Headlines
Loading...
Oleh. Muflihah S. Leha

Tanpa basa-basi Dika mengajak Isna ketemuan. Karena sudah jatuh hati,  Isna menyambut ajakan Dika.

Isna bersiap-siap untuk pertama kalinya bertemu Dika. Hatinya berdebar tak karuan. Karena sudah terbiasa pergi ke lapangan berdua dengan sahabat setianya, kali ini pun Isna mengajak Melly.
 
Jarak rumah Melly tidak jauh dengan rumah Isna.  Hanya beberapa menit Isna berjalan kaki, dia sudah sampai di rumah sahabatnya.
 
"Yuk, Mel," Isna langsung masuk dan mengajaknya karena mereka sudah janjian.

"Ya sebentar. Aku siap-siap dulu," terdengar suara Melly dari kamarnya. Isna langsung masuk dan menghampiri Melly. Dilihatnya Melly yang sedang mematut-matut diri di depan cermin. Isna ikut bercermin di kamar Melly,

"Sudah. Sudah cantik, kok," ucap Melly yang
Melihat tingkah Isna senyam-senyum di kaca,
Isna pun tersipu dan mencubit tangan Melly, karena ucapannya.

"Duh, yang mau ketemuan," ledek Melly 

Akhirnya mereka pun berangkat.

Karena jarak lapangan yang tidak terlalu jauh, mereka pun berjalan kaki menuju ke sana, ke tempat biasanha mereka nongkrong-nongkrong.

Sesampai di sana, mereka duduk-duduk menunggu Dika, Lama menunggu membuat Isna gusar, tidak biasanya ia merasakan kegelisahan, padahal sebelumnya sudah terbiasa duduk-duduk dengan santai, bercerita sambil menikmati sekeliling area.

"Kok, lama ya?" keluh Isna. Sementara Melly  tetap santai karena suasana hatinya sedang dama, dia mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang terkena penyakit malarindu.

"Coba kamu chat Dika" pinta Melly,
 
Jari Isna sibuk memencet ponselnya,
Ia langsung mengirimkan chat untuk pujaannya,

"Mas di mana kok  lama, katanya ngajak ketemuan?"

"Huh, masih centang satu Mel," keluh Isna,

"Tunggu aja, kali dia di perjalanan," ungkap Melly berusaha menenangkannya,

"Coba ah, aku telp," ungkap Isna mulai kesal,

"Huh, sama gak aktif,"
Melly mencoba membuat suasana baru, kedua matanya menyisir semua area pinggir lapangan, matanya melebar seketika, ketika melihat gerobak cilok langganannya sudah parkir di tempat biasa, Ia langsung berdiri,

"Hey, lihat cilok langganan kita sudah ramai.  Yuk, kita beli," ajak Melly

"Ayuk," Isna menyambutnya, barangkalii saja bisa mengobati kegundahan hati yang sedang ia rasakan.

"Beli, Bang,"

Si Abang menyambut pelanggannya dengan ramah, "Iya neng berapa?" tanya si Abang penjual cilok.

"Lima ribu jadi dua,"

"Pedas apa sedang," tanya tukang cilok

"Pedas banget," Isna menjawab dengan cepat

"Hiz, jangan terlalu pedas atuh," ucap Melly sembari memukul pundak Isna

"Aku gak pedas, Bang. Takut mules," pinta Melly

"Tuh Isna saja yang pedas, tambahin lagi pedasnya biar kapok," cetus Melly

"Ih, jangan pedas-pedas, kayaknya aku sudah kepedesan," ungkap Isna, yang bisa terbaca oleh Melly apa yang sebenarnya Ia rasakan.

"Lu kenapa sih, makan aja belum dah kepedesan," cetus Melly 
Sambil berjalan menuju ke tempat nongkrongnya.

"Hatimu kepanasan. jengkel nungguin..., Siapa tuh namanya," ledek Melly

"Kok aku jadi bete ya,"
Keluh Isna

"Ish...ish...ish... Jadian aja belum dah kaya gini," gumam Melly

"Iya yah, kenapa sih Mel, aku kok berasa 'nek aja,"

"Nek' kenapa?" tanya Melly sambil menikmati cilok yang masih hangat.

"Gak tahu, gue suka banget sama cilok, tiba-tiba males untuk memakannya."
Matanya bolak-balik membuka hape, yang masih nggantung semua tulisannya,
Hatinya bertambah gelisah.

"Dah, makan saja ciloknya," ucap Melly

"Gak ah, bete." Melly tertawa kecil
melihat tingkah sahabatnya,

"Heh, lu kan belum jadian, kemarin setiap kita ke sini biasa saja, ko sekarang jadi aneh gitu," 

"Iya gara-gara lu tuh," cetus Isna

"Loh, kok gue," sergah Melly 
"Salah apa gue,"

"Lu, yang memberikan nomer gue ke mas Dika,"
"Hahaha, so?." Ledek Melly

"So ... Gue jadi kesengsem," keluh Isna tanpa malu-malu.

"Terus gimana nih lu di PHP-in," ungkap Melly menyayat hati Isna

Seketika Isna terdiam, hatinya berasa tertusuk perih,

"Ish.. jangan baper, Sis," pungkas Melly, Isna pun terdiam memang kayaknya ialah yang terlalu berharap,

"Maaf Is, gue gak sengaja," Melly menyodorkan tangannya berharap kata-katanya tidak melukai perasaannya.
Isna menyambut tangan Melly

Tiba-tiba hape berbunyi. Chat dari Dika.
"Dika,." Isna segera membuka pesannya,

"Jadi, tunggu saja, aku sedang nungguin motor, lagi di pake,"

"Balasan chatku baru di balas,"

"Eh, coba tanya lagi, ke sininya sama mas Aldan gak," pinta Melly. Isna pun langsung membalas chatnya dan bertanya,

"Mas, kamu nanti ke sininya sama siapa,"

"Kok nggantung lagi chatnya... kenapa sih," keluh Isna

"Gak ada sinyal keleees.." jawab Melly

"Iya lu bener banget sih Mel, nih baru masuk,"

"Gue bilang juga apa,"

Sembari menunggu balasan tulisan yang Ia kirim, Isna tidak menutup ponselnya.
Seketika ponsel berdering,

"Di balas, Mel," ucap Isna

"Aku ke situ sendirian,"

"Yach...sendirian Mel, kesininya," ucap Isna

"Kok, gak sama Aldan ya" keluh Melly

"Ya, udah aku pulang saja ya," pinta Melly

"Jangan lah, Mel, tunggu aku," sergah Isna

"Nanti kalau sudah ada mas Dika, gue di kacangin ...,"

"Ih, ya enggak lah ..." jawab Isna meyakinkan,

"Gue kan belum jadian," ungkap Isna

Di tengah keasyikan ngobrol, datang Inka bersama Alifa,

"Heh, lu dah pada di sini," tanya Alifa

"Iya dah lama kita di sini," jawab Melly

"Liatin Abang cilok kesukaan kita gak," tanya Alifa

"Sudah lewat, Fa," jawab Melly

"Sudah lewat, In," keluh Alifa

"Ya sudah beli siomay aja yuk," ajak Inka

"Yuk, gue ikut," sambut Melly

"Gue ikut," pinta Melly

Mereka pergi bersama-sama

"Mana tukang siomay-nya," keluh Alifa

Sembari berjalan ke arah keramaian, Melly tersenyum melihat seseorang dari kejauhan

"Mas Aldan," hatinya seketika bergetar,

"Is, mereka datang,"

"Siapa...," tanya Isna sembari matanya jelalatan

"Mas Dika, huh aku kok gemetar Mel,"

"Apaan sih, kalian," tanya Alifa penasaran

"Ish, kalian punya pacar gak bilang-bilang ya?" ledek Inka

"Belum baru PDKT," ungkap Melly

"Gimana nih Mel," keluh Isna

"Kita ke sana aja yuk," pinta Melly

"Hish yang benar saja, masa kita duluan yang ke sana," ucap Isna

"So...?" 

"Kita tunggu mereka nyamperin ke sini," ucap Isna

Aldan memarkinkan motornya, Dika menunggu Aldan dengan setia, usai menaruh tumpakannya, Aldan berjalan menuju ke tempat biasa. Dika mengikutinya dari belakang,

"Lu, gak nyamperin Melly?" tanya Dika

"Ntar lah, takut di ledek Epan," ungkap Aldan

"Kok Epan sama Rama belum datang ya?"

Mendengar nama Rama, seketika Dika terdiam, hatinya masih sakit karena kejadian Minggu kemarin,

"Lu, dah maafan belum sama Rama," tanya Aldan

"Belum, siapa yang salah, dia duluan yang salah," ungkap Dika

Tampak Isna dan Melly tersenyum dari kejauhan,
Dika hanya membalas senyuman dengan hati yang tiba-tiba gundah.

"Tuh, kan mereka pada duduk di sana," ucap Melly

"Ayuk kita ke sana,"

"Gak ah, aku gak berani melihat mereka dari dekat," ungkap Isna

"Memangnya kenapa Is," tanya Melly 

"Gue dah menaruh hati sama mas Dika, gue takut mendekatinya,"

"Takut kenapa?" tanya Melly

"Takut pingsan Mel,"
"Melihat senyumnya saja aku terus ke bayang," keluh Isna

"Terus, gimana.."

"Kita pulang aja, yuk," pinta Isna

"Pulang..., Yang benar saja Is ..., mereka baru sampai," ucap Melly 

"Terserah lu, aku mau pulang saja," cetus Isna

Dika yang melihat Isna berdiri dari kejauhan segera mengirimkan chat,

"Kamu pada mau kemana,"

Chat belum di balas Epan dan Rama datang menghampiri Aldan

"Maaf mas Dika aku pulang dulu yah,"

"Iya aku juga mau pulang," jawab Dika di ponselnya

"Kamu gak marah, kan?" tanya Isna

"Marah kenapa?" tanya Dika

"Marah karena aku tinggal pulang," jawab Isna ke PD-an

"Gak lah..." jawab Dika

Sembari menyalakan motornya,

"Lu mau ke mana Dik,"
tanya Epan,

"Nih Rama mau minta maaf, kita main bareng," teriak Epan

"Iya pulang dulu bro," cetus Dika

"Mau kemana, Dik? Baru nyampe ko'k dah pulang?"

"Iya motornya di tungguin," jawab Dika sekenanya

"Aku ikut pulang lah,"
Aldan berlari mengambil motor dan membuntutinya.

"Dik kenapa Melly sama Isna pada pulang,"

"Iya belum siap ketemuan," 

Dika segera meninggalkan lapangan,
Epan dan Rama duduk berdua menatap keindahan suasana sore yang mengasyikkan.

(Bersambung)

Baca juga:

0 Comments: