Headlines
Loading...
Seruan Damai Gaza, Akankah Terealisasi?

Seruan Damai Gaza, Akankah Terealisasi?

Oleh: Ummu Fahhala
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Ada kalanya sebuah kata terdengar menenangkan, tetapi menyimpan makna yang mengusik. “Demiliterisasi” adalah salah satunya. Di permukaan, ia tampak seperti ajakan menuju damai.

Namun, ketika ditempatkan dalam konteks Gaza, wilayah yang lama berada dalam pusaran konflik, istilah ini perlu dibaca secara jernih, tidak hanya emosional, tetapi juga rasional dan bernurani.

Sejumlah laporan media menyebut adanya dorongan dari pihak internasional agar Hamas melucuti persenjataannya sebagai bagian dari rencana perdamaian. Respons yang muncul justru penolakan, dengan alasan bahwa langkah tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan perjuangan dan keselamatan masyarakat yang mereka wakili.

Di saat yang sama, seruan agar dunia bertindak atas pelanggaran gencatan senjata terus disuarakan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa serangan terhadap warga sipil masih terjadi, bahkan setelah kesepakatan jeda konflik diumumkan (Inilah.com, 12/04/2026).

Dari sudut pandang intelektual, penting dipahami bahwa istilah “damai” dalam hubungan internasional tidak berdiri di ruang hampa. Ia dipengaruhi oleh kepentingan, posisi tawar, serta narasi yang dibangun oleh pihak-pihak berkekuatan lebih besar. Karena itu, wajar jika publik bertanya: damai seperti apa yang sedang ditawarkan? Apakah damai yang menghadirkan keadilan, atau sekadar ketiadaan perlawanan?

Pandangan Islam

Dalam tradisi Islam, perdamaian bukan sekadar berhentinya konflik, tetapi tegaknya keadilan. Al-Qur’an menegaskan, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah…” (QS. Al-Anfal: 61).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam membuka ruang luas bagi perdamaian. Namun, perdamaian tidak dilepaskan dari prinsip kehati-hatian dan keadilan. Ketika perdamaian justru berpotensi melahirkan kerentanan baru, maka sikap kritis menjadi bagian dari tanggung jawab moral.

Lebih lanjut, Al-Qur’an juga mengingatkan, “Janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8).

Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Bahkan dalam situasi konflik, keadilan tetap menjadi pijakan utama. Membaca situasi Gaza tidak cukup dengan melihat siapa yang kuat dan siapa yang lemah, tetapi bagaimana keadilan ditegakkan atau justru diabaikan.

Di sinilah refleksi menjadi penting. Wacana pelucutan senjata sering diposisikan sebagai solusi universal, seolah semua konflik dapat diselesaikan dengan pendekatan yang sama. Padahal, setiap konflik memiliki akar sejarah, dinamika sosial, dan realitas kemanusiaan yang berbeda. Mengabaikan hal ini justru berisiko melahirkan solusi yang tampak rapi di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik.

Dalam perspektif yang lebih luas, peristiwa di Gaza juga menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu berbentuk fisik. Ada kekuatan narasi, opini, dan cara pandang yang memengaruhi bagaimana dunia memahami suatu konflik. Ketika perlawanan dipersepsikan semata-mata sebagai ancaman tanpa melihat latar belakangnya, di situlah terjadi penyederhanaan realitas yang berbahaya.

Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajak umat untuk tidak bersikap acuh. Bukan dalam arti reaktif tanpa arah, tetapi menghadirkan empati yang cerdas, disertai pemahaman yang mendalam terhadap realitas.

Akhirnya, Gaza bukan sekadar isu politik luar negeri. Ia adalah ujian bagi nurani kemanusiaan dan kedewasaan berpikir. Apakah kita mampu melihat lebih dalam dari sekadar judul berita? Apakah kita berani mempertanyakan narasi yang tampak mapan tanpa terjebak pada sikap ekstrem?

Setiap wacana damai selalu menyisakan pertanyaan tentang keadilan. Dalam setiap konflik, selalu ada manusia dengan harapan, ketakutan, dan hak untuk hidup layak.

Mungkin, di situlah awal perubahan paradigma: ketika kita tidak lagi sekadar menerima, tetapi mulai memahami. [My/PR]

Baca juga:

0 Comments: