Cerbung
Mata Bening, Part 18 (Berbagai Beban)
Oleh: Desi
"Enggak ada kata terlambat. Apalagi kita masih muda, masih bisa mengejar ketertinggalan," ucap Alifa.
"Aku iri sama kamu," ucap Bening sambil menggigit sedotan yang bagian bawahnya terendam air berwarna coklat.
"Semua orang punya potensi, lagi. Enggak usah iri!" tutur Alifa.
"Iya, potensi bikin kekacauan." Bening mengumpat diri sendiri sambil menyeringai getir.
"Kalau kamu sudah mengenal ilmu Islam, pasti kamu akan melejit dan membuat aku jauh tertinggal," ucap Alifa sungguh-sungguh sambil melempar tatapan penuh makna ke wajah Bening.
"Gimana mau melejit? Kamu ngomong apa juga aku enggak ngerti." Kening Bening mengkerut tak menemukan makna di balik ucapan Alifa.
"O iya, apa kamu pake seragam itu dari kelas 7?" tanya Bening yang merasa heran karena tidak pernah menyadari jika Alifa menggunakan seragam model gamis. "Kok aku engga pernah tau, ya," lanjut Bening.
"Semua seragam sekolah, aku bikin model gamis dari kelas 5 SD," jawab Alifa. "Kecuali baju olahraga karena bawahnya celana. Berat rasanya menggunakan seragam olahraga. Semoga Allah mengampuniku," ucap Alifa.
"Maaf, ya. Aku enggak banyak menyampaikan kebenaran sama kamu." Alifa berterus terang. "Nyaliku sering menciut dengan karakter kamu yang keras kepala," ucap Alifa sambil meringis.
"Arogan, ya?" Bening memperjelas karakter yang dimaksud Alifa.
"Kamu juga kerasa, 'kan, kalo aku baru bisa ngomong agak banyak menjelang kenaikan kelas. Aku butuh menyelami dulu watak kamu." Alifa kembali meringis.
"Lalu, apa yang kamu temukan?" tanya Bening.
"Kamu kuat, pintar, baik. Hanya saja ada benang kusut yang harus dirapikan." Alifa menebak watak Bening.
Bening fokus pada poin benang kusut yang diucapkan Alifa kemudian memunculkan sebuah ide.
"Pulang sekolah ada acara enggak, Put?" tanya Bening.
"Kenapa?"
"Aku boleh main? Banyak yang ingin aku ceritakan," ucap Bening.
"Boleh," jawab Alifa dengan bahagia.
"Cepetan makannya. Bentar lagi bel," ujar Alifa mengingatkan Bening.
Ruang kelas kembali hening. Semua mata terpusat pada sosok guru yang sedang menjelaskan materi. Diam dan tenang, tetapi tak semua otak merangkum penjelasan sang guru.
Ada hati yang berteriak dalam bui. Terpenjara oleh laku keliru yang ia sulam. Rayon melaju mengikuti arah mata jarum bergerak. Membentuk simpul kusut rupa tanpa pola.
Asa membara menyelinap membabi buta bergerak menyapu jejak hitam yang telah ia ukir. Ia tersadar jejak itu telah melekat berkarat yang mustahil lenyap.
Esok menjadi harapan, ia ingin tak lagi salah memilih warna. Menekan nada yang berbeda agar iramanya tak lagi mengantar kelam. Menari di atas kesempatan yang akan melahirkan senyuman.
Mereka berdua mengayuh sepeda setelah aktivasi sekolahnya selesai. Melindas jalanan aspal melaju ke rumah Alifa. Aroma wewangian buah mulai tercium, tanda mereka telah sampai di rumah Alifa.
"Assalamualaikum," mereka mengucap salam bersamaan.
"Eeh ..., ada Mbak Bening," sapa ibunya Alifa. Mereka pun bersalaman penuh rasa hormat.
Mereka masuk melewati ruangan penuh kaca leba, yang menempel di dinding-dinding, berhadapan dengan kursi hitam yang ketinggiannya bisa diatur. Terdapat lemari besar penuh dengan baju-baju adat dan baju pengantin berderet rapi.
Tangan terampil ibunya Alifa tengah memotong rambut seorang wanita cantik. Sementara Bening sedang mencari kata-kata pas yang akan ia ceritakan kepada Alifa.
Kaki mereka berdua menaiki tangga menuju lantai dua rumah Alifa. Bening menunggu di ruang TV yang tertata rapi dan bersih. Sedangkan Alifa masuk ke dalam kamar untuk berganti baju.
"Mau ganti pake bajuku?" tanya Alifa yang ditolak oleh Bening.
Alifa berjalan menuju jendela kaca, kemudian memanggil Bening ingin menunjukkan sesuatu.
"Sini, Ning," ucap Alifa yang dituruti langkah Bening mendekat.
"Itu rumah Dirga," jari tangan Alifa menunjuk sebuah rumah yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya.
"Eh, aku ke sini bukan untuk itu," ujar Bening sambil menarik tubuhnya kembali duduk di tempat semula.
"Oh, iya. Tadi kamu bilang mau cerita banyak, ya?" ucap Alifa diiringi tawa ringan.
Bening mulai bercerita setelah Alifa duduk. Tiap bagian ia paparkan kepada Alifa. Sesekali terselip kata maaf penuh penyesalan. Pundaknya terlalu lemah memikul beban sendiri. Ilmunya pun teramat dangkal untuk menghadirkan solusi.
"Yang sudah terjadi tak mungkin bisa ditarik kembali. Dari setiap kejadian bisa diambil pelajaran," ujar Alifa. "Kamu udah merasakan akibat dari perbuatanmu yang meresahkan dirimu sendiri," lanjutnya.
"Evaluasi diri setiap kesalahan, lalu di upgrade agar besok engga terulang lagi," ucapan Alifa terasa begitu menenangkan.
"Belajar sabar ketika sesuatu menimpamu. Pahami dulu masalahnya baru bertindak. Tetapi jangan pake emosi." Tampaknya sedikit banyak Alifa paham karakter Bening yang suka meledak-ledak ketika ada sesuatu yang tidak ia sukai.
"Eeh ..., telpon ibumu dulu gih, kalau kamu sedang ada di sini!" ucap Alifa yang baru sadar Bening belum meminta izin pada ibunya.
"O iya, bibiku juga nanti khawatir jam segini aku belum pulang," ucap Bening.
Alifa menyodorkan gawainya, kemudian Bening menghubungi ibunya, memberitahu dia sedang berada di tempat Alifa. Alifa juga meminta ibunya untuk menyampaikan kepada bibinya. (Bersambung)
Cilacap, 20 Oktober 2022
Baca juga:
0 Comments: