Oleh: Rahmayana
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com— Kata guru dalam bahasa Indonesia merujuk pada seseorang yang mengajar, mendidik, dan membimbing orang lain dalam proses belajar. Sebutan ini biasanya digunakan untuk pengajar di sekolah, tetapi maknanya juga dapat meluas hingga mencakup sosok yang membimbing seseorang dalam menjalani kehidupan dan menuntut ilmu.
Di antara sekian banyak guru yang hadir dalam perjalanan hidupku, ada satu sosok yang tak tergantikan, yaitu guruku yang pertama, paling dekat, dan paling berjasa. Dialah bapakku, yang biasa kami panggil Ebak. Ia bukan hanya seorang ayah yang memenuhi kebutuhan hidupku, tetapi juga pendidik sejati yang mengenalkanku pada nilai-nilai Islam sejak kecil.
Dari tangannya, aku belajar mengeja huruf demi huruf Al-Qur'an. Dari lisannya, aku memahami arti kebaikan. Dari teladannya, aku mengerti bagaimana menjalani hidup dengan penuh pengorbanan dan keikhlasan.
Sejak aku belum memahami dunia, Bapak sudah lebih dahulu mengenalkanku kepada Tuhan. Ia membisikkan kalimat-kalimat tauhid di telingaku, mengajarkan doa-doa sehari-hari, dan membangunkanku untuk salat Subuh dengan penuh kesabaran.
Dalam ingatanku, ia tidak pernah sekadar memaksakan kehendak, tetapi selalu berusaha mengajak. Walaupun terkadang menggunakan nada suara yang agak tinggi, Bapak membuat aku dan saudara-saudaraku sedikit segan dengan pola didikannya yang terasa seperti didikan kolonial. Namun, seiring bertambahnya usia, aku menyadari bahwa setiap ajaran yang beliau berikan memiliki makna mendalam.
Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana Bapak mengajariku mengenal huruf demi huruf hijaiah. Di ruang tamu yang sederhana, dengan penerangan yang terkadang kurang terang, ia duduk di antara kami, anak-anaknya, dan sesekali bersama para santri lainnya. Tangannya menunjuk setiap huruf hijaiah, membimbing kami melafalkannya satu per satu. Ketika aku salah, ia membimbingku mengulanginya dengan sabar.
Baginya, proses belajar adalah perjalanan panjang yang harus dilalui dengan ketekunan dan kasih sayang, meskipun saat kecil aku terkadang salah memahami caranya mendidik. Ketegasan beliau dalam mengajar membuat kami, anak-anaknya, serta para murid dan santrinya segan kepadanya.
Bapak selalu mengatakan bahwa ilmu agama adalah fondasi kehidupan. Tanpa ilmu agama, seseorang akan mudah kehilangan arah. Ia tidak hanya mengajariku cara beribadah, tetapi juga menjelaskan mengapa kita harus beribadah. Ia menerangkan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa. Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan kesabaran. Sedekah pun bukan sekadar memberi, melainkan wujud rasa syukur.
Dari Bapak, aku juga belajar tentang akhlak. Ia tidak banyak berbicara tentang teori, tetapi lebih sering menunjukkan nilai-nilai kebaikan melalui perbuatannya. Ia jujur dalam bekerja, rendah hati dalam bergaul, dan selalu menghormati orang lain. Ia mengajariku bahwa menjadi seorang muslim bukan hanya tentang ibadah yang terlihat, tetapi juga tentang sikap terhadap sesama manusia. Tak heran jika ia menjadi panutan di masyarakat.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah saat Bapak berkisah tentang para nabi dan orang-orang terdahulu. Di antara kisah yang sering kudengar adalah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang menunjukkan ketaatan serta keikhlasan luar biasa dalam menjalankan perintah Allah Swt. untuk melaksanakan kurban.
Kisah tersebut membuatku mulai memahami bahwa kurban bukan sekadar ritual, melainkan simbol pengorbanan dan kecintaan kepada Allah Swt. Karena itu, setiap kali Iduladha tiba, Bapak sering mengajakku menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban sebagai pembelajaran nyata.
Bapak mengajariku bahwa dalam hidup, selalu ada hal-hal yang kita cintai. Namun, sebagai seorang muslim, kita harus siap melepaskan sesuatu demi kebaikan yang lebih besar. Itulah salah satu makna pengorbanan. Ia juga menekankan bahwa kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang mengendalikan ego, menyingkirkan kesombongan, dan membersihkan diri dari sifat-sifat buruk.
Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh dewasa dan mulai memahami makna dari setiap ajaran Bapak. Aku menyadari bahwa semua yang dilakukannya bukanlah hal yang mudah. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi tetap meluangkan waktu untuk mendidik kami. Ia lelah, tetapi tidak pernah mengeluh. Ia sibuk, tetapi tidak pernah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pendidik bagi anak-anaknya.
Kini, ketika telah dewasa, aku mulai memandang semua itu dari sudut pandang yang berbeda. Aku memahami bahwa pengorbanan Bapak jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan. Ia telah mengorbankan banyak hal demi masa depanku, mulai dari waktu dan tenaga hingga mungkin impian-impian pribadinya.
Dalam momen Iduladha yang penuh makna ini, aku ingin mempersembahkan kurban untuk Bapak. Bukan karena ia mengharapkannya, melainkan karena aku ingin mengungkapkan rasa terima kasih atas semua yang telah diberikannya. Kurban ini menjadi simbol cinta dan penghormatan, sebuah wujud kecil dari rasa syukur yang tak terhingga.
Aku tahu bahwa apa yang kulakukan tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan Bapak. Namun, aku berharap melalui kurban ini, aku dapat meneladani nilai-nilai yang telah diajarkannya, yaitu keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian terhadap sesama. Aku ingin menjadikan momen ini sebagai pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang memberi.
Lebih dari itu, kurban ini juga menjadi bagian dari doa yang kupanjatkan untuk Bapak. Ini adalah Iduladha pertamaku tanpa beliau. Biasanya, setiap Iduladha, Bapak selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk berkurban.
Aku berharap segala kebaikan yang telah dilakukannya dibalas Allah Swt. dengan pahala yang berlipat ganda dan menjadi amal jariah bagi Bapak dan Ibu, yang telah lebih dahulu menghadap Allah Swt. Semoga keduanya ditempatkan bersama orang-orang saleh. Amin.
Aku juga berdoa agar dapat terus menjadi anak yang membanggakan dan tidak melupakan ajaran-ajaran yang telah ditanamkan Bapak sejak kecil.
Bapak adalah guru paling berharga dalam hidupku. Ia mengajariku tentang iman ketika aku belum memahami arti keyakinan. Ia mengajariku tentang kesabaran ketika aku belum mengerti makna ujian. Ia juga mengajariku tentang kehidupan ketika aku masih belajar melangkah.
Kurban ini adalah persembahan kecil untuk guru besar dalam hidupku. Sebuah ungkapan cinta yang mungkin sederhana, tetapi sarat makna. Aku ingin mengatakan bahwa dalam setiap doa yang kupanjatkan, selalu ada nama Bapak. Dalam setiap langkah yang kuambil, selalu ada ajaran Bapak yang menuntunku.
Aku berharap suatu hari nanti dapat menjadi seperti Bapak, seorang ayah yang tidak hanya membesarkan anak-anaknya, tetapi juga mendidik mereka dengan penuh cinta dan keikhlasan. Aku ingin meneruskan apa yang telah beliau mulai, menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi berikutnya sebagaimana Bapak telah menanamkannya dalam diriku.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa guru sejati bukan hanya mereka yang mengajar di ruang kelas, melainkan juga mereka yang membimbing kita sepanjang hayat. Bagiku, Bapak adalah guru terbaik yang pernah kumiliki.
Semoga Allah Swt. menerima kurban ini dan menjadikannya sebagai amal yang membawa keberkahan. Semoga cinta serta pengorbanan yang telah Bapak berikan menjadi jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga kelak kami dapat kembali berkumpul di surga-Nya.
Untuk Bapakku, guruku, terima kasih atas segalanya.
[Ni/EKD]
Baca juga:
0 Comments: