Headlines
Loading...
Oleh. Desi

"Minta maaf sama pamanmu, Ning. Dia pasti punya alasan kenapa berbuat seperti itu," ucap Alifa setelah Bening selesai menghubungi ibunya. "Jangan langsung ngejudge kalo dia jahat," lanjut Alifa.

"Manusia itu bersifat lemah dan terbatas. Karenanya kita tidak kuasa mengendalikan tindakan orang sesuai kemauan kita." 

Interaksi seperti inilah yang sangat dirindukan oleh Alifa. Bisa duduk berlama-lama bersama Bening menyampaikan pemahaman Islam.

"Sesuatu yang terjadi di luar kendali kita, itu namanya qada. Baik dan buruknya itu datang dari Allah." Kata-kata Alifa membuat Bening terbius.

"Lalu bagaimana sikap kita menghadapi qada dari Allah?" Alifa melempar pertanyaan yang tidak meminta jawaban dari Bening.

"Yang perlu kita lakukan adalah, mengimani bahwa itu datang dari Allah. Dengan cara sabar dan syukur," jelas Alifa.

"Modal kita untuk berbuat benar itu ya, ilmu. Dia bagaikan cahaya, sinarnya siap menerangi tiap sudut kegelapan." Indah tutur Alifa meleburkan pikiran Bening menyatu dengan untaian kata-katanya.

 "Minazzulumati ilannuur. Penggalan ayat ini cukup familiar di telinga kita. Yang memiliki arti dari kegelapan menuju cahaya." Telinga Bening terus diberondong oleh untaian kalimat bermakna, bagaikan peluru yang menembus kepalanya.

"Sejauh mana kita memaknai ayat itu?" Alifa berhenti sejenak, mempersilahkan Bening untuk mencicipi kue yang dihidangkan..

"Kegelapan itu memiliki banyak wujud. Kebodohan, kekufuran, kekejian dan seabrek kemaksiatan itulah wajah-wajah kegelapan," ucap Alifa sambil memegang gelas berisi air putih yang siap ia minum.

"Sementara cahaya itu tunggal yaitu cahya Ilahi semata. Sudahkah kita berlari ke arah cahaya atau berjalan menjemputnya atau merangkak?"

"Yuuk, kita bebaskan diri kita dari kebodohan dan wujud-wujud kegelapan lainnya dengan menjalankan kewajiban mencari ilmu." Kecerdasan Alifa mampu menghipnotis Bening, membuatnya tidak mampu berkata apa-apa.

"Ada pertanyaan?" ucap Alifa memecah keheningan.

"Wow. Amazing. Bicara kamu jauh melampaui umurmu," puji Bening sambil mengacungkan kedua jempolnya.

"Allah yang memudahkan bicaraku dan Allah juga yang memampukan aku mencerna banyak ilmu," ucap Alifa.

"Selain itu, kamunya rajin banget, jadi mantap cerdasnya," ujar Bening.

"Alhamdulillah aku dipertemukan banyak sahabat taat yang mengarahkan aku untuk berbuat benar. Banyak figur-figur teladan yang bisa dicopy paste oleh kita." Alifa terus menyebarkan virus rayuan agar Bening semakin penasaran dengan kajiannya.

"Amalan mereka luar biasa, Ning. Kadang aku merasa aku belum berbuat apa-apa," ucap Alifa.

"Apalagi aku, ya?" ujar Bening menambahkan. 

Untuk beberapa saat mereka berhenti dari obrolan, mulut mereka mengunyah beberapa gorengan dan makanan ringan yang tersimpan di toples beling. Kemudian meminum air putih beberapa tegukan.

"Aku engga pernah mikir sampai ke situ. Yang sering muncul di pikiranku, ya senyum oppa-oppa menawan ketika beradu akting," ucap Bening melanjutkan obrolan. Ia tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Coba dipikirkan, Ning. Mereka bisa berbuat apa ketika kita ada masalah. Akting yang mereka pertontonkan tidak memberi solusi yang kita butuhkan," ucap Alifa. "Berbeda jika kita mengidolakan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Beliau meninggalkan sebuah pusaka untuk kita jadikan pedoman," lanjut Alifa.

"Al-Qur'an, mukjizat terbesar dari Allah hadir sebagai solusi, dan As-Sunnah sebagai pelengkapnya," wajah Alifa nampak berseri-seri bahagia melihat Bening fokus pada tiap tutur katanya.

"Kelak yang bisa menolong kita dengan syafaatnya ya Rasulullah, bukan yang lain, 'kan. Beliau manusia tersibuk di Padang Mahsyar, mencari-cari kita, menyebut-nyebut nama kita." Ttak terasa air mata Alifa menetes.

"Layakkah kita disebut umatnya jika kita tidak mengenal siapa beliau, bagaimana perjuangannya, apa saja yang beliau ajarkan?" ucap Alifa sambil terisak.

Bening begitu tertampar dengan semua ucapan Alifa. Dia memeluk Alifa menangis bersama. Ada niat mulia terselip dalam hati Bening. Dan doa indah, berharap sesuatu itu akan menjadi nyata esok hari.

"Sudah azan. Kita siap-siap salat dulu, yuuk," ajak Alifa.

"Aku pulang sekarang, ya. Udah sore," ucap Bening setelah salat Ashar.

Bening melihat Alifa mengambil gamis ketika ia sedang merapikan kerudung dan baju seragamnya. Terlihat Alifa langsung mengenakannya tanpa membuka kaos oblongnya. Lalu memakai kerudung dan kaos kaki.

"Loh, kok kaosnya engga dilepas," tanya Bening heran.

"Ya memang harusnya kaya gini," jawab Alifa sambil merapikan kerudungnya.

"Apa enggak panas?" tanya Bening lagi.

"Panas mana sama neraka?" Alifa balik bertanya.

Bening melongo mendengar kata-kata Alifa. Lagi-lagi dia tidak tahu jika berpakaian harus seperti itu.

"Sekarang mantapkan diri untuk ngaji, luruskan niat hanya karena Allah. Jangan tergoda apa-apa lagi. InsyaaAllah ilmu itu akan kamu dapatkan semuanya,"  ucap Alifa lagi.

"Aku sudah bilang sama guruku. Tapi beliau belum bisa memastikan harinya, kapan bisa ketemu sama kamu, nanti aku kabari lagi ya kalo sudah pasti," ujar Alifa diiringi anggukan kepala Bening. (Bersambung)

Cilacap, 22 Oktober 2022

Baca juga:

0 Comments: