Oleh. Choirin Fitri
"Elo hamil?"
Tasya memandangi Mita. Dari ujung kepala sampai kaki semuanya berubah. Hanya nampak muka dan telapak tangan yang tak tertutupi.
Mita tersenyum manis seperti biasanya. Ia menggeleng.
"Lalu, kenapa lo sekarang pakai pakaian kayak ibu hamil gitu?" Tasya memegangi ujung pakaian longgar yang melingkar di bagian perut sahabatnya.
"Ini bukan pakaian emak-emak bunting aja, Say. Gue pakai ini karena gue muslimah. Seperti inilah pakaian muslimah sebenarnya." Mita mencoel dua pipi sahabatnya yang tampak menggemaskan seperti bakpao.
Tasya mengibaskan tangan sahabatnya. "Iiih, apaan sih! Kebiasaan deh, lo selalu nyubit pipi gue. Sakit tahu," ucapnya sambil memonyongkan bibirnya.
"Iya-iya, maafin gue, ya, pipi Tasya!" Mita terkekeh.
"Udah enggak usah ngebahas ni pipi. Sekarang lo kudu cerita. Gimana bisa lo berubah dalam waktu sebulan kita enggak ketemu karena liburan semester?" Tasya menarik Mita ke tempat duduk panjang yang ada di taman.
Mita mengeluarkan sekotak donat kentang. Saat dibuka mata sahabatnya langsung berbinar. Warna-warni toping yang menghiasi ke donat membuatnya sontak terasa lapar kembali. Padahal, baru satu jam yang lalu ia melahap habis sepiring nasi goreng plus 2 butir telur ceplok buatan bundanya.
"Wah, enak tuh. Buat gue, kan?" Air liur Tasya sudah siap meluncur saking tidak tahannya untuk melahap donat-donat yang mengundang selera.
"Iya, dong. Buat sahabatku yang ngegemesin." Mita kembali mencubit pipi chubby milik Tasya. Yang dicubit hanya manyun sekejap dan buru-buru mengambil donat bertoping coklat keju.
Mulutnya masih penuh dengan donat, Tasya menagih cerita Mita. "Ayo, meski lo udah nyogok gue pakai donat, lo tetep kudu cerita."
Mita memperbaiki letak kerudung warna navy yang membingkai wajah cantiknya. Ada satu helai rambut yang tiba-tiba keluar tanpa diminta. "Ih, rambut murtad."
"Apa?"
"Ini nih, rambut gue keluar dari kerudung. Kata Kak Nabila rambutnya murtad. Hehehe ..."
Tasya menggaruk rambutnya yang tak gatal. Geleng-geleng kepala sekejap. Lalu, kembali melahap bulatan donat kedua. Bertopping strawberry.
"Oooh, jadi ini gegera pengaruh Kak Nabila. Mahasiswa baru itu? Jangan-jangan lo ikutan jadi radikal macam yang dibilang teman-teman itu, ya!"
Mita terbahak melihat wajah sahabatnya yang tampak lucu saat mendekatkan wajahnya. Namun, buru-buru ia menutup mulutnya. Malu dong dengan pakaian hijrah, kalau tertawa masih nyablak.
"Halah! Jangan percaya tuduhan itu. Gue udah ngebuktiin sendiri Kak Nabila bukan radikal seperti yang dituduhkan. Ia baik banget."
"Kok bisa?" Donat ketiga dicomot secepat kilat oleh Tasya.
"Gini ceritanya, Say!"
Mita memperbaiki gamis yang melingkar di tubuhnya. Ia duduk lebih santai sambil menatap bunga-bunga tabebuya yang menguning indah.
"Sebulan yang lalu nyokap bokap ngajak gue umroh. Awalnya ogah. Bokap ngerayu tingkat parah sampai memberi iming-iming akan dibelikan motor baru jika gue mau."
"Terus, Lo mau?"
Mita mengangguk. "Gue mau. Karena emang kasian juga udah dapat tiga tiket, harusnya satu untuk nenek, eh ternyata sakit. Karena sayang, jadinya nyokap minta gue untuk gantikan posisi nenek."
"Dasar gue doyan traveling. Susah banget nolak rezeki jalan-jalan. Jadinya daripada gabut di rumah sendiri, gue pun ikut mereka berdua."
"Lo tahu enggak apa yang terjadi saat gue di Makkah?"
"Mana gue tahu. Lo belum cerita kali, Bestie!" Tasya mengambil sekotak donat yang tinggal 5 biji dari pangkuan Mita.
"Saat gue berada tepat di depan kakbah, dada gue berdesir hebat. Air mata sontak turun tanpa diminta. Gue merasa disapa Rabb yang selama ini nyiptain gue dan gue tinggalin. Hanya gue sapa saat gue mau salat. Itu pun sering karena terpaksa."
"Beneran gue waktu itu serasa berada di padang tandus yang gersang lalu menemukan oasa. Sejuk, segar, dan asli nikmat. Sampai gue bener-bener speechless. Gue hanya bisa mengagungkan nama-Nya dengan takbir dan banyak beristighfar. Gue ngerasa penuh dosa."
"Bisa segitunya, ya? Terus, apa hubungannya dengan baju lo yang sekarang?"
"Sabar dong! Katanya tadi minta diceritain," ujar Mita sembari mengeluarkan dua botol teh dingin.
"Heeemmm, gitu dong dari tadi. Gue hampir aja tersedak nih." Tasya mengambil sebotol dan meneguknya sepertiga botol.
"Beberapa hari di Makkah gue banyak merenung. Banyak melihat orang-orang yang menutup aurat setiap waktu. Paling hanya saat di kamar hotel, kita bisa membuka pakaian dan berganti pakaian biasa. Dari situ gue mulai berpikir. Apa kayak gini, ya, sebenarnya kehidupan itu?"
"Sayangnya pertanyaan itu mental saat gue nanya ke nyokap maupun bokap. Mereka hanya sibuk dengan ibadah. Katanya sayang kalau di sana dilewatkan dengan ngobrol yang enggak ada manfaatnya."
"Lalu?" Donat ketujuh sudah sampai bibir Tasya.
Mita geleng-geleng kepala menyaksikan aksi makan sahabatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya.
"Gue temukan jawabannya saat ada di Madinah. Waktu itu gue berada dekat dengan makam Rasulullah. Gue terguncang lebih hebat. Seakan-akan beliau bicara pada gue. Beliau mau gue jadi lebih baik."
"Singkat cerita, saat gue pulang dari umrah gue enggak mau duduk manis di rumah. Gue tiba-tiba ingat Kak Nabila. Baju yang dikenakannya sama persis dengan baju-baju yang dikenakan oleh para muslimah dari berbagai penjuru dunia sewaktu gue umrah. Anehnya, Kak Nabila juga memakainya sehari-hari. Gue izin pada nyokap bokap untuk keluar."
"Terus, lo ketemuan dengan Kak Nabila?"
"Ya. Waktu itu pas ada bedah buku judulnya 'Yuk Berhijab!' karya Felix Y. Siaw. Gue nimbrung aja. Barangkali pertanyaan gue terjawab. Asli beneran gue sampai terharu. Semua tanda tanya gue tentang aurat wanita yang gue kira hanya ditutup saat salat aja ternyata salah besar. Big wrong."
"Heeeemmm, kok bisa?" Tanya Tasya sembari mengambil donat kedelapan.
"Dalam bedah buku itu gue disadarin aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Wajib ditutup saat telah baligh. Cara nutupnya pun udah ada tutorialnya di Al-Qur'an. Tepatnya di surah An-Nur ayat 31 untuk bagian kepala alias kerudung. Di surah Al-Ahzab ayat 59 untuk bagian bawah alias jilbab."
"Jilbab kok bagian bawah? Bukannya ini ya?" Tasya menjinjing ujung kerudung lawan bicaranya.
"Dulu gue juga nganggap ini jilbab. Ternyata salah. Ini kerudung alias khimar," ucap Mita, "Dan ini jilbab alias gamis."
"Oooo," ucap Tasya sembari mengambil donat kesembilan.
"Entar deh kita mengkajinya bareng Kak Nabila ya? Gue belum pandai ngejelasinnya." Mita mengambil donat terakhir. Disambut tatapan mata melotot dari sahabatnya.
"Iya-iya, gue kembaliin. Udah habis sembilan biji juga. Gue ambil satu aja kok enggak boleh."
"No, no, no. Ngasih itu harus ikhlas, Bestie! Jangan perhitungan sama sahabat sendiri!"
"Oke-oke, tapi lo mau kan mengkaji Islam bareng gue?"
"Entar gue pikirin, eh nunggu hidayah kali ya?"
Keduanya terkekeh.
Batu, 26 Oktober 2022
Baca juga:
0 Comments: