Headlines
Loading...

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQMedia.com—Perang narasi dan ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menyuguhkan pelajaran penting yang kerap dilupakan umat: kekuatan sejati tidak selalu terletak pada superioritas militer, tetapi pada keteguhan, keberanian, dan kesatuan.

Sejumlah laporan media menunjukkan bahwa konflik ini tidak berujung pada kemenangan mutlak pihak adidaya. Klaim kemenangan justru datang dari kedua belah pihak, menandakan bahwa dominasi absolut tidak benar-benar terjadi. Iran menilai dirinya mampu menghadapi tekanan besar dari Amerika Serikat dan Israel (Mediaindonesia.com, 10/04/2026). Sementara itu, narasi serupa juga disampaikan pihak Amerika (Kompas.com, 08/04/2026). Realitas ini menegaskan bahwa kekuatan global pun memiliki batas.

Lebih jauh, ketidakmampuan Amerika Serikat memobilisasi sekutunya secara penuh menunjukkan rapuhnya aliansi berbasis kepentingan. Sejarah hubungan internasional membuktikan bahwa tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Hari ini bersekutu, esok bisa berseberangan.

Ironisnya, di tengah dinamika tersebut, sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim justru memilih berdiri di barisan kepentingan asing. Ini bukan sekadar pilihan politik, tetapi cerminan krisis visi kepemimpinan umat. Padahal, Allah Swt. telah berfirman:

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103).

Ayat ini bukan hanya seruan spiritual, tetapi juga prinsip politik dan peradaban. Perpecahan adalah pintu kelemahan, sedangkan persatuan adalah sumber kekuatan.

Dalam konteks ini, keberanian Iran menghadapi tekanan global, terlepas dari berbagai kritik, menjadi sinyal bahwa hegemoni tidaklah absolut. Jika satu negeri saja mampu bertahan, bagaimana jika puluhan negeri Muslim bersatu dalam satu visi?

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa umat Islam sejatinya adalah satu kesatuan, bukan kumpulan entitas yang tercerai-berai oleh batas geografis dan kepentingan politik sempit.

Dari sini, pelajaran strategis menjadi jelas bahwa potensi persatuan negeri-negeri Muslim bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan kebutuhan mendesak. Dunia tengah menyaksikan pergeseran kekuatan global, dan dalam celah itulah umat Islam seharusnya bangkit dengan visi persatuan yang kokoh.

Gagasan tentang institusi pemersatu, yakni khilafah, sering dipersepsikan secara simplistik, bahkan kontroversial. Namun pada esensinya, gagasan ini berbicara tentang kepemimpinan kolektif yang menyatukan potensi umat dalam satu arah strategis untuk melindungi, mengayomi, dan menghadirkan keadilan.

Tentu, gagasan besar ini tidak akan terwujud tanpa langkah nyata yang berakar pada ajaran Islam. Solusi Islam tidak berhenti pada seruan normatif, tetapi menuntut upaya konkret yang bertumpu pada akidah dan tata kelola yang benar. Persatuan bukan sekadar slogan, melainkan harus dibangun di atas kesamaan visi hidup: menjadikan Islam sebagai landasan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan.

Pertama, membangun kesadaran politik umat berbasis akidah. Politik dalam Islam adalah pengaturan urusan umat dengan hukum Allah, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Kesadaran ini akan melahirkan sikap kritis terhadap intervensi asing sekaligus mendorong hadirnya pemimpin yang berpihak pada umat.

Kedua, memperkuat ukhuwah Islamiyah melampaui batas nasionalisme sempit. Nasionalisme berlebihan kerap menjadi sekat pemecah belah. Islam menawarkan persaudaraan lintas ras, suku, dan wilayah. Ketika identitas keislaman menjadi yang utama, solidaritas umat akan tumbuh kokoh.

Ketiga, menguatkan peran ulama dan intelektual dalam membentuk arah berpikir umat. Mereka tidak hanya menjaga nilai agama, tetapi juga menuntun umat membaca realitas. Konsistensi dalam menyuarakan kebenaran akan menjaga umat dari arus propaganda global.

Keempat, membangun kemandirian di bidang ekonomi dan pertahanan. Ketergantungan pada kekuatan asing hanya akan melemahkan posisi umat. Dengan potensi yang dimiliki, negeri-negeri Muslim sejatinya mampu berdiri mandiri tanpa tekanan eksternal.

Akhirnya, solusi Islam menuntut hadirnya kepemimpinan yang menyatukan visi dan langkah umat dalam satu arah yang jelas. Kepemimpinan ini bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan pelayan umat yang memastikan setiap kebijakan berpijak pada syariat.

Tanpa persatuan, negeri-negeri Muslim akan terus menjadi arena perebutan pengaruh. Namun, dengan persatuan yang dibangun di atas iman dan aturan yang benar, umat Islam berpotensi menjadi kekuatan yang tidak hanya bertahan, tetapi juga menentukan arah peradaban dunia.

Pada titik ini, konflik global hari ini bukan sekadar soal siapa menang dan kalah. Ia adalah cermin besar yang memperlihatkan umat yang terpecah, rentan diintervensi, namun sekaligus menyimpan potensi luar biasa jika kembali bersatu dalam satu barisan. [My/PR]

Baca juga:

0 Comments: