gak pernah belajar kok, Bu," cetus Anis sembari membawa nampan berisi teh manis dan camilan.
"Gak usah repot-repot, Bu," ungkap Bu Alfi.
"Karema tesnya online, setelah selesai mengerjakan soal, main lagi," sambung Anis melanjutkan keluhannya.
"Di sini sinyalnya sulit sih Bu, harus pergi mencari posisi yang ada sinyalnya," Dika membela diri.
"Ya, mudah-mudahan diberi kemudahan dan kamu segera sembuh," pesan Bu Alfi sembari berpamitan usai meminum segelas teh hangat yang disuguhkan untuknya. "Jangan lupa belajar yang rajin."
"Tuh, dengerin," cetus ibunya sembari menatap wajah anaknya.
"Terima kasih, Bu. Sudah menengok Dika. Hati-hati di jalan," ucap Anis sembari bersalaman dan mengantar ke luar menyambut kepergiannya. Dika melemparkan senyum dan menganggukkan kepalanya setelah mengucapkan terima kasih atas doa-doanya.
***
Pagi yang cerah. Matahari pagi bersinar dengan sempurna. Cahayanya menembus setiap celah.
Usai sarapan pagi, Dika meminum obat yang tersisa. Luka di kulitnya sudah mengering dengan sempurna, meski rasa gatal tak bisa ia tahan, efek bergantinya sel kulit yang baru.
Setelah kurang lebih dua minggu memakai kemeja ayahnya, hari ini ia sudah bisa memakai kaos sendiri. Tangan yang dibalut dan selalu diemban dengan selendang yang diikat ke leher, kini bisa bebas bergerak meski belum sempurna.
Dika yang semangat akan menjalani tes semester lewat online, bergegas mencari posisi, dengan cepat langkah kakinya menuju rumah Mbok Hadiyah. Sesampai di sana, Epan dan Rama sudah lebih dulu bersiap-siap. Sarung yang dikenakannya dilepas lalu diselempangkan ke leher. Ia segera duduk. Epan dan Rama menyambut Dika dengan senang.
Di tengah-tengah keseriusan mereka mengerjakan ulangan, melintas sebuah ambulans. Hal itu mengagetkan mereka.
Beberapa detik kemudian, adik Rama berlarian mencari abangnya.
"Mas Rama, adik kita meninggal dunia," suara adiknya memompa jantungnya. Rasa kaget dan gemetar memenuhi rongga dadanya. Dengan bergegas, Rama berlari meninggalkan ulangan.
Dika dan Epan merasakan kepanikan yang membuat mereka ingin segera menyusul Rama. Tapi apa daya, semua soal masih belum tuntas mereka kerjakan.
Setelah selesai mengerjakan ulangan, Dika dan Epan merasa iba terhadap Rama,l.
"Yuk, kita bantu mengerjakan ulangannya Rama," ucap Dika
Mereka bersama mengerjakan ulangannya Rama. Setelah selesai menjawab semua soal-soal dan berhasil mengirimkan jawabannya, Dika dan Epan berlari menuju ke rumah Rama.
Rama menangis tersedu, Dika terpaku menatapnya. Suasana yang begitu membuat angan Dika entah di dunia mana, entah apa yang dipikirkan olehnya, membayangkan kematian yang belum siap ia terima.
Adiknya yang meninggal masih bayi. Kehadirannya sudah sangat ditunggu-tunggu oleh Rama dan adiknya.
Namun, justru karena meninggal masih bayi, Dika termenung karena bayi masih suci, ia tidak memiliki dosa. Sementara dirinya selalu menyakiti orang tua.
Setelah selesai pemandian dan salat jenazah, Dika ikut memakamkannya. Hanya ratapan yang ada di benaknya, ketika menyaksikan batu-batu nisan yang berjejer. Air matanya menetes, ada rasa yang begitu menghantam sanubarinya. Suara talkin itu membawanya merenung jauh ke dalam lubang yang sempit dan gelap nan kecil itu, alam kubur yang pasti akan ia lewati.
Sedang apa mereka di sana, seandainya itu aku, siapkah aku menjawab semua pertanyaan malaikat yang menyeramkan itu. Apa yang akan malaikat itu lakukan jika aku tak bisa menjawabnya.
Ia tersentak dari lamunannya ketika temannya mengajak pulang. Dika terdiam dan menyeka air mata yang hampir saja membasahi kedua pipinya.
Semua orang meninggalkan tempat itu. Suasana pemakaman terasa dingin dan gelap karena banyaknya pohon-pohon yang tinggi. Belum lagi harus melewati lorong-lorong alami dari pohon bambu yang berjajar di sebelah kanan dan kiri jalan menuju pintu masuk pemakaman. Dika mengayunkan kakinya menuju pintu keluar, sembari bolak-balik menengok ke arah belakang.
Bersambung
Baca juga:
0 Comments: