Cerbung
Ketika Hidayah Menyapa, Part 16 (Jatuh Cinta)
Oleh: Muflihah S Leha
Butuh waktu 30 menit bagi mereka untuk pulang ke rumah dari lapangan tempat mereka nongkrong dan bertemu pujaan hati.
Sesampainya di rumah, Dika merasa gelisah,
Wajah Isna bermain-main di pelupuk matanya,
Walau hanya dari kejauhan mereka bertemu, namun bayangan Isna mulai menghantuinya.
"Kapan ya aku m*nemb*knya?" batinnya. "Ah, aku kok jadi kayak gini? Males banget!" Dika mencoba menampik perasaannya saat dia menyadari dirinya sedang jatuh cinta. Dika berusaha menghapus bayangan wajah Isna.
Isna ternyata merasakan hal yang sama. Nafsu makannya berkurang. Ia lebih memilih mengurung diri di kamar, cengar-cengir menatap wajah sendiri di depan cermin.
"Is, makan!" teriak ibunya dari balik pintu.
"Iya, Ma," jawab Isna dengan riang.
Isna keluar menuju ruang makan, "Masak apa, Ma?" tanya Isna basa-basi. Biasanya ia tak pernah bertanya. Apa pun yang ada di meja, selalu dilahapnya. Tingkahnya yang tak biasa, imembuatnya rikuh.
"Masakan kesukaanmu," jawab sang ibu yang mulai merasakan keanehan putrinya.
Isna melongok ke meja makan. Semur telur puyuh, balado terong dan sayur bening jagung yang tersaji di sana membuatnya bergegas mengambil piring. Namun, bukannya segera menyendok nasi, jarinya malah sibuk menekan-nekan ponsel.
"Sudah ..., hp-nya ditaruh dulu," pinta Ibunya. "Ambil nasi!" Isna menuruti perintah ibunya. Sambil mengambil nasi dan semur, matanya melirik ke arah ponsel. Saat ia mendaratkan sendok ke mulutnya, ponsel menyala tanpa suara. Dengan cepat Isna mengambil ponselnya. Pesan dari Dika.
"Hai, Cantik. Lagi ngapain?"
Wajah Isna tiba-tiba merona. Dengan cepat, mulutnya melahap telur-telur kecil di depannya.
Bergegas Isna masuk ke kamar. Ibunya merasa heran melihat tingkah anaknya. "Hei, habisin dulu makanannya!
"Sudah kenyang, Ma." Setelah mengunci kamar Isna menjatuhkan badannya di kasur. Segera dibalasnya pesan dari Dika.
"Aku lagi mikirin kamu," ketik Isna tapi dia segera menghapusnya.
"Belum dibaca kok sudah dihapus?"
Isna tersenyum membaca pesan Dika. Ia membalas dengan stiker. Dika pun membalas kembali dengan stiker.
"By the way kamu dah makan belum, Beb" tanya Dika di ponselnya.
Seketika jantung Isna berdegup kencang.
Kalimat itu ingin terus ia baca, hatinya berdebar-debar mendengar kata "Beb" yang melambungkan angannya.
"Aku sudah makan, Mas Dika sudah makan belum?" tanya Isna.
"Sudah, makan hati," jawab Dika.
"Lah, kok makan hati?"
"Iya, aku lagi sakit hati."
Mendengar pengakuan Dika, Isna langsung melempar ponselnya di kasur,
"Sakit hati... berarti selama ini dia punya pacar," bisiknya dalam hati,
Diserbu perasaan penasaran dan ingin tahu, Isna mencoba membalas chat Dika,
Namun rasa malas menguasai hatinya,
Namun Ia tidak bisa tenang,
"Mas Dika sakit hati sama siapa? Apa aku menyakitinya," bisiknya dalam hati,
"Ih, males banget sih. Bete, bete, bete!"
"Loh, kok diem?" ucap Dika di chatnya,
"Aku mau mengatakan sesuatu sama kamu, besok bisa ketemuan gak?" Membaca pesan Dika, jantung Isna bagaikan ditabuh genderang. Hatinya gusar menyiapkan diri agar hatinya siap menerima kenyataan.
Ia menarik nafasnya perlahan, degup jantungnya semakin teratur. Matanya membayangkan bagaimana rasanya duduk dengannya.
"Hey, chatku kok gak dibalas?" seketika Isna memencet tulisan dan membalasnya.
"Oke, besok kita ketemuan ya!"
"Oke,"
"Aku tunggu ya tapi jangan seperti kemarin, aku lama banget nungguinnya," keluh Isna
"Iya deh besok tepat, aku janji," ucap Dika meyakinkan.
"Kemarin kan aku nungguin motor buat nganterin adikku ngaji, besok pagi jam 9 aku ke sana."
"Iya, Mas Dika...,"
Lamanya menunggu pagi membuat Isna tak bisa tidur, bayangan wajah sang pangeran menari-nari di pelupuk matanya.
Setelah mandi, ia berdiri di depan cermin, anak remaja yang sedang dilanda asmara. Bolak-balik ganti baju gak ada yang cocok,
"Ah, pake baju yang mana ya?" Hingga tak terasa jarum jam menunjukan angka 9.
Ia segera keluar dengan pakaian seadanya.
Kali ini Isna sendirian, langkahnya buru-buru,
Melly jangan sampai tahu kalau Dika akan menembakku, hari ini aku harus kuat, bisiknya dalam hati,
Ayunan kakinya semakin cepat karena sudah melanggar jamnya, sesampai di lapangan, ramai anak-anak bermain, matanya menyisir seluruh pelataran. Ia mencari posisi yang pas untuk menenangkan suasana hatinya.
Ponselnya terus di tatapnya, "Mas aku sudah menunggu."
Dika tersentak dengan chat Isna sudah jam 9, Ia masih di rumah, bergegas ia keluar,
Sahal menghampiri Dika,
"Mau kemana lu, Dik," tanya Sahal.
"Cepetan, Ma...," pinta Dika gak sabar. Ibunya menyodorkan uang untuk beli bensin,. Semalam sudah izin katanya mau tukar tambah kenclung sama temannya, tidak ada pilihan untuk ibunya dari pada keluyuran naik truk, mending main kenclung di teras rumah yang penting terpantau.
Bergegas Dika pamit pada Ibunya, "Lu mau ikut Hal?" tanya Dika saat melihat Sahal berdiri di depan pintu rumahnya.
Dengan senang hati Sahal menerima tawaran Dika. Ia segera naik membonceng Dika yang sedang gugup.
"Kita mau kemana Dik," tanya Sahal
"Sudah ikut aja," sepintas jawaban Dika
"Duh gimana ini aku dah janji gak terlambat aku harus sampai ke tempat Isna dalam waktu 15 menit," Dika membatin.
Dengan rasa yang tidak karuan bercampur rasa panik, Dika menarik gasnya.
"Mudah-mudahan Isna bisa memakluminya, pasti dia akan senang aku akan m*nemb*knya," hatinya terus beradu. Antara senang, dan gelisah, semakin menarik gasnya, andrenalinnya semakin naik
"Hhuuu..., Asyiik!"
Sahal pasrah menikmatinya, matanya terpejam,
"Pegangin topiku, Hal,"
Sembari menarik gas motor, kecepatannya semakin kenceng, jalanan begitu sepi. Tiba-tiba Dika merasakan keanehan, firasat buruk akan menimpanya, otaknya sedang berpikir, seketika motornya oleng dan terj*tuh, Dika t*rp*nt*l, Sahal pun t*rjatuh, mereka ny*ngs*p di pinggir jalan. Lamat-lamat pandangannya mulai rabun, semakin remang. Dipegangnya kepala yang terasa sakit. Diangkatnya tangan yang basah berwarna merah, d*r*h bercucuran, mulutnya tak kuasa mengucapkan pertolongan. Tampak orang-orang mendekat namun mata Dika tak bisa dibuka, pandangannya semakin buram, tiba-tiba ia tak sadarkan diri.
Bersambung
Baca juga:
0 Comments: