Headlines
Loading...
Pelajar Jadi Pengedar Sabu: Buah Sistem Sekuler

Pelajar Jadi Pengedar Sabu: Buah Sistem Sekuler

Oleh: Vita Sari, A.Md.Ak.
(Pemerhati Sosial dan Politik, Deli Serdang)

SSCQMedia.com—Miris. Kasus pelajar yang terlibat sebagai pengedar narkoba kembali terulang. Generasi muda yang seharusnya menjadi harapan masa depan bangsa justru terjerumus dalam lingkaran gelap yang merusak, sehingga harapan itu kian memudar.

Dilansir dari RRI.co.id, Banjarbaru—Polda Kalimantan Selatan kembali mengungkap peredaran narkotika dalam jumlah besar dengan menyita sabu seberat 43,8 kilogram. Dua tersangka berinisial AS dan RH berhasil diamankan dalam operasi yang digelar di kawasan Banjarmasin Utara. Salah satu tersangka, AS, diketahui masih berstatus pelajar, sementara rekannya, RH, merupakan wiraswasta asal Lampung Selatan.

Kapolda Kalsel, Rosyanto Yudha Hermawan, mengungkapkan bahwa keduanya merupakan bagian dari jaringan narkotika lintas provinsi dan diduga terafiliasi dengan jaringan gembong narkoba Fredy Pratama. “Indikasinya terlihat dari karakteristik kemasan barang bukti yang mereka bawa,” ujarnya dalam konferensi pers di Mapolda Kalsel, Senin (13 April 2026).

Berulangnya kasus pelajar yang terlibat narkoba menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar. Ini bukan sekadar kegagalan individu dalam menjaga diri, melainkan juga kegagalan sistem dalam membentuk kepribadian generasi.

Hari ini, banyak generasi muda hidup dalam kondisi yang penuh tekanan—baik mental, sosial, psikologis, maupun ekonomi—yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai agama. Mereka disibukkan dengan aktivitas yang sia-sia dan terjerumus dalam kemaksiatan. Orientasi hidup pun bergeser, sekadar mengejar kenikmatan duniawi yang semu.

Fenomena ini menjadi bukti dampak penerapan sistem hidup sekuler yang melahirkan nilai-nilai yang keliru di tengah masyarakat. Kebebasan yang diagungkan justru menjadi racun yang mematikan. Ketika agama tidak dijadikan standar dalam bertindak, maka hawa nafsulah yang mengambil peran sebagai penentu. Sistem ini pada akhirnya merusak dan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan manusia.

Di sisi lain, sistem pendidikan yang berlandaskan sekularisme turut membumikan nilai kebebasan tanpa batas. Pelajar menjalani pendidikan bukan lagi sebagai proses menuntut ilmu secara hakiki, melainkan sekadar formalitas. Lingkungan pergaulan yang tidak sehat pun semakin mendorong mereka terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba.

Selain itu, lemahnya penegakan hukum yang tidak tegas dan tidak menimbulkan efek jera menyebabkan peredaran narkoba terus berulang. Para pelaku, termasuk pelajar, tidak merasa takut karena sanksi yang diberikan belum cukup kuat untuk mencegah. Bahkan, dalam banyak kasus, akar jaringan narkoba belum tersentuh secara tuntas.

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dalam menjaga generasi. Sistem pendidikan dalam Islam berbasis akidah, yang mampu membentuk kepribadian Islami—generasi yang bertakwa serta memahami batasan halal dan haram. Dengan demikian, mereka memiliki benteng diri yang kuat untuk menjauhi perbuatan haram, termasuk menjadi pengedar narkoba.

Dalam aspek hukum, Islam menetapkan sanksi yang tegas dan memberikan efek jera. Sanksi tidak hanya ditujukan kepada pengguna atau pengedar kecil, tetapi juga kepada bandar besar sebagai aktor utama. Penerapan hukum dalam Islam tidak semata-mata bertujuan menghukum, tetapi juga sebagai pencegah (zawajir) agar masyarakat tidak berani melakukan pelanggaran serupa. Dengan penegakan hukum yang adil dan tegas, rantai peredaran narkoba dapat diputus secara efektif.

Sudah saatnya sistem sekularisme yang rusak dan merusak ditinggalkan, dan digantikan dengan sistem Islam. Hanya dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh, potret buram generasi muda dapat berubah menjadi generasi emas yang membangun masa depan bangsa.

Wallahualam bissawab. [Rn/HM]

Baca juga:

0 Comments: