Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—
اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ
"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat." (QS. An-Naml: 60)
Hari ke-19 di juz 19 ini penulis mencoba mentadaburi kenikmatan berhaji. Dengan mengingat nikmat yang banyak menjadikan kita senantiasa bersyukur. Tidak menjadikan kesedihan sebagai ilah. Tapi menjadikan Allah sebagai ilah atas tercurahnya nikmat yang banyak.
Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat indah dan bisa jadi merupakan penyempurna nikmat Allah pada hamba-Nya. Banyak nikmat yang bisa kita rasakan baik sebelum berangkat, saat menunaikan maupun setelah ibadah itu selesai ditunaikan.
Sebelum berangkat kita mempersiapkan fisik dan hati kita dengan sebaik-baiknya. Kita jaga kesehatan lebih baik dibanding hari-hari biasa, ini tentu saja baik bagi kita. Rasanya semakin dekat dengan Allah. Subhanallah, alangkah nikmatnya. Sejak itu mulai kita mengkaji kembali apa yang sudah rutin kita kerjakan. Mengkaji kembali salat, bacaan Al-Qur’an, menambah hafalan dan doa-doa kita.
Ketika di beribadah di tanah suci Makkah dan Madinah, setiap orang akan merasakan getaran iman yang sangat nikmat, yang diberikan Allah secara khusus bagi yang berhaji. Nikmatnya tawaf, sai, wukuf, menginap di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, salat di Masjidilharam, dan nikmatnya berdoa di tempat makbulnya doa seperti depan Multazam di sumur zamzam, di talang emas Hajar Aswad, Hijr Ismail, di belakang makam Ibrahim, dan sudut-sudut lainnya. Barangkali ada beribu macam kenikmatan yang tak terhitung secara rinci. Sesuai janji Allah bahwa salat di Masjidilharam, pahalanya 100.000 kali lebih besar daripada salat di masjid lain. Kenikmatannya pun tak terkira, bagai berada di surga dunia.
Ketika berada di Masjid Nabawi terasa Rasulullah sangat dekat, ikut menemani kita beribadah setiap saat di masjidnya. Berdoa di makam Rasulullah dan para sahabat, berdoa di Raudah, nikmatnya tak terkira, puas tumpah berdoa di sini.
Berziarah ke Masjid Quba, Qiblatain, Bukit Uhud, pemakaman Baqi, Gua Hira, Gus Tsur, dan tempat-tempat bersejarah lainnya semakin menyadarkan diri bahwa belum berbuat apa-apa bila dibandingkan dengan jasa dan perjuangan Rasullah, para sahabat, tabiin, tabiut tabi'in, generasi terdahulu, dan para ulama sebagai penerus risalah Nabi Muhammad saw.. Selawat serta salam kami haturkan kepadamu, wahai Baginda Rasul kekasih Allah. Allahumma sholli ala Muhammad.
Kenikmatan-kenikmatan di tanah suci akan menjadi pengalaman indah seumur hidup. Orang yang belum pernah ke tanah suci ingin ke tanah suci. Sedangkan yang sudah pernah pergi ke tanah suci akan ingin sekali mengulang lagi pengalaman itu, lagi dan lagi jika Allah mengizinkan. Maka jangan heran jika ada orang yang bolak-balik ke tanah suci karena kenikmatan beribadahnya tak bisa diceritakan hanya dengan kata-kata. Harus dirasakan sendiri. Semoga yang menulis dan membaca tulisan ini diberi kesempatan untuk berhaji, lagi dan lagi. Kabulkanlah doa kami, ya Allah.
Kenikmatan di tanah suci tak akan terlupakan. Meskipun badan capek, hidung meler terus karena flu dan batuk, tapi kenikmatan saat salat di Masjidilharam, Masjid Nabawi, memandang Kabah, saat bertawaf, sai, serta sejuta kenikmatan lainnya akan mengalahkan keluhan-keluhan kita.
Islam mengajarkan bahwa jihad merupakan rekreasinya orang mukmin. Tentu sebagian orang akan mengernyitkan dahi, “Jihad kok disebut rekreasi?” Sebab, rekreasi identik dengan piknik dan bersenang-senang. Namun, hampir semua jemaah membuktikan kebenaran ungkapan tersebut. Haji termasuk salah satu bentuk jihad bagi perempuan. Meski ibadah ini terasa berat, kebahagiaan yang dirasakan jauh lebih besar daripada kewajiban yang dipikul.
Orang kafir dan munafik akan bingung. “Apa enaknya berhaji? Lebih baik bersenang-senang ke tempat wisata dunia,” seloroh mereka. Berhaji harus berdesak-desakan saat tawaf dan melempar jumrah, bahkan ada yang sampai wafat. “Apa yang dicari, wahai kaum muslimin?”
Kenikmatan iman dan Islam itulah yang kami rasakan sebagai kenikmatan tertinggi, yakni hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya ilah yang wajib disembah.
Setelah pulang dari Tanah Suci, kebahagiaan yang diperoleh di sana dibawa pulang dan disiarkan kepada saudara-saudara. Kedamaian yang dirasakan di Tanah Suci pun ikut dibawa, sehingga kita tidak mudah sedih dan gundah dalam menjalani kehidupan.
Selain itu, kontrol sosial juga semakin luas. Orang-orang di sekitar akan menegur ketika kita berbicara dan bertingkah laku tidak mencerminkan sikap yang patut diteladani. Tentu saja hal ini baik bagi kita, bukan menjadi beban, melainkan motivasi untuk senantiasa memperbaiki diri dan berbuat baik.
Bagi yang berkesempatan berhaji, hendaklah selalu introspeksi diri. Apakah cukup puas hanya sampai pada rasa damai penuh kenikmatan saat melakukan manasik haji? Apakah hanya sampai pada rasa haru dan merasakan bahwa Allah begitu dekat? Apakah hanya sampai pada rasa syukur karena dapat berkunjung ke Baitullah dan makam Rasulullah? Tentu saja tidak.
Rasa syukur itu harus diamalkan, dinyatakan, dan diwujudkan dalam karya sehari-hari. Insyaallah, kenikmatan ruhani yang diperoleh selama berhaji dan berumrah dapat hadir pula di mana pun kita berada. Masyarakat luas sangat menantikan realisasi kemabruran bapak-bapak dan ibu-ibu haji.
Edisi Rindu Baitullah. Semoga Ratty S. Leman binti Leman Soewarso beserta keluarga besar dan teman-teman yang membaca tulisan ini diizinkan kembali untuk berhaji dan berumrah, ya Allah.
Mari berdoa dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syu‘ara ayat 83–84:
رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ
“(Ibrahim berdoa), ‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.’”
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.”
Amin ya Mujibassailin.
Bogor, 12 Mei 2026
[Ni/UF]
Baca juga:
0 Comments: