Headlines
Loading...

Oleh: Muflihah S Leha

"Huh, apes lagi. Kenapa sih, gue selalu sial?  Kenapa mesti gue?" Dika menggerutu. Kali ini ia tak bersama Rama, hatinya masih sakit. Ia bergegas keluar dari dapurnya mbok Hadiyah. 

Ayunan kakinya begitu cepat, melihat keadaan Dika, Aldan merasa iba dan segera mengikutinya dari belakang. 

Dengan cepat Aldan menarik tangan Dika, seketika Dika t*rp*nt*l ke benteng pinggir jalan, diiringi suara klakson motor dari belakang. Dika tersentak sembari mengelus-elus dadanya.

"Woi! lihat-lihat dong jalannya!" Nyaring suara  si pengemudi motor, berlalu.

"Elu tuh yang naik motornya kenceng-kenceng, lagian matamu gak liat banget sih! Ini kan tempat penyeberangan," balas Dika berteriak sementara si pengemudi  sudah menghilang.

"Lu mau b*n*h diri apa! Lu kenapa sih, tadi sudah mecahin termosnya Mbok Hadiyah, sekarang marah-marah!" cetus Aldan kesal.

"Lagian orang banyak, senggol-senggolan aku yang kena," Dika menggerutu.

"Memangnya harga termos berapaan sih," tanya Dika. 

"Paling lima puluhan," jawab Aldan sekenanya

"Nyari uang di mana ya, buat gantiin,"
keluh Dika sembari berjalan, mungkin dapat ide.

Ayunan kakinya terhenti ketika memasuki gang yang biasa dilewatinya. Langkahnya terhalang sebuah mobil bak terbuka yang sedang menurunkan batu-batu pesanan.

"Boleh ikut nurunin, Pak?" tanya Dika bercanda

"Kamu mau bantuin, boleh banget," jawab Pak supir.

Dengan cepat Dika naik ke atas mobil dan menurunkan batu-batu. Melihat Dika begitu semangat, Aldan pun mengikutinya. "Aku ikutlah," ucap Aldan.

Ia segera naik ke mobil. Mengangkat batu satu per satu. Setelah selesai, mereka  melompat turun.

"Capek juga, ya."  Dika menepuk-nepuk bajunya.
"Iya, cari uang ternyata susah," jawab Aldan.

Karena sang Sopir merasa senang mereka telah membantunya, Pak Supir memberikan r*kok.

"Nih," satu bungkus rokok disodorkan oleh Pak Supir.
Aldan menerimanya dengan senyum mengembang. Mereka saling bertatapan dan melempar senyuman.

"Hehe ... dapat udud, Dik," cetus Aldan

Terdengar suara memanggil dari kejauhan, "Sini ngopi. Nih, sudah dibikinin" pinta pemilik rumah yang memesan batu. Aldan dan Dika pun  menghampirinya. Langsung mengambil tempat duduk. Wajah mereka terlihat semringah. Sebatang rokok pemberian menambah kenikmatan yang mereka rasakan.

"Kamu bisa bantui bawakan batu-batu itu ke belakang sana?" tanya pak Bur, sembari menunjukan ke arah belakang rumah,

"Iya, bisa," jawab mereka dengan senang hati.

"Sekalian bawain tanah-tanahnya ya, nanti aku beri uang jajan."

Mereka mengangguk-angguk senang.

"Yuk, Dik. Lanjut," ajak Aldan

"Ayuk," sahut Dika 

"Kalau kalian capek ya istirahat dulu, habisin dulu kopinya," pinta pak Bur.

"Iya, nanti saja lanjut minumnya" jawab Dika sembari mengangkat batu yang beratnya sekitar 10kg itu.

Meski ngos-ngosan, Aldan dan Dika merasakan semangat yang luar biasa.

Usai membawa batu-batu itu, mereka melanjutkan memindahkan tanah yang mau dibuat pondasi. Rasa bahagia membuat  mereka tertawa sambil berlarian. Namun tiba-tiba, langit berubah menjadi hitam. Angin kencang membelai dedaunan, suara petir terdengar dari kejauhan.

"Dik, mau hujan."

"Gak papa lah hujan-hujanan."

Hanya dalam hitungan menit hujan turun dengan lebatnya. Aldan asyik berlarian, Dika malah terjatuh saat membawa tanah yang berat. Karena licin, Aldan pun terjatuh. 
Keduanya tertawa terbahak-bahak mentertawakan satu sama lain.

Aldan mengambil daun pisang, mereka buat selarakan dan tarik-tarikan secara bergantian 
Ketika Aldan naik di atas daun, dengan cepat Dika menarik daun itu, Aldan tertawa terbahak sembari berteriak, "Dik... Jangan kenceng-kenceng woi, stop.... Stop. Jangan kenceng-kencen!" Dika malah semakin mengencangkan tarikannya.

Setelah lima putaran, giliran Dika yang duduk di atas daun pisang, Aldan yang menariknya.
Niat hati ingin membalas dengan tarikan yang lebih menakutkan, ternyata Aldan kesulitan.

"Kok kamu berat sih?" keluh Aldan.

Dika cengengesan, "Ayo ..., tarik yang kenceng," pinta Dika

"Kenceng gimana badan lu tuh dikecilin dulu!"  Aldan ngos-ngosan

"Hey, sini dah sore. Makan dulu!" teriak pak Burhan

"Yuk, Dik," ajak Aldan. 

"Ntar, satu kali putaran lagi."

"Laper, lho."

"Lah, kan cuma kurang satu putaran," pinta Dika

Aldan mengalah. Ia menarik Dika dengan kencang. Dika tertawa kegirangan. Akhirnya mereka berhenti karena perut yang mulai keroncongan. Aldan segera membilas baju di bawah talang agar tidak terlalu banyak tanah yang menempel di bajunya.
Dika membuntuti dari belakang.

Dengan baju yang basah kuyup mereka menyantap makanan dengan lahap.

"Terima kasih ya, sudah membantuku," ucap pak Bur sembari menyodorkan uang kertas masing-masing 10 ribu rupiah. Senyum Aldan mengembang, ia berucap pada Dika, "Asyik, ya, Dik. Dapat rokok, makan, dikasih uang pula."

"Iya, mau kukumpulin buat beli termos,"
 
"Besok, kita nyari kerjaan lagi, yuk?" ajak Dika

"Ya, ayuk," jawab Aldan

Setelah kenyang, mereka pun pamit pulang.  Bergegas mereka melangkah dengan badan menggigil. Rasa dingin mulai dirasakan.
Usai membersihkan badan Dika masih memikirkan kekurangan uang. Semoga aku bisa mengumpulkan uang, batinnya.

***
Tampak Aldan bergegas mengikuti ayahnya.  Melihat Aldan, Dika segera beranjak dari tempat duduknya,

"Mau kemana, Mas Aldan?" tanya Dika.

"Mau ikut kerja," jawab Aldan.

"Heh, serius mau kerja? Kemana? Aku ikut," pinta Dika

"Ya, ayuk"

"Yang bener, aku serius ini." Tanpa pikir lagi Dika langsung berlari membuntuti Aldan.

"Mau kerja apaan?" tanya Dika

"Bongkar tratag," jawab Aldan

"Di mana?"

"Ngikut aja, aku juga ngikut orang,"

Senuah mobil bak kosong berhenti di depan mereka,. "Yuk, naik," pinta Ayahnya Aldan. Sent Dika mengembang.

"Hehe, aku akan dapat uang lagi," pikirnya. 

**

"Dik ..." Terdengar suara Epan di depan pintu, Anis bergegas membukakan pintu

"Dika gak ada eh," kata Anis.

"Kemana," tanya Epan

"Ikut Aldan,"

"Oh, ya sudah." Epan hendak membalikkan badannya namun urung, "Apa Dika sedang membeli termos?" tanya Epan.

"HAH. Termos? Untuk apa?" tanya Anis penasaran.

"Kemarin lusa, Dika memecahkan termosnya mbok Hadiyah," ungkap Epan. Anis tersentak.

"Dika memecahkan termos, gimana ceritanya?" tanya Anis makin penasaran.

"Gak tahu, coba tanya aja sama mbok Hadiyah," 

Bergegas, Anis pergi ke rumah mbok Hadiyah.

"Saya ke sini mau tanya, dan meminta maaf, katanya Dika memecahkan termos, ya, Mbok?" tanya Anis. Mbok Hadiyah mengiyakan dan menunjukkan pecahan termos itu.

"Maafkan kelakuan anakku, ya ...," pinta Anis.

Pulang dari Mbok Hadiyah, Anis membelikan termos baru untuk mengganti termos mbok Had.

** 
Dika pulang dengan wajah berseri. Nampaknya, dia mendapat uang lagi.

"Akhirnya, aku bisa beli termos nih," katanya sambil menggabungkan uang 35 ribu dengan uang hasil kemarin. Sesampainya di rumah, ibunya telah menunggunya. "Kamu dari mana saja?" tanya Anis.

"Kerja."

"Halah, kerja apaan!"

"Apa saja yang penting bisa mendapatkan uang," cetus Dika.

"Kamu mecahin termosnya mbok Had," selidik ibunya

"Iya, tapi sebenarnya ya aku juga kena senggol. Karena tempatnya sempit, aku yang di pinggir, aku yang kena deh," ungkap Dika.

"Berapaan sih, harga termos?"

"Sudah aku ganti."

"Hah? Iya?"

"Ya sudah, uangku buat jajan aja," sahut Dika sembari bergegas ke rumah Aldan.

Sesampainya di rumah Aldan,.

"Dan, lu udah jadian belum sama Melly? atau buat gue aja?" tanya Dika.

"Apaan sih, belumlah..., Tapi awas kalau lu dekatin," ancam Aldan.

Dika gak berani meledek Melly karena sudah diancam Aldan.

"Ah, tanya Melly aja siapa nama teman yang selalu bareng,"

Dika mengirimkan pesan ke Melly, Melly menyambutnya dan memberikan nomor WA-nya Isna. Dika berkirim pesan ke Isna, Karena mereka selalu bersama, Melly pun bisa membaca pesannya. Dika menjadi dekat dengan Isna,

Isna menyambut dengan senang, setiap pesan yabg datang dari Dika. Ia langsung membalasnya, karena merasa sudah tertarik duluan, sejujurnya Isna selama ini menunggu. Namun sebagai perempuan, dia merasa gengsi jika mengatakan rasa suka lebih dahulu. (Bersambung)

Baca juga:

0 Comments: