Cerbung
Ketika Hidayah Menyapa, Part 17 (Masuk Rumah Sakit)
Oleh: Muflihah S Leha
B*ntur*n itu meninggalkan luka di kepalanya, rasa nyeri dan pegal semakin terasa. Di tengah kesakitan yang dirasa, ia mencoba membuka matanya, serasa terayun-ayun ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.
"Aku di mana sekarang?" Kalimat itu tak sampai terucap. Ia mengaduh kesakitan.
Sembari mengucap istighfar ia mencoba membuka matanya, "Mau di bawa kemana aku," batinnya.
Ia baru sadar apa yang baru saja di alaminya ketika sedang didorong di atas troli. Dilihatnya wajah yang menolongnya namun rasa berat di kepalanya memaksanya untuk memejamkan matanya kembali.
Si penolong membawanya ke ruang medis dan meninggalkannya di Rumah Sakit.
Kesadarannya tersentak ketika rasa perih menyiram wajahnya,
"Auw! Sakiit!" Ia tak mampu menahan perih di tubuhnya. Rasa sakit itu menusuk jauh lebih dalam. Teriakan dan tangisnya tak dihiraukan oleh seseorang yang memakai berseragam. Orang itu sibuk membersihkan luka-luka di tubuhnya.
Seolah tak punya perasaan, dengan cepat sosok itu membalut semua lukanya.
Setelah selesai, ia berlalu begitu saja.
Ia mulai tenang, ketika sesosok lelaki yang amat dikenalinya datang. Ayahnya. Datang untuk menjemputnya.
"Kamu ngebut, ya?" Tuduhan sang ayah tak mampu dijawab oleh Dika.
"Mana, orang yang sudah menolong kamu?" tanya ayahnya yang hanya dijawab oleh gelengan kepala Dika. Sang ayah langsung mencari orang yang sudah membawa Dika ke Rumah Sakit, namun tak dijumpainya. Ia menengok Sahal, teman yang membonceng Dika. Kondisinya sedikit lebih parah. Dengan segera, ia mengurus pembayaran dan membawa Dika serta temannya pulang,
Sesampai di rumah, Dika beristirahat. Tanpa sepatah kata pun ia ucapkan. Mulutnya mengerang kesakitan.
Setelah mengkondisikan Dika, ayah Dika lanjut mengantar Sahal pulang ke rumahnya.
Keluarga Sahal panik melihat anaknya pulang dengan balutan luka.
Banyak warga sekitar dan teman-teman Dika, membesuknya. Mereka ingin mengetahui keadaanya. Hal itu membuat Dika merasa to terganggu. Setelah meminum obat, ia pun tertidur lagi.
Orang tua Sahal menengok keadaan Dika, mereka tak menyalahkan siapa pun. Mereka ingin mengganti ongkos perawatan di rumah sakit. Namun, orang tua Dika tak mau karena merasa bersalah dengan ulah anaknya. Akhirnya mereka saling memaafkan.
Anis juga meminta maaf pernah menyalahkan Sahal waktu Dika pergi dari rumah. Ia merasa anaknya tidak pernah keluyuran, tiba-tiba pergi dengan Sahal. Orang tua Sahal pun memakluminya. Kejadian ini menjadi pengalaman berharga buat mereka.
Tidaklah mudah mendidik anak-anak yang menginjak remaja.
***
Rasa benci di hati Isna semakin menjalar, tanpa kata, tanpa kabar, Dika membohonginya lagi. Ia menggerutu sendiri.
"Menangis juga percuma, toh dia gak peduli sama tangisan gue. Pokoknya kalau dia nembak gie, gak bakal gue terima, itu janji gue. Gue benci sama kamu titik. Ngapain juga pacaran sama orang yang gak bisa di pegang omongannya. Huh, males banget sih. Akan gue kubur wajah lu," sembari menatap kaca di depannya, ia berbicara sendiri.
"Is, makan. Dari pagi sampai sore kamu nggak lapar?" tanya ibunya
"Gak, Ma. Tadi sudah makan bakso sama Mell," jawab Isna sekenanya
"Makan bakso di mana? Kok Mama gak dibeliin?" sahut Mama. "Mama lagi kepingin bakso, sana beliin!" pinta mamanya.
"Aduh, jadi panjang nih, ceritanya niat hati menolak makan, malah disuruh beli bakso." sesal Isna dalam hati.
Ia keluar dengan melipat mukanya. Dengan cepat menuju pintu keluar.
"E..e.e.eh, mau kemana kamu, Is?" tanya mamanya.
"Katanya Mama pengin bakso?" sahut Isna
"Ya, ini uangnya," Disorongkannya uang kertas lima puluh ribuan. Isna mengambil uang itu dengan cepat, sejurus kemudian ia pun berlalu.
Ayunan kakinya terasa lunglai, rasa malas memaksa ia mengayunkan kakinya dengan berat hati. Ketika langkahnya sampai di depan rumah Melly, Isna tersentak dengan suara Melly yang nyaring,
"Is!" teriak Melly
Isna hanya menoreh dan menghentikan langkahnya,
"Lu mau kemana?" tanya Melly
"Mau beli bakso" jawab Isna dengan sungkan,
"Beli bakso ... tumben, nafsu makan lu lagi naik ... Emang lu gak tahu kabar Dika sekarang?"
Mendengar nama Dika di sebut mata Isna terbelalak, jantungnya terpompa, ada rasa benci sekaligus rindu. Namun, rasa penasaran menyeruak di dadanya, kaki yang seolah terbelenggu terasa ringan untuk berlari. Isna membalikkan badannya bergegas menghampiri Melly.
"Lu ngomong apa Mel, lu tahu apa tentang Dika?" tanya Isna penasaran
"Dika k*cel*kaan," ungkap Melly
"APA !," Jantung Isna berdenyut lebih kencang,
"Kapan Mel, di mana, sekarang gimana keadaannya?"
"Kok, gue jadi panik gini, Mel," bulir-bulir air mata tiada terasa mengalir,
Melly memeluknya, "gue udah janji gak bakal menerima dia Mel. Gue takut." Hati Isna berkecamuk, perasaannya kalut.
Bersambung
Baca juga:
0 Comments: