Headlines
Loading...
Oleh: Desi

"Aku pamit pulang, Bu," ucap Bening pada ibunya Alifa.

"Jangan bosen main ke sini ya, Mbak. Ati-ati pulangnya," pesan ibunya Alifa. Bening menyalami dan mencium tangan ibunya Alifa.

"Aku nganter Bening sampai jalan raya ya, Bu," ucap Alifa yang diizinkan oleh ibunya.

"Sampai rumah kamu minta maaf sama pamanmu ya, Ning," pesan Alifa.

"Insyaallah, Put. Doain aku, ya," ujar Bening. 

Alifa melepas Bening yang menjauh dari pandangannya. Beribu syukur kembali terucap dari bibirnya. Doa-doa indah pun dilangitkan bertubi-tubi dari lisannya.

Jarak rumah Alifa ke rumah Bening hampir dua kiloan. Bening mengayuh sepedanya pelan. Dengan begitu kakinya tidak terlalu lelah.

Otak Bening mereview tiap bagian kebersamaannya dengan Alifa. Mengulang kembali tiap kalimat Alifa, ia ikat dalam kepalanya agar tidak lupa di kemudian hari.

Tiba-tiba Bening teringat kalau dirinya akan bertanya kepada Alifa perihal ibunya. Sebab, Bening merasa dari segi penampilan mereka berdua bagaikan langit dan bumi.

Alifa anggun dengan balutan busana muslim. Sedangkan ibunya tidak mengenakan kerudung, glamor, modis dan fashionable. Khas gaya istri pejabat.

Tinggal beberapa kayuhan lagi menuju rumahnya. Ada perasaan tidak siap dan takut jika harus menyapa pamannya.

Bening memasuki halaman rumahnya yang terlihat cukup luas. Terdapat ruang khusus garasi yang diapit oleh rumah Bening dan rumah pamannya. 

Bening melihat pamannya tengah menggendong Safia dari pintu samping. Posisi pamannya terlalu jauh untuk disapa. Sehingga Bening langsung memasuki rumahnya setelah memarkirkan sepedanya. Ada kakeknya menyambutnya di pintu. Bening menyalami tangan renta kakeknya dan memeluknya. Tidak lama, terdengar motor ibunya semakin keras mendekat. Bening kembali ke halaman untuk membantu membawakan barang bawaan ibunya.

Sehabis Magrib, Ibu Eli bergegas ke kamar anaknya. Dia cemas dengan hubungan keluarganya. Dia juga khawatir jika dibiarkan masalahnya akan berlarut-larut.

"Boleh Ibu masuk?" ucap Bu Eli dari balik pintu kamar Bening yang sudah terbuka setengah.

"Silahkan, Bu," jawab Bening sambil menutup buku yang sedang ia baca.

"Tadi kamu ke tempat Alifa bukan sedang menghindari masalah, 'kan?" tanya ibunya.

"Sama sekali enggak, Bu. Justru aku tuh lagi nyari solusinya," ucap Bening. "Aku main ke Alifa bukan sekedar kami dekat, tapi Alifa itu wawasannya luas dan pinter agama. Jadi aku nanya solusi sama dia," jelas Bening.

"Syukurlah. Ibu hanya cemas, Neng," ujar ibunya.

"Ibu enggak usah kuatir, aku bisa ngadepin," tangan Bening memegang tangan ibunya.

"Lalu, kenapa belum kamu selesein masalahmu sama Mamang?" tanya ibunya penuh kekhawatiran.

"Aku udah punya niat mau minta maaf, Bu."

"Kenapa enggak disamperin aja?" tanya ibunya penasaran.

"Besok ya, Bu," 

"Niat baik jangan ditunda-tunda," ucap ibunya. "Ayahmu sudah enggak ada. Kelak yang akan menjadi walimu, ya pamanmu." Tangan Ibu Eli membelai rambut lurus Bening. Mengusap kepalanya penuh kasih sayang.

"Walimu dari pihak ayah itu enggak ada, Neng. Ayahmu tidak memiliki saudara dan saudara Ibu cuma Mang Udin," tukas Ibu Eli. "Satu lagi pesan ibu. Jangan suka menyakiti hati orang lain."

"Mungkin kamu puas bisa meluapkan amarahmu. Tetapi ketika kamu gagal mengendalikan marahmu maka akan ada banyak hati tersakiti," ucap ibunya.

"Kamu harus tau. Jika kamu berbuat seperti itu, sebenernya kamu sedang menyakiti dirimu sendiri. Bisa saja orang yang pernah tersinggung olehmu sudah sembuh dari sakit hatinya," nasihat ibunya masuk ke dalam otak Bening.

"Tetapi si pelaku akan sulit sembuh sebab dibayang-bayangi penyesalan. Setiap kali teringat kelakuan buruknya penyesalan itu akan terus menghantui," ucap ibunya yang dibenarkan oleh hati Bening.

"Bener banget, Bu. Aku ngerasain kaya gitu. Terus saja dihantui penyesalan." Bening menatap ibunya. "Kasih aku waktu untuk mempersiapkan diri ya, Bu. Insyaallah besok aku minta maaf sama Mamang," pinta Bening.

"Oiya, Bu. Mumpung inget, aku boleh nanya enggak?" tanya Bening yang diberi sinyal anggukan kepala ibunya.

"Kenapa pas ayah mau nikah lagi, kok Ibu setuju?" sebuah pertanyaan yang membuat Bening tidak habis pikir.

"Baiklah akan Ibu ceritakan, kamu siap mendengarkan?" ujar ibunya. Tapi tanpa menunggu jawaban dari Bening, ibunya berkata, "Dulu pas Ibu ngelahirin kamu, ada masalah dalam rahim Ibu sehingga rahim Ibu harus diangkat," ucapan ibunya membuat mata Bening terbelalak.

"Ibu enggak bisa punya anak lagi, sedangkan cita-cita ayahmu ingin memiliki banyak anak. Ibu pun menyuruhnya untuk menikah lagi," cerita ibunya disambut pelukan dan air mata Bening. 

Terjawab sudah teka-teki yang sudah lama ingin Bening pecahkan. 

"Kenapa engga adopsi aja, Bu," tanya Bening.

"Kalo adopsi Ibu khawatir nasabnya enggak bener jadi ibu nyuruh ayahmu nikah lagi," jawab ibunya.

Bu Eli mengusap pipi Bening, mencium keningnya kemudian pamit keluar dari kamar Bening. Sementara Bening melanjutkan membaca buku dengan pikiran bercabang kemana-mana. (Bersambung)

Cilacap, 23 Oktober 2022

Baca juga:

0 Comments: