Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." (TQS. Al-Baqarah: 268)
Sering kali manusia takut miskin ketika bersedekah. Bisikan setan membuat mereka menjadi kikir karena khawatir hartanya berkurang. Padahal, Allah telah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada orang-orang yang taat. Bahkan, harta yang diinfakkan di jalan Allah akan mendatangkan pahala berlipat ganda.
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." (TQS. Al-Baqarah: 261)
Masih ragukah kita terhadap janji Allah dalam ayat-ayat di atas? Sebutir benih dapat menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji yang siap ditumbuhkan kembali.
Namun, ternyata masih ada orang yang takut bersedekah dan berinfak. Hatinya terasa berat, bahkan tangannya seolah gemetar ketika hendak berkurban di jalan Allah Taala. Meski demikian, penulis menyaksikan sendiri keberanian itu dalam sosok Bunda Lilik Yani. Beliau adalah orang yang berani berkurban, berinfak, dan bersedekah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Setiap tahun, beliau menabung untuk berkurban bagi dua orang, yaitu satu kurban untuk keluarga sendiri dan satu lagi sebagai hadiah bagi pemenang challenge kurban di komunitas Sahabat Surga Cinta Qur'an (SSCQ). Masyaallah, mulia sekali hati beliau. Begitu kuat pula semangat beliau untuk berbagi dengan orang lain melalui ibadah kurban.
Barangkali, sebagian dari kita merasa cukup dengan berkurban satu ekor kambing atau domba setiap tahunnya. Meskipun demikian, ada pula keluarga yang berkurban satu hewan untuk setiap anggota keluarganya. Bunda Lilik Yani termasuk sosok yang tidak membatasi diri hanya pada satu hewan kurban. Selama empat tahun terakhir, beliau selalu berbagi hewan kurban dengan anggota komunitas ODOJ Plus-Plus SSCQ.
Tahun ini merupakan tahun kelima. Selain hadiah utama berupa uang senilai harga hewan kurban, beliau juga menyediakan hadiah bagi pemenang kedua, ketiga, serta juara harapan satu, dua, dan tiga. Masyaallah, begitu dermawan beliau dalam bersedekah. Dalam hati, penulis bertanya, bisakah diri ini meneladani beliau?
Terkadang, terbersit pembelaan diri, "Ah, beliau kan perempuan yang bekerja dan memiliki tabungan sendiri. Kalau menggunakan uang sendiri, seseorang memang lebih leluasa mengelolanya. Dalam agama pun, seorang istri diperbolehkan bersedekah dari hartanya sendiri dengan ketentuan yang berlaku."
Namun, untuk menghindari perselisihan pendapat, tentu saja penulis meyakini bahwa beliau telah membicarakan hal tersebut dengan Pakde, sang suami, yang selalu mendukung kiprah beliau di komunitas SSCQ yang penuh keberkahan ini.
Penulis yakin bahwa komunitas ini membawa keberkahan. Jika tidak, bagaimana mungkin komunitas ini dapat bertahan hingga challenge ke-59, sementara program berbagi hewan kurban telah memasuki tahun kelima? Bagaimana mungkin pula penulis betah selama 53 bulan menjadi bagian dari komunitas ini jika tidak merasakan kebermanfaatan dan keberkahannya?
Bunda Lilik Yani adalah sosok guru yang Allah hadirkan dalam kehidupan penulis sekitar tahun 2021. Saat itu, komunitas sedang menjalankan Challenge ODOJ Plus-Plus yang keenam. Beliau mengajak penulis melalui kolom komentar di akun Facebook pribadi penulis untuk bergabung dengan ODOJ Plus-Plus SSCQ yang beliau bina.
Alhamdulillah, penulis bergabung dalam challenge keenam, tetapi saat itu hanya menjadi pengamat. Penulis mengamati dan menikmati semangat teman-teman dalam mengikuti challenge dari grup teras. Di grup teras ini, anggota belum memiliki komitmen khusus. Target membaca Al-Qur'an masih disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, dengan target minimal seperempat juz.
Pada challenge keenam, ketujuh, dan kedelapan, penulis masih berada di kelas teras. Baru pada challenge kesembilan, penulis memberanikan diri naik ke kelas A dengan target membaca setengah juz sehari. Perjalanan itu berlanjut hingga challenge kesepuluh, kesebelas, dan kedua belas.
Ketika memasuki challenge ketiga belas pada bulan Ramadan, Bunda menantang seluruh anggota SSCQ untuk berkomitmen membaca satu juz Al-Qur'an setiap hari. Beliau mengingatkan bahwa orang-orang di luar komunitas pun berani memasang target satu hari satu juz. Karena itu, anggota SSCQ seharusnya juga berani berkomitmen dengan target yang sama.
Alhamdulillah, sejak mengikuti challenge dengan target satu juz sehari, penulis telah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 43 kali. Pencapaian ini terhitung sejak challenge ketiga belas pada Ramadan 1443 Hijriah hingga challenge ke-59 pada bulan Zulkaidah ini. Semoga pahala jariah terus mengalir kepada Bunda Lilik dan juga penulis yang telah mengajak teman-teman bergabung dalam komunitas ini.
Alhamdulillah, sudah banyak hadiah yang penulis terima dari Bunda Lilik, mulai dari Al-Qur'an, buku, voucer pulsa, berbagai barang, dan lain-lain. Namun, hadiah berupa hewan kurban belum pernah penulis dapatkan, meskipun sudah empat kali mengikuti program ini dan sekarang kembali mengikutinya untuk kelima kalinya.
Selama lima tahun, penulis selalu ikut meramaikan lomba menulis antologi bertema kurban ini. Dua buku telah dicetak, yaitu antologi kurban tahun pertama dan tahun kedua. Bahkan, pada tahun kedua, buku antologi yang diterbitkan terdiri atas dua jilid karena banyaknya kontributor yang ikut menulis.
Saat ini, penulis sedang menantikan peluncuran buku antologi ketiga dan keempat yang bertema "Hadiah Kurban untuk Emak" dan "Hadiah Kurban untuk Bapak". Semoga kedua buku tersebut segera terbit dan dapat dinikmati para pembaca.
Untuk kelima kalinya, program challenge menulis tentang berbagi hewan kurban untuk guru kembali diselenggarakan. Awalnya, penulis bingung menentukan sosok guru yang akan diceritakan dalam tulisan. Alhamdulillah, Allah Taala memberikan petunjuk. Mengapa tidak menulis tentang sosok guru inspiratif bagi kita semua, yaitu sang muassis SSCQ, Bunda Lilik Yani?
Doakan penulis, ya, Sahabat, semoga kali ini bisa menang dan membawa pulang hadiah kurban. Semoga tulisan sederhana berjudul "Kurban untuk Sang Muassis SSCQ" ini menjadi ungkapan cinta dan penghargaan kepada sosok guru yang telah menginspirasi banyak orang untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an.
Amin, ya Mujibas-sailin. [Ni/EKD]
Baca juga:
0 Comments: