Headlines
Loading...
Pelukan yang Menguatkanku Kembali kepada Allah

Pelukan yang Menguatkanku Kembali kepada Allah

Oleh: Rosna Fiqliyah
(Kontributor SSCQMedia.com)

SSCQMedia.com — "Tak semua jasa bisa dibalas dengan harta. Tak semua kebaikan mampu kita hitung dengan angka. Ada sosok yang diam-diam mendoakan, sabar dalam membimbing, dan tak lelah mengarahkan."

Ustazahku, engkau bukan hanya seseorang yang mengenalkanku pada Islam. Engkau adalah guru sekaligus sahabat yang mengajarkanku tentang kehidupan, tentang kebaikan di dunia maupun di akhirat. Engkau hadir bukan hanya saat aku membutuhkan jawaban, tetapi juga saat aku hanya butuh didengarkan. Engkau selalu ada, setia mendengar setiap keluh kesahku, kapan pun dan di mana pun, tanpa menghakimi dan tanpa lelah.

Bersamamu, aku bukan hanya belajar, tetapi juga berubah. Engkau menjadi saksi setiap perubahan dalam hidupku. Dari diriku yang dahulu penuh keraguan hingga perlahan belajar memahami arah hidup. Dari diriku yang sering jatuh hingga mulai belajar bangkit.

Perubahan itu tidak terjadi dalam satu malam. Ada hari-hari ketika aku kembali ragu dan terjatuh pada kebiasaan lama. Namun, setiap kali itu terjadi, aku teringat nasihatmu. Perlahan, aku belajar memperbaiki diri. Aku mulai lebih menjaga hubunganku dengan Allah, memperbaiki sikap, dan belajar menerima setiap ujian dengan hati yang lebih lapang.

Dari situlah aku mulai menyadari bahwa engkau bukan sekadar mengajar, melainkan membimbing dengan hati. Meski engkau tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi, pengalaman hidupmu adalah madrasah terbaik. Dari setiap cerita dan nasihatmu, aku belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan dalam menjalani ujian.

Hingga suatu hari, aku benar-benar berada di titik terendah dalam hidupku. Aku merasa kehilangan arah. Semua terasa berat, seolah-olah hidup berjalan tanpa tujuan. Untuk pertama kalinya, aku tidak hanya merasa lelah, tetapi juga ingin menyerah.

Saat itu, aku benar-benar merasa tidak punya tempat untuk kembali. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiranku. Mengapa semuanya terasa begitu berat? Mengapa aku seperti kehilangan pegangan? Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, semakin jauh dan semakin rapuh.

Dengan hati yang sesak, aku datang kepadamu. Aku bercerita dengan air mata yang tak bisa kutahan. Aku takut, aku lelah, dan aku merasa tidak mampu.

Engkau tidak banyak bicara. Engkau hanya menggenggam tanganku dan memelukku erat, seolah-olah berkata bahwa aku tidak sendirian. Lalu, engkau berbisik pelan,

"Memohon ampunlah hanya kepada Allah. Maafkanlah, dan mintalah maaf kepada pasanganmu. Mintalah cinta kepada Sang Pemberi Cinta."

Kalimat itu sederhana, tetapi menghantam hatiku. Bukan karena panjangnya, melainkan karena tepat menyentuh luka yang selama ini kusimpan. Di tengah rapuhnya diriku, engkau tidak menyuruhku menjadi kuat seketika. Engkau hanya memintaku untuk tidak menyerah.

Saat itu, aku menangis. Bukan karena lemah, melainkan karena akhirnya aku merasa memiliki tempat untuk kembali.

Dari sanalah aku mulai bangkit. Perlahan, tertatih, tetapi pasti. Sejak saat itu, aku belajar melangkah tanpa tergesa-gesa. Aku tidak lagi menuntut diriku untuk menjadi sempurna, tetapi mulai berani memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Perlahan, aku menata ulang hubunganku dengan Allah, memperbaiki hubungan dengan orang-orang di sekitarku, dan belajar memaafkan, termasuk memaafkan diriku sendiri.

Ustazahku, jika kurban adalah tentang memberikan yang terbaik dengan penuh keikhlasan, engkau telah lebih dahulu melakukannya. Engkau mengorbankan waktu, tenaga, dan perhatian untuk membimbingku, bahkan ketika aku sendiri belum mampu menghargai diriku. Engkau tetap sabar, tetap hadir, tanpa pernah menuntut balasan.

Hari ini, melalui tulisan ini, aku ingin mengungkapkan rasa syukur dan cintaku atas semua yang telah engkau berikan. Tulisan ini tentu tidak mampu membalas jasamu. Namun, inilah cara sederhana yang bisa kulakukan untuk menghargai setiap waktu, perhatian, dan doa yang engkau curahkan tanpa henti. Aku menyadari bahwa mungkin aku belum mampu membalas semua kebaikan itu.

Namun, aku percaya bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal kebaikan hamba-Nya. Semoga setiap ilmu yang engkau ajarkan, setiap langkah yang engkau tempuh untuk membimbingku, dan setiap doa yang engkau panjatkan menjadi pahala yang terus mengalir.

Semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan balasan terbaik dan menjadikan setiap pengorbananmu sebagai jalan kebaikan yang tak pernah terputus hingga akhirat. Aamiin.

[Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: